Isu Tapering Kembali Mencuat, Aksi 'Buang' Dolar di Asia Reda

Market - adf, CNBC Indonesia
11 August 2021 10:35
Ilustrasi Yuan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia bergerak variatif dengan kecenderungan menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (11/8/2021). Rupiah sendiri 'tidak bertanding' lantaran pasar keuangan RI libur, karena keputusan cuti bersama pemerintah memperingati Tahun Baru Islam.

Isu tapering (pengurangan pembelian aset oleh bank sentral AS, The Fed) masih membayangi pergerakan mata uang Benua Kuning akhir-akhir ini.

Menurut data Refinitiv per pukul 09.58 WIB, Mata uang Baht Thailand menjadi yang paling menguat di hadapan dolar AS, yakni sebesar 0,24%, kemudian diikuti oleh Yuan China yang naik tipis 0,07%. Sementara, ringgit Malaysia menjadi yang paling melemah, yakni sebesar 0,14%, diikuti oleh Won Korea sebesar 0,08%.


Dolar AS vs Mata Uang Utama Asia

Mata Uang

Kurs Terakhir

Perubahan (%)

USD/CNY

6.4804

-0.07%

USD/IDR

14380

-

USD/INR

74.4150

-0.02%

USD/JPY

110.64

+0.07%

USD/KRW

1,153.57

+0.08%

USD/MYR

4.2320

+0.14%

USD/PHP

50.390

-0.02%

USD/SGD

1.3581

-0.08%

USD/THB

33.37

-0.24%

USD/TWD

27.832

-0.06%

Kemarin nilai tukar rupiah membukukan pelemahan 4 hari beruntun melawan dolar AS. Tetapi pelemahan rupiah di pekan ini masih tipis-tipis saja.

Di akhir perdagangan, rupiah berada di Rp 14.380/US$, melemah 0,14% di pasar spot. Sementara pada Senin, Mata Uang Garuda melemah 0,07%.

Pelemahan rupiah ini lantaran dolar AS yang masih kuat ditopang spekulasi tapering atau pengurangan program pembelian aset (quantitative easing/QE) di tahun ini oleh bank sentra AS (The Fed).

Wakil ketua The Fed, Richard Clarida, pada pekan lalu mengindikasikan tapering bisa dilakukan di tahun ini, dan suku bunga akan dinaikkan pada awal 2023.

"Anda duduk di sini dan melihat inflasi sudah jauh di atas target dan pasar ketenagakerjaan terus membaik menuju level pra-pandemi. Menurut saya, ini terdengar seperti kami harus bersiap (melakukan tapering)," kata Richard Clarida, Wakil Ketua The Fed, dala wawancara bersama Washington Post.

Sejak saat itu, rupiah terus mengalami pelemahan hingga 4 hari berturut-turut.

Pernyataan Clarida kemudian didukung rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan perbaikan lebih lanjut. Departemen Tenaga Kerja AS Jumat lalu melaporkan sepanjang bulan Juli perekonomian AS mampu menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) sebanyak 943.000 orang, lebih tinggi dari hasil polling Reuters 880.000 orang.

Sementara tingkat pengangguran juga turun menjadi 5,4% dari bulan Juni 5,9%, dan lebih tajam dari prediksi 5,7%. Selain itu, rata-rata upah per jam juga mencatat pertumbuhan 0,4% dari bulan sebelumnya.

Kemarin, giliran Presiden The Fed Atalanta, Raphael Bostic mengatakan ia melihat kemungkinan tapering dilakukan di kuartal IV-2020 atau sekitar bulan Oktober-Desember.

Tetapi Bostic juga tidak menutup kemungkinan tapering terjadi lebih cepat jika data tenaga kerja AS menunjukkan kemajuan seperti di bulan Juli yang berkelanjutan.

Meski demikian, dolar AS juga masih belum mampu melaju kencang, sebab kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) kembali menanjak di Amerika Serikat.

Penambahan kasus harian dan tingkat keterisian rumah sakit di AS kini naik ke level tertinggi dalam 6 bulan terakhir. Virus corona varian delta menjadi pemicu peningkatan tersebut.

Alhasil, laju kenaikan dolar AS tidak sebesar Kamis lalu, dan melemah tipis-tipis di pekan ini.

"Pasar sedang melihat dua hal, pasar tenaga kerja yang membaik, dan kenaikan virus corona varian delta," kata Adam Button, kepala analis valuta asing di Forexlive di Toronto, sebagaimana dilansirCNBC International, Senin (9/8/2021).

"Saya akan mengatakan pasar kin menahan diri dan melihat seberapa cepat corona delta mampu diredam," tambahnya.

Kabar terbaru, Senat AS baru saja meloloskan paket infrastruktur besar-besaran senilai US$1 triliun, yang semakin menambah optimisme seputar greenback.

Untuk saat ini, investor menunggu data laju inflasi inti dan laju inflasi AS mengukur sentimen pasar.

Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat prospek tapering Fed awal, yang dapat meningkatkan daya tarik dolar AS sebagai investasi yang menarik bagi investor.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mata Uang Asia Mayoritas Kalah Dengan Dolar AS Hari Ini


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading