'Dihajar' Sentimen Negatif, Harga Minyak Anjlok 8% Sepekan

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
22 August 2021 11:55
PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) yang merupakan bagian dari Regional Jawa Subholding Upstream berhasil menyelesaikan pengeboran Sumur Eksplorasi Fanny-2 dengan status sebagai sumur penemu minyak dan gas bumi (Oil and Gas Discovery).

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia 'terjun bebas' dalam sepekan di tengah banyak sentimen negatif yang membayangi.

Menurut data Refinitiv, dalam sepekan harga kontrak berjangka (futures) minyak Brent anjlok 7,66% ke US$ 65,18/barel. Sementara, harga minyak jenis light sweet (WTI) ambles 8,94% ke posisi US$ 62,32/barel. Harga kedua jenis minyak ini selalu turun sejak Kamis (12/8) minggu lalu.

Sementara, dalam sebulan harga minyak Brent merosot 5,01%, sedangkan harga minyak WTI turun 6,17%.


Pelemahan harga minyak akhir-akhir ini terjadi seiring penyebaran virus Covid-19 varian delta yang masih mengganas, yang membuat berbagai negara masih berhati-hati dan memilih membatasi aktivitas masyarakat. Ini tentu berakibat pada penurunan permintaan energi.

"Laju vaksinasi anti-virus corona yang relatif rendah di Asia serta tingginya risiko penyebaran virus di lingkungan komunitas membuat wilayah ini rentan akan penyebaran virus corona varian delta," kata Bruce Kasman, Ekonom JPMorgan, seperti dikutip dari Reuters.

Perlambatan laju ekonomi akibat pandemi virus corona yang kembali mengganas membuat prospek permintaan energi menjadi samar-samar. Ini yang membuat investor belum berani untuk memborong kontrak minyak.

"Kami masih melihat harga minyak jenis light sweet akan bergerak menuju titik support di US$ 65/barel. Penembusan di titik ini akan membawa harga turun lebih lanjut dan menunjukkan kekhawatiran pasar karena pandemi virus corona, terutama penyebaran varian delta, akan menyebabkan lockdown di mana-mana," terang Craig Erlam, Market Analyst OANDA, seperti dikutip dari Reuters.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa virus corona varian delta akan lebih mudah menyerang di wilayah dengan tingkat vaksinasi rendah. Oleh karena itu, Direktur WHO mendesak akan Johnson & Johnson, salah satu perusahaan penyedia vaksin anti-virus corona, memprioritaskan distribusi ke wilayah dengan tingkat vaksinasi rendah, misalnya Afrika.

"Virus corona varian delta menyebar di wilayah dengan vaksinasi rendah. Selain itu, virus juga menyebar di lokasi dengan kesadaran sosial dan fasilitas kesehatan yang minim," kata Maria Von Kerkhove, Epidemiolog WHO, sebagaimana diwartakan Reuters.

Soumnya Swaminathan, Kepala Peneliti WHO, menyatakan vaksinasi akan berperang sangat penting dalam perjuangan melawan pandemi. Vaksin akan mengurangi risiko gejala berat bahkan kematian akibat virus corona varian delta.

Kemudian selama sepekan ini investor juga menyoroti perkembangan di Afganistan. Cengkeraman Taliban semakin kuat, kelompok tersebut kini sudah menguasai ibu kota Kabul. Negara-negara barat mulai mengevakuasi warganya dari negara tersebut.

Bahkan, pada waktu itu, Presiden Ashraf Ghani juga sudah meninggalkan Afganistan dengan harapan menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak. Juru bicara Taliban menegaskan bahwa pertempuran sudah selesai dan rakyat Afganistan sebaiknya bersiap untuk menyambut rezim pemerintahan baru.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading