Mata Uang Asia Tak Kuat Lawan Dolar AS, Won Korsel Ambruk

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
17 August 2021 16:36
Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia terpantau melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (17/8/2021). Di tengah pelemahan mata uang Benua Kuning, perdagangan rupiah tidak dibuka pada hari ini karena sedang libur nasional memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-76.

Berdasarkan data pasar pukul 14:20 WIB, hanya yen Jepang, peso Filipina, dan baht Thailand yang menang melawan sang greenback (dolar AS) pada hari ini.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang Benua Kuning pada perdagangan hari ini:


Nilai TukarKurs TerakhirPerubahan Harian (%)
USD/CNY6,48440,16%
USD/HKD7,78980,07%
USD/IDR14.3700,00%
USD/INR74,30500,20%
USD/JPY109,14-0,08%
USD/KRW1.176,270,94%
USD/MYR4,23850,08%
USD/PHP50,48-0,34%
USD/SGD1,35950,29%
USD/THB33,39-0,06%
USD/TWD27,8650,12%

Pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS terjadi karena data ekonomi China yang lebih lemah dari perkiraan pasar sebelumnya dan masih meningkatnya kasus virus corona (Covid-19) di beberapa negara di kawasan tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran atas prospek pertumbuhan ekonomi.

China, negara dengan ekonomi terbesar di kawasan tersebut mencatat perlambatan pertumbuhan penjualan ritel Juli dan produksi industri pada periode bulan lalu akibat masih tingginya kasus akibat penyebaran wabah Covid-19 varian Delta baru, pembatasan wilayah (lockdown), dan banjir lokal yang dapat mengganggu operasi bisnis.

"Varian Delta yang sangat menular, yang menyebabkan a kebangkitan kasus lokal pada akhir Juli, juga menimbulkan risiko penurunan aktivitas ekonomi di Triwulan ke-3 meskipun terjadi penurunan kasus harian selama beberapa hari terakhir," kata analis di ANZ dalam sebuah catatan, dikutip dari Reuters.

Walaupun mata uang Benua Kuning secara mayoritas mengalami pelemahan terhadap greenback, namun dolar Negeri Paman Sam masih cenderung sedang mengalami tekanan, sebab akibat merosotnya sentimen konsumen AS.

University of Michigan (UoM) pada hari Jumat (13/8/2021) pekan lalu melaporkan indeks sentimen konsumen bulan Agustus anjlok hingga ke level 70,2 dari bulan sebelumnya 81,2. Level tersebut bahkan lebih rendah dari saat pandemi 71,8 pada April 2020 lalu.

Angka indeks sebesar 70,2 tersebut merupakan yang terendah sejak 2011. Selain itu, penurunan tajam indeks ini dikatakan sangat jarang terjadi.

"Selama setengah abad, indeks sentimen konsumen hanya mencatat 6 kali penurunan tajam, semuanya terjadi akibat perubahan kondisi ekonomi secara tiba-tiba," kata Richard Curtin, kepala ekonom di UoM, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (13/8/2021).

Selain bulan ini, dua penurunan terbesar terjadi pada April 2020, dan Oktober 2008 saat krisis finansial global.

Jebloknya indeks sentimen konsumen terjadi akibat kembali menanjaknya kasus Covid-19 khususnya varian Delta. Tetapi kabar baiknya, ketika penyebaran corona Delta bisa diredam lagi, maka indeks sentimen konsumen akan cepat berbalik naik.

"Konsumen melihat alasan yang tepat jika perekonomian akan melambat beberapa bulan ke depan. Tetapi jebloknya sentimen konsumen yang tajam juga dipengaruhi faktor emosional, dimana harapan pandemi akan berakhir dalam waktu dekat belum bisa tercapai," kata Curtin.

"Dalam beberapa bulan ke depan, konsumen kemungkinan akan melihat dengan lebih rasional, dan jika corona delta bisa diredam, maka mereka akan semakin optimis," tambahnya.

Selain itu, pelaku pasar juga menanti kejelasan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) atau tapering, yang bisa jadi akan semakin jelas timeline-nya di pekan ini, sebab bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan merilis notula rapat kebijakan moneter edisi Juli.

Dalam notula tersebut akan tersaji detail sejauh mana pembahasan tapering dilakukan. Jika ada sinyal tapering akan dilakukan di tahun ini maka dolar AS akan perkasa dan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah akan tertekan.

Sebaliknya, jika tapering baru akan dilakukan tahun depan, maka mata uang emerging market (negara berkembang) berpeluang menguat di pekan ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mata Uang Asia Mayoritas Kalah Dengan Dolar AS Hari Ini


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading