Analisis

Dibeking BUKA-DCII, Ini Bukti Indeks Techno di BEI Timpang!

Market - Putra, CNBC Indonesia
10 August 2021 09:40
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia- Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dari 11 indeks sektoral yang baru diperbaharui pada 25 Januari 2021, indeks yang berisi saham-saham teknologi atau IDXTECHNO mencatat penguatan tertinggi.

Tercatat IDXTECHNO sejak awal tahun indeksnya berhasil melesat 966% jauh lebih tinggi dibandingkan indeks sektoral Transportasi & Logistik di posisi kedua yang 'hanya' mampu naik 14,15%.

Sebagai pembanding, sejak tahun berjalan, indeks acuan pasar modal lokal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya mampu hijau 2,48%, bahkan imdeks acuan prestisius LQ45 yang memiliki konstituen saham-saham likuid dan memiliki prospek pertumbuhan yang oke harus rela ambruk 13,24% pada periode yang sama.


Melesatnya indeks Techno tentu tak terlepas dari fenomenalnya salah satu saham yang menjadi anggota indeks ini, sebut saja nama-nama seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII) milik Otto Sugiri dan Anthoni Salim yang sukses terbang tinggi dari harga penawaran IPO (penawaran umum saham perdana/initial public offering) Rp 420/unit menjadi Rp 59.000/unit atau kenaikan 14.047%.

Apresiasi secara tiba-tiba ini menyebabkan DCII langsung tercatat sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar ke 10 di BEI dengan market cap yang naik dari Rp 1 triliun menjadi Rp 140 triliun.

Selain DCII, saham-saham teknologi lain juga ikut menguat beramai-ramai sebut saja perusahaan Otto Sugiri lainya yakni PT Indointernet Tbk (EDGE) serta saham-saham grup Kresna seperti PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DIVA), PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA), hingga PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang seluruhnya melantai di indeks sektoral teknologi.

Selanjutnya PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan induk Kresna Group PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) yang keduanya sejak awal tahun sudah terbang tinggi, melihat kenaikan indeks sektoral teknologi sebagai peluang dan mengajukan perpindahan pencatatan ke indeks sektoral teknologi ini.

Terbaru melantainya perusahaan e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) di indeks sektoral ini lagi-lagi melesatkan kapitalisasi pasarnya. Hal ini mengingat BUKA sudah mulai melantai dengan kapitalisasi pasar jumbo dan sukses menghijau selama 2 hari perdagangan sehingga kapitalisasi pasarnya terus naik menjadi Rp 114 triliun saat ini.

Hal-hal inilah yang menyebabkan kapitalisasi pasar indeks teknologi yang tadinya hanya 0,56% dibandingkan dengan IHSG semakin tumbuh menjadi 6,6% dengan total kapitalisasi pasar indeks teknologi sebesar Rp 493 triliun.

Meskipun terus terbang, indeks sektoral teknologi menyimpan permasalahanya sendiri yakni masalah ketimpangan. Indeks sektoral ini tergolong sepi di mana konstituen indeks ini hanya terdiri dari 24 emiten.

Parahnya mayoritas kapitalisasi pasar indeks ini disumbangkan oleh tiga besar saham indeks tech pertama yakni EMTK dengan market cap Rp 148 triliun, kedua DCII dengan kapitalisasi pasar Rp 140 triliun, dan terakhir BUKA yang saat ini berkapitalisasi pasar Rp 114 triliun.

Bayangkan saja ketiga emiten tersebut memiliki total kapitalisasi pasar Rp 402 triliun atau 81,54% dari kapitalisasi pasar indeks Teknologi.

Apabila ditambah DMMX di posisi keempat yang berkapitalisasi pasar Rp 24 triliun maka presentase ini akan naik menjadi 86,6%. Hal inilah yang menyebabkan gerak indeks ini akan sangat bergantung terhadap segelintir saham ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Asing Jualan Rp 2 T, Saham Bukalapak 2 Hari 'Kejang' & ARB!


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading