Newsletter

Angin Segar dari Ekonomi AS, Akankah Menular ke yang Lain?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
30 July 2021 06:43
People walk by a Wall Street sign close to the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 2, 2018. REUTERS/Shannon Stapleton

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham dan mata uang menguat pada perdagangan Kamis (29/7/2021), sementara obligasi diburu yang mengindikasikan masih ada risiko ekonomi yang diantisipasi pasar. Hari ini, angin segar berhembus dari Amerika Serikat (AS).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan dengan apresiasi 0,53% (32,2 poin) ke 6.120,727. Investor memanfaatkan eforia di bursa Asia untuk mengoleksi saham yang sudah tertekan, dan menafikan temuan virus Covid-19 varian Delta plus di Tanah Air.


Seluruh bursa utama Asia memang menguat kemarin, dipimpin indeks Hang Seng Hongkong dengan reli sebesar 3,3%, disusul indeks bursa Shenzen yang menguat 3%. Keduanya terkoreksi parah dalam perdagangan dua hari sebelumnya akibat pengetatan kebijakan pemerintah China terhadap perusahaan digital yang tercatat di bursa luar negeri.

Data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi sebesar Rp 13,3 triliun dengan 22,7 miliar saham berpindah tangan sebanyak 1,47 juta kali. Investor asing mencetak pembelian bersih (net buy) senilai Rp 65,1 miliar di pasar reguler.

Saham unggulan yang pada perdagangan Rabu tertekan, kemarin berbalik menguat, terutama saham-saham bank buku IV. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak nilai transaksi yang terbesar, yakni mencapai Rp 510 miliar dalam sehari kemarin.

Di pasar uang, rupiah bertengger di jalur hijau, di tengah tren koreksi dolar Amerika Serikat (AS) secara global, di mana indeks dolar AS sempat jeblok 0,27% ke 92,077.

Tekanan atas Greenback terjadi setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuan dan tak memberikan kepastian mengenai kapan dimulainya kebijakan tapering (pengurangan pembelian surat berharga di pasar).

Melansir data Refinitiv, rupiah yang dibuka menguat 0,03% di Rp 14.480/US$ sempat tertekan dan melemah 0,07%, sebelum tertahan di zona merah nyaris sepanjang hari. Namun di ujung perdagangan, Mata Uang Garuda ini bangkit dan menguat 0,03% ke Rp 14.480/US$.

Sementara itu, data Bank Indonesia (BI) menyebutkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di level Rp 14.491 per dolar AS, alias menguat 0,05% dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya.

Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang utama Asia pun berjaya di hadapan Greenback pada sore kemarin. Hanya peso Filipina dan baht Thailand yang melemah.

Hanya saja, harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kemarin tercatat menguat, yang mengindikasikan masih banyak investor yang bermain aman dengan memburu aset minim risiko (safe haven) tersebut.

Hanya SBN bertenor 25 tahun tahun yang imbal hasilnya (yield) mengalami penguatan dan cenderung dilepas oleh investor. Yield SBN tersebut naik 2,1 basis poin (bp) ke 7,351% sedangkan SBN berjatuh tempo 20 tahun cenderung stagnan di level 7,093%.

Sementara itu, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan acuan pasar melemah sebesar 0,3 bp ke 6,306%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga pelemahan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Salah satu risiko yang mereka waspadai adalah temuan varian virus corona (Covid-19) Delta Plus di Indonesia, yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi. Jika tidak terkendali, maka pengetatan aktivitas ekonomi bakal terus dijalankan.

RIsk Appetite Pulih, Wall Street Kompak Menghijau
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading