Duitnya Rp58 T Lebih, kok Salim Keluar dari 10 Orang Kaya RI?

Market - Putra, CNBC Indonesia
30 July 2021 12:10
Anthoni Salim

Jakarta, CNBC Indonesia- Siapa tak kenal taipan kenamaan Tanah Air, Anthony Salim? Anak dari mendiang Sudono Salim (Liem Sioe Liong), pendiri Grup Salim ini tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia di tahun 2020 dengan total kekayaan US$ 5,9 miliar atau Rp 86 triliun (kurs Rp 14.500/US$).

Kekayaan Anthony Salim tersebar di dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri tercatat lebih dari selusin saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dikuasai oleh kendaraan bisnis Salim atau bahkan penguasaan langsung oleh sang bos Anthony Salim.

Lantas saham-saham apa sajakah?


Apabila bicara mengenai Group Salim tentu saja yang paling familiar dengan masyarakat adalah kepemilikan grup yang didirikan oleh Sudono Salim ini di perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Tercatat INDF dikuasai oleh oleh First Pacific Investment Management LTD yang merupakan kendaraan bisnis keluarga Salim yang melantai di Bursa Efek Hong Kong.

First Pacific menggenggam sebanyak 4,3 miliar saham INDF serta ada pula kepemilikan langsung oleh Anthony Salim sebesar 1,3 juta saham.

Menurut harga pasar saat ini di angka Rp 6.375/unit maka kepemilikan First Pacific senilai Rp 28 triliun sedangkan kepemilikan langsung Anthony Salim adalah sebesar Rp 8,4 miliar.

Selanjutnya tentu saja anak usaha INDF yang memproduksi produk kenamaan Indomie PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang dimiliki sahamnya oleh INDF sebanyak 9,3 miliar saham dan berdasarkan nilai pasar saat ini yakni di angka Rp 8.350/unit, maka nilai kepemilikan INDF di ICBP adalah senilai Rp 78,4 triliun.

Lini bisnis keluarga Salim juga muncul di sektor otomotif tepatnya di emiten PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) yang mayoritas dimiliki oleh Gallant Venture Ltd perusahaan konglomerasi Salim yang melantai di bursa Singapura.

Gallant memegang 1,9 miliar unit saham IMAS atau senilai Rp 1,7 triliun jika dihitung dengan harga pasar saat ini yang sebesar Rp 865/unit.

Selanjutnya anak usaha IMAS yakni PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) tercatat dimiliki oleh IMAS sebanyak 7,9 miliar saham senilai Rp 2,3 triliun berdasarkan nilai pasar saat ini di angka Rp 294/unit. IMJS punya kontributor besar dari bisnis pembiayaan mobil lewat PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI).

Selanjutnya bisnis Salim di sektor Agrikultur seperti CPO juga cukup menggurita. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dikuasai oleh Salim melalui PT Indofood Agri Resources Ltd yang melantai di Singapura sebesar 11,3 miliar saham sehingga dengan harga pasar saat ini di angka Rp 438/unit maka kepemilikan tersebut senilai Rp 4,9 triliun.

Tercatat anak usaha SIMP yakni PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga melantai di bursa dimana SIMP menguasai sebanyak 4 miliar saham dan jika di rupiah-kan adalah senilai Rp 4,5 triliun berdasarkan dengan nilai pasar saat ini di angka Rp 1.130/unit.

Lini bisnis peritel salim yakni PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) mencatat kepemilikan langsung Anthony Salim sebanyak 3,5 juta saham senilai Rp 11,4 triliun jika mengikuti harga pasar saat ini di angka Rp 3.190/unit.

Anak usaha DNET yakni PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) yang memproduksi merk roti Sari Roti juga melantai di bursa dan tercatat 1,5 miliar unit sahamnya dikuasai oleh DNET yang bernilai Rp 2,1 triliun jika dihitung berdasarkan nilai pasar per unit saat ini di angka Rp 1.350/unit.

Selain ROTI, DNET juga tercatat menguasai PT Fast Food Indonesia, Tbk (FAST) dengan jumlah kepemilikan 1,4 miliar saham senilai Rp 1,4 triliun di harga saat ini Rp 980/unit.

Selanjutnya proyek terbaru Salim di sektor bank digital yakni PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) mencatat PT Indolife Pensiontama sebagai pemilik saham mayoritas dengan jumlah saham 1,2 miliar saham dengan nilai saat ini sebesar Rp 6,4 triliun.

Terbaru, BINA disebut akan melaksanakan aksi rights issue (penerbitan saham baru) sehingga kepemilikan Salim di BINA kemungkinan dapat bertambah.

Di bank, Salim melalui Indolife juga sudah memiliki 422,81 juta saham atau setara dengan 6,07% dari total jumlah saham beredar di PT Bank Mega Tbk (MEGA), bank milik sesama taipan, Chairul Tanjung. Dengan harga MEGA saat ini Rp 7.825/saham, valuasi Salim di Bank Mega mencapai Rp 3,31 triliun.

Selain itu, tercatat salim juga berinvestasi di emiten infrastruktur jalan toll PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) yang mencatat kepemilikan PT Metro Pacific Tollways Indonesia sebagai mayoritas dengan jumlah kepemilikan 13,2 miliar saham. Jika dihitung dengan nilai pasar saat ini sebesar Rp 121.unit maka nilai kepemilikannya adalah sebesar Rp 1,6 triliun.

Selain emiten-emiten yang dikendalikan secara langsung oleh Grup Salim, ternyata sang bos juga berinvestasi di emiten-emiten lain sebagai pemilik minoritas.

Terbaru tentunya kabar Anthony Salim yang baru saja menambah kepemilikan di saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan total kepemilikan 265 juta saham, dengan nilai saat ini sebesar Rp 15,6 triliun saat ini di harga Rp 59.000/unit.

Padahal Anthony masuk di 2 Juni dengan modal Rp 1,1 triliun, ketika harga saham DCII masih Rp 5.277/saham.

Sebelumnya Salim hanya menguasai sekitar 3% saham DCII sebelum menambah kepemilikan hingga saat ini tercatat Salim menguasai 11,12% saham DCII.

Masih dari sektor teknologi yakni PT Elang Mahkota Teknologi, Tbk (EMTK) yang mencatat direct ownership oleh Anthony Salim dengan jumlah kepemilikan 5,5 juta saham.

Jika dihitung dengan harga pasar saat ini di angka Rp 2.700/unit maka nilai investasi Anthony Salim di EMTK adalah senilai Rp 14,8 triliun.

Meskipun demikian, ternyata daftar emiten Salim yang jumlahnya banyak ini tak dapat memasukkan namanya kembali di daftar orang terkaya real time Forbes di tahun 2021.

Nama Salim tak muncul di 20 besar orang terkaya di Indonesia di mana orang nomor 20 terkaya di Tanah Air ditempati oleh Alexander Tedja, pengusaha properti asal Surabaya dengan kekayaan US$ 1 miliar atau 14,3 triliun. Bahkan urutan 4 yang tahun lalu dipegang Salim digeser oleh bos Indorama, Sri Prakash Lohia dengan harta US$ 6,1 miliar atau Rp 88 triliun.

Hal ini cukup aneh mengingat kepemilikan Anthony Salim secara langsung di saham Emtek saja nominalnya sudah melebihi Rp 14,3 triliun tepatnya Rp 14,8 triliun seperti disebut di atas.

Apalagi ditambah valuasi sahamnya di DCII maka total porsi sahamnya saja sudah Rp 30 triliun.

Tentu saja ini juga belum menghitung kekayaan Salim di saham-saham lain yang dimiliki sang taipan melalui kendaraan bisnisnya serta saham-saham lain yang melantai di bursa asing.

Jika menghitung dengan mengeluarkan valuasi saham INDF-ICBP-DNET (yang terbesar), maka valuasinya Rp 58,6 triliun atau hampir Rp 60 triliun.

Sementara jika ditambah dengan valuasi saham keluarga Salim di INDF-ICBP dan semua saham Grup Salim total mencapai Rp 176,41 triliun.

Berikut rincian valuasi saham gabungan Keluarga Salim dari kepemilikan saham sejumlah emiten:

1. ICBP Rp 78,4 T

2. INDF Rp 28 T

3. DCII Rp 15,6 T

4. EMTK Rp 14,8 T

5. DNET Rp 11,4 T

6. SIMP Rp 4,9 T

7 LSIP Rp 4,5 T

8. BINA Rp 6,4 T

9. MEGA Rp 3,31 T

10. IMJS Rp 2,3 T

11. ROTI Rp 2,1 T

12. IMAS Rp 1,7 T

13. META Rp 1,6 T

14. FAST Rp 1,4 T

Total valuasi: Rp 176,41 triliun.

 

Bisa jadi ada banyak pertimbangan seseorang taipan yang sudah lama masuk daftar Forbes ini 'dikeluarkan. Hanya saja, bisa jadi ada analisis tertentu, tapi analisis sederhana, kemungkinan besar yang bersangkutan bisa jadi 'meminta' tidak dimasukkan ke dalam daftar Forbes tersebut, entah dengan alasan tertentu.

Dalam metodologinya, Forbes menyatakan, "dalam kasus di mana seseorang memiliki saham di perusahaan swasta yang menyumbang 20% atau lebih dari kekayaan bersihnya, nilai perusahaan akan disesuaikan menurut indeks pasar khusus industri atau wilayah yang disediakan oleh mitra kami di Sistem Penelitian FactSet," tulis Forbes.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duo Saham BBHI-BINA Hijau Lagi, Market Cap Tembus Rp 30 T


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading