Roundup

Covid-19 Delta di AS 'Meledak', Waspada Rupiah!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 August 2021 07:50
Karyawan menunjukkan pecahan uang dollar di salah satu tempat penukaran uang di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jumat (16/3/2018). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia -Kurs rupiah tertahan di zona merah hampir sepanjang perdagangan Rabu kemarin (18/8/2021), namun akhirnya mampu bangkit di akhir perdagangan dan berakhir stagnan melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Stagnannya rupiah bisa dikatakan cukup bagus pada pada perdagangan Rabu kemarin usai libur Selasa 17 Agustus HUT Kemerdekaan, sebab dolar AS sedang kuat-kuatnya.


Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.370/US$, tetapi beberapa menit kemudian sudah melemah 0,17% di Rp 14.395/US$. Level tersebut menjadi yang terlemah pada perdagangan kemarin.

Rupiah perlahan mampu bangkit di menit-menit akhir, hingga menutup perdagangan kemarin di level Rp 14.370/US$, alias stagnan.

Lonjakan kasus corona varian delta di Amerika Serikat membuat pelaku pasar sedang keluar dari aset-aset berisiko dan beralih ke dolar AS.

Rata-rata kasus dalam 7 hari hingga awal pekan ini sebanyak 133.068 kasus dari total penduduk AS, menjadi yang tertinggi sejak 3 Februari lalu. Jika dilihat dari rata-rata pertengahan Juni lalu sekitar 12.000 kasus, artinya mengalami kenaikan sekitar 1000%.

idrFoto: Refinitiv
idr

"Kita berada di pertengahan musim panas, orang-orang mulai berkumpul, mereka dalam kelompok yang besar. Vaksin telah membuat mereka merasa aman, dan mereka lupa dengan protokol kesehatan," kata dr. Perkin Halkitis, dekan di Rutgers School of Public Health, dalam wawancara bersama CNBC International, dikutip Kamis (19/8).

Ngerinya lonjakan kasus tersebut membuat pelaku pasar melihat risiko pelambatan ekonomi di AS semakin meningkat, bahkan China juga sudah mengalaminya.

Alhasil, pelaku pasar mengalihkan investasinya ke aset aman (safe haven) kali ini dolar AS menjadi pilihan.

Dolar AS juga didukung oleh situasi di kekacauan yang terjadi di Afganistan.

"Konsumen AS berhati-hati melihat lonjakan corona delta, dikombinasikan dengan pelambatan ekonomi China serta gejolak politik di Afganistan, membuat investor keluar dari aset berisiko dan beralih ke dolar AS," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto, dikutip CNBC International.

 



NEXT: Jadi Safe Haven, Dolar AS Diburu

Kapan Tapering The Fed?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading