Polling CNBC Indonesia

Jaga Rupiah dari Amukan Dolar, BI Diramal Tahan Bunga Acuan

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
18 August 2021 06:41
FILE PHOTO: An Indonesian Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Stabilitas rupiah akan menjadi perhatian utama MH Thamrin di tengah isu pengetatan kebijakan moneter alias tapering off oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) yang semakin santer.

Gubernur Perry Warjiyo dan sejawat menggelar RDG pada 18-19 Agustus 2021. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan bertahan di 3,5%.

Seluruh institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus memperkirakan suku bunga acuan bertahan. Semua sepakat bulat, aklamasi, tiada dissenting opinion.


Institusi

BI 7 Day Reverse Repo Rate (%)

Bank Danamon

3.5

DBS

3.5

CIMBNiaga

3.5

ING

3.5

Bank Mandiri

3.5

Maybank Indonesia

3.5

BNI Sekuritas

3.5

Mirae Asset

3.5

BCA

3.5

Standard Chartered

3.5

MNC Sekuritas

3.5

Kali terakhir BI mengubah suku bunga acuan adalah Februari 2021, kala itu BI 7 Day Reverse Repo Rate diturunkan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%, terendah sepanjang sejarah. Sejak saat itu, suku bunga acuan belum 'diutak-atik' lagi.

Anthony Kevin, Ekonom Mirae Asset, menilai sejatinya ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut. Pertama, laju inflasi domestik masih lambat.

Per Juli 2021, inflasi Indonesia tercatat 1,52% year-on-year (yoy). Memang terakselerasi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,33% yoy, tetapi masih jauh di bawah tren sebelum pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

inflasi

Kedua, perlambatan ekonomi Tanah Air semakin terasa akibat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang lebih ketat sejak awal bulan lalu. Teranyar, BI memperkirakan penjualan ritel pada Juli 2021 mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif 6,2% yoy.

"Kami memperkirakan tekanan terhadap daya beli masyarakat masih akan kuat, dan tidak ada katalis yang signifikan untuk mengangkat daya beli seperti Tunjangan Hari Raya (THR) yang sudah diberikan pada kuartal II-2021. Keputusan untuk memperpanjang PPKM akan tetap membuat aktivitas ekonomi lesu sepanjang kuartal ini," tulis Kevin dalam risetnya.

Oleh karena itu, tentu dibutuhkan 'rangsangan' untuk menopang gairah perekonomian nasional yang lesu akibat PPKM. Selain stimulus fiskal dari pemerintah, bank sentral bisa memberikannya melalui penurunan suku bunga acuan.

Halaman Selanjutnya --> Dolar AS Siap Melesat

Dolar AS Siap Melesat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading