Sempat Babak Belur, Indosat Cetak Laba Semester I Rp 5,5 T

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
29 July 2021 17:23
Indosat

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) sepanjang paruh pertama tahun 2021 atau semester I mencatatkan laba bersih yang mencapai Rp 5,59 triliun.

Angka ini jauh membaik dan berbalik arah dari kerugian bersih yang diperoleh perusahaan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 341,10 miliar.

Torehan laba ini terjadi karena perusahaan berhasil menggenjot jumlah pendapatan menjadi Rp 14,98 triliun, naik 11,37% dari periode yang sama semester I-2020 sebesar Rp 13,45 triliun.


Berdasarkan laporan keuangan publikasi, segmen seluler masih menjadi kontributor utama, dengan porsi sumbangan lebih dari 80% terhadap total pendapatan atau sebesar Rp 12,40 triliun.

Pendapatan multimedia, komunikasi, data, internet menyumbang Rp 2,29 triliun dan Rp 283,54 miliar sisanya merupakan pendapatan telekomunikasi tetap.

Selain itu jumlah beban penghasilan perusahaan juga mengalami penurunan drastis, meski pendapatan naik.

Jumlah beban pendapatan pada semester I-2020 hanya sebesar Rp 7,91 triliun atau hanya 52,80% dari total pendapatan. Angka tersebut turun 36% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 12,36 triliun atau setara dengan 91,89% total pendapatan.

Nilai aset perusahaan juga naik 12,08% dari semula senilai Rp 62,79 triliun pada posisi akhir tahun lalu, kini bertambah menjadi Rp 70,38 triliun. Aset ini terdiri dari aset lancar sejumlah Rp 18,22 triliun, dan sisanya aset tidak lancar sebesar Rp 52,16 triliun.

Liabilitas perusahaan mengalami kenaikan tipis sebesar 3,95% menjadi Rp 51,83 triliun dari posisi akhir tahun lalu di angka Rp 49,86 triliun. Liabilitas perusahaan terbagi rata dengan kewajiban jangka pendek sebesar Rp 25,46 triliun dan Rp 26,36 triliun sisanya merupakan kewajiban jangka panjang.

Alhasil ekuitas perusahaan tercatat tumbuh 43,68% dari semula sebesar Rp 12,91 triliun kini meningkat menjadi Rp 18,55%

Bagusnya kinerja Indosat pada paruh pertama tahun ini menyebabkan laba per saham naik menjadi sebesar Rp 1.030,19 dari sebelumnya rugi Rp 62,77 per saham.

"Sejak awal tahun 2020, pandemi Covid-19 telah menyebar ke seluruh penjuru negara, termasuk Indonesia. Grup telah menilai dampak potensial Covid-19 terhadap bisnis dan operasional Grup, termasuk proyeksi finansial dan likuiditasnya," tulis pihak manajemen dalam laporan keuangan konsolidasi.

"Berdasarkan hal ini, Grup tidak melihat adanya ketidakpastian material yang akan menyebabkan kerugian yang signifikan terhadap bisnis dan operasional Grup atau menimbulkan keraguan signifikan atas kemampuan Grup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Grup akan secara berkelanjutan memantau perkembangan pandemi Covid-19 dan mengevaluasi dampaknya," tambah pihak manajemen Indosat.

Pada penutupan perdagangan Kamis (29/7) di pasar modal, saham ISAT naik 5,26% ke level Rp 6.000/saham dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 32,60 triliun.

Dalam seminggu saham ini melemah 1,64%, selama seminggu terakhir telah terkoreksi 12,41% akan tetapi sejak awal tahun tumbuh 18,81%.

Dalam keterangan resmi Kamis ini, manajemen ISAT menyatakan baiknya kinerja ISAT merupakan hasil dari kinerja yang kuat dari segmen selular dan didukung oleh rebound di segmen bisnis enterprise.

"Konsisten dengan strategi penawaran yang sederhana, relevan, dan transparansi produk serta investasi pintar pada jaringan, pelanggan Indosat Ooredoo meningkat sebesar 5,3% menjadi 60,3 juta pelanggan pada semester I-2021 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya," tulis manajemen ISAT.

Adapun Average Revenue per User (ARPU) meningkat menjadi Rp 33,9 ribu, dari sebelumnya sebesar Rp 31,4 ribu pada semester I-2020.

"Peningkatan pengalaman jaringan secara menyeluruh serta perbaikan portfolio produk, telah menghasilkan pertumbuhan trafik data sebesar 40,2% YoY," tulis ISAT.

Di sisi lain, pada 30 Juni 2021, Ooredoo Group sebagai investor pengendali saham ISAT, memperpanjang periode eksklusivitas perjanjian nota kesepahaman (MOU) tidak mengikat dengan CK Hutchison hingga 16 Agustus 2021, terkait dengan transaksi potensial untuk menggabungkan bisnis telekomunikasi masing-masing di Indonesia.

"Perpanjangan ini akan memberikan waktu yang lebih untuk menyelesaikan proses uji tuntas yang sedang berlangsung serta menegosiasikan ketentuan-ketentuan dari kemungkinan kombinasi bisnis tersebut," tulis ISAT.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading