Internasional

Biden Desak OPEC+ Genjot Produksi Minyak, Ini Gara-garanya!

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
11 August 2021 22:10
Joe Biden (AP/Patrick Semansky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) akan segera meminta organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya (OPEC+) untuk meningkatkan produksi minyak dan mencegah kenaikan harga bahan bakar (bensin) dan gas.

Hal ini dilakukan di tengah kekhawatiran kenaikan inflasi dapat menggagalkan pemulihan ekonomi global dari Covid-19.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengatakan keputusan OPEC+ yang secara bertahap meningkatkan produksi tidak cukup efektif untuk bangkit dari momen kritis pemulihan global.


OPEC+ adalah 13 negara anggota OPEC ditambah Rusia dan produsen minyak lainnya selain OPEC.

"Kami bicara dengan anggota OPEC+ yang berpengaruh tentang pentingnya pasar yang kompetitif dalam menetapkan harga," kata Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan dalam pernyataan dikutip dari CNBC International, Rabu (11/8/2021).

"Pasar energi yang kompetitif akan memastikan pasokan energi yang anda dan stabil, OPEC harus berbuat lebih banyak dalam mendukung pemulihan ekonomi [global]," tambahnya.

Tahun ini harga gas telah melonjak naik karena permintaan untuk minyak mentah kembali naik. Rata-rata harga gas mencapai US$ 3,186/MMBTU pada Selasa kemarin (10/8), dibandingkan level pada Juli lalu di posisi US$ 3,143/MMBTU.

Sedangkan selama satu tahun harga gas telah naik lebih dari US$ 1/MMBTU.

"Presiden Biden menyadari harga gas dapat menekan anggaran bagi anggota keluarga," kata seorang pejabat senior Gedung Putih.

"Dia ingin pemerintahannya menggunakan alat apapun untuk mengatasi harga gas dan membantu menurunkan harga."

Lonjakan harga gas terjadi di tengah rebound harga minyak. Pada April 2020, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak AS, turun ke level negatif untuk pertama kalinya dalam catatan akibat pandemi yang melemahkan permintaan untuk produk minyak bumi.

OPEC+ pun membuat keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada April 2020, yakni memangkas hampir 10 juta barel per hari dari pasar. Hal ini dilakukan dalam upaya mendukung harga, sementara produsen AS juga mengurangi produksi.

Pemotongan pasokan ini, ditambah dengan pemulihan permintaan, telah mendorong harga minyak WTI kembali di atas US$70 per barel, meskipun kontrak telah sedikit mundur dari level itu dalam beberapa sesi terakhir.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading