Saham Kena ARB 7%, Ada Apa dengan Bukalapak Hari Ini?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
10 August 2021 10:58
CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin dan Komisaris Utama Bambang Brodjonegoro, dok Bukalapak, IPO 6 Agustus 2021

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten startup e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7% pada perdagangan pagi ini, Selasa (10/8/2021), pascadebut di bursa pada Jumat (6/8) pekan lalu.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah sempat menghijau ke Rp 1.130/saham pada saat bel pembukaan berbunyi, beberapa menit kemudian (per pukul 09.05 WIB) saham BUKA terjun 4,95% ke posisi Rp 1.055/saham.

Adapun sejak sekitar 09.30 WIB, saham BUKA menyentuh batas ARB dengan ambles 6,76% ke Rp 1.035/saham.


Seperti pada dua hari perdagangan sebelumnya, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) terhadap saham BUKA dengan nilai Rp 121,34 miliar di pasar reguler, terbesar di bursa pagi ini.

Adapun asing juga melakukan aksi net sell di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 9,57 miliar.

Dengan ini, sejak hari pertama di bursa, asing sudah melego saham BUKA sebesar Rp 997,46 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp 98,80 miliar di pasar nego dan tunai.

Nilai transaksi saham BUKA juga menjadi yang tertinggi di BEI, yakni mencapai Rp 1,01 triliun. Adapun nilai kapitalisasi pasar (market cap) BUKA menjadi Rp 106,67triliun pagi ini.

Senin (9/8) kemarin, setelah sempat menyentuh auto rejection atas (ARA) 25% pada sesi I, saham BUKA perlahan melorot seiring aksi net sell asing mencapai Rp 492 miliar pada pukul 14.10 WIB. Pada akhir perdagangan kemarin, saham BUKA ditutup 'hanya naik' 4,72%.

Praktis, saham BUKA baru sekali menyentuh batas kenaikan tertinggi alias auto rejection atas (ARA) 25% pada hari pertama melantai di bursa.

Tidak seperti dua hari sebelumnya, antrean beli saham BUKA lapak tidak lagi mencapai jutaan lot pagi ini. Antrean beli tertinggi tercatat di harga Rp 1.035/saham dengan jumlah 693.159 lot per pukul 09.05 WIB pagi tadi.

Meski demikian, ada kabar baik. Dana abadi negara atau Sovereign Wealth Fund asal Singapura GIC Private Limited melakukan pembelian sahamBUKA sebanyak 1.600.797.400 atau setara dengan 1,553% modal disetor dan ditempatkan Bukalapak.

Total nilai transaksi ini mencapai Rp 1,36 triliun di harga Rp 850/saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, transaksi ini dilakukan pada 5 Agustus 2021 lalu, alias sehari sebelum Bukalapak listing atau mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) pada Jumat (6/8).

Sebagai informasi, dengan melantai di bursa, BUKA meraup dana IPO mencapai Rp 22 triliun, terbesar sepanjang sejarah BEI.

Berdasarkan data resmi BEI, jumlah saham BUKA yang dicatatkan 103.062.019.354 saham, terdiri dari saham pendiri 77.296.514.554 saham dan penawaran umum 25.765.504.800 saham.

Untuk jumlah saham penawaran umum itu setara dengan 25,0% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO dengan harga perdana Rp 850/saham.

Harga penawaran ditetapkan di angka penawaran tertinggi Rp 850/unit, dengan begitu total dana yang diraup mencapai Rp 21,9 triliun,

Berdasarkan prospektus IPO, seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham, akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan sebanyak sekitar 66%, sementara sisanya akan digunakan untuk modal kerja entitas anak.

Entitas anak yang dimaksud yakni sekitar 15% dialokasikan kepada PT Buka Mitra Indonesia (BMI), 15% dialokasikan kepada PT Buka Usaha Indonesia (BUI), sekitar 1% dialokasikan kepada PT Buka Investasi Bersama (BIB), sekitar 1% dialokasikan kepada PT Buka Pengadaan Indonesia (BPI), sekitar 1% kepada Bukalapak Pte. Ltd. (BLSG) dan sekitar 1% dialokasikan kepada PT Five Jack (Five Jack Indonesia).

Dalam IPO ini, penjamin pelaksana emisi efek BUKA yakni PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas.

Sementara itu penjamin emisi efek yakni ada 19 sekuritas terdiri dari PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, dan PT Investindo Nusantara Sekuritas.

Lalu, ada PT Lotus Andalan Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Panin Sekuritas Tbk, PT Philip Sekuritas Indonesia, PT Samuel Sekuritas Indonesia, dan PT Sinarmas Sekuritas. Lainnya ada PT Sucor Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT UBS Sekuritas Indonesia, PT Valbury Sekuritas Indonesia, PT Victoria Sekuritas Indonesia, PT Wanteg Sekuritas, dan PT Yuanta Sekuritas Indonesia.

Selain itu, perseroan akan mengalokasikan sebesar 0,05% dari saham yang ditawarkan pada saat IPO untuk program alokasi saham kepada karyawan (Employee Stock Allocation/ESA) atau sebanyak 14.027.500, dengan harga pelaksanaan ESA yang sama dengan Harga Penawaran IPO.

Perseroan akan menerbitkan opsi saham untuk program MESOP (Management Employee Stock Option Program) sebanyak-banyaknya 4,91% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan setelah pelaksanaan IPO ini atau sebanyak-banyaknya 5.060.345.150 saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ritel Kudu Gimana Nih? Saham Bukalapak Kena ARB Lagi


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading