Kantor Cabang & ATM Ditinggal, Transaksi Digital Jadi Melesat

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
29 July 2021 17:20
Ilustrasi ATM (Image by Sebastian Ganso from Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan atau behaviour masyarakat dalam melakukan transaksi pembayaran. Masyarakat kini perlahan mulai meninggalkan pembayaran secara tunai dan lebih memilih untuk melakukan transaksi secara digital.

Bank Indonesia memproyeksikan transaksi digital banking pada 2021 akan menyentuh Rp 35.600 triliun atau naik 31,6% dibandingkan dengan nilai transaksi tahun 2020 yang sebesar Rp 27.036 triliun.

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Fitria Irmi Triswati mengungkapkan ekonomi keuangan digital pada 2021 diperkirakan akan positif, didorong meningkatnya prevalensi dan akseptasi masyarakat.


"Kami melihat pergeseran pola transaksi masyarakat ke digital terus meningkat, masyarakat semakin terbiasa melakukan transaksi digital, di tengah terbatasnya aktivitas fisik, hal ini dibuktikan peningkatan signifikan transaksi e commerce, digital banking, uang elektronik terutama di masa pandemi covid-19," ujar Fitria dalam sebuah webinar, Kamis (29/7/2021).

"Layanan online perbankan juga tumbuh secara konsisten dia capai double digit awal tahun 2020, terutama didorong oleh shifting behavior transaksi masyarakat ke arah online akibat pandemi," kata Fitria melanjutkan.

Fitria kemudian juga merinci, transaksi e-commerce tahun ini akan tembus Rp 395 triliun atau tumbuh 48,45 dibandingkan dengan realisasi transaksi e-commerce tahun lalu yang sebesar Rp 253 triliun. Proyeksi ini juga kembali meningkat dibandingkan sebelumnya hanya di kisaran Rp 370 triliun.

Statistik terakhir volume transaksi ecommerce, kata Fitria mencapai lebih dari 600 juta transaksi dan secara nominal hampir capai Rp 100 triliun.

Peningkatan transaksi e commerce, juga mendorong peningkatan pada penggunaan uang elektronik sepanjang tahun ini pun diproyeksi naik hingga 35,7% (year on year/yoy) atau setara Rp 278 triliun. Hal ini didukung momentum Ramadhan dan Idul Fitri, karena pada periode tersebut masyarakat banyak yang melakukan transaksi e commerce.

Selain itu, faktor terbatasnya mobilitas masyarakat selama masa pandemi covid-19 juga menjadi faktor pemicu tingginya transaksi ekonomi digital di tanah air.

Outlook ekonomi digital 2021 BI tersebut, kata Fitria didasari dari empat fakta yang tengah berkembang saat ini. Pertama, transformasi produk dan layanan e-commerce, dan shifting perilaku masyarakat ke arah digital melalui platform e commerce dimanfaatkan oleh para pelaku untuk terus berinovasi.

Kedua, perluasan kolaborasi antar pelaku, Lesson learn membuktikan bahwa perluasan ekosistem digital jadi kunci keberhasilan dalam kompetisi antar pemain pasar.

Ketiga perluasan ekosistem melalui aksi korporasi, setelah tumbuh akselerasi tahun lalu beberapa perusahaan teknologi diperkirakan akan melakukan konsolidasi untuk perluas ekosistem dan meraih pendanaan yang lebih besar.

"Seperti merger Gojek-Tokopedia, kemudian cross investment Grab dan Emtek, dan rencana bukalapak," ujarnya.

Keempat digitalisasi bank semakin luas dari pelaku lama dan pelaku baru dengan berbagai model strategi dengan penguatan kapasitas, internal strategic, proses bisnis, teknologi atau core banking, akuisisi bank hingga perluasan ekosistem.

Sebagai gambaran, tren penggunaan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) mulai ditinggalkan karena masyarakat semakin gencar melakukan transaksi secara digital.

Situasi ini bisa terjadi karena tak lepas dari disrupsi teknologi yang dimulai dari revolusi 4.0. Bank-bank digital pun kian bermunculan dan tengah mengajukan izin ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengamat pasar modal dan perbankan menilai, tren bank yang mulai mengurangi jumlah kantor cabang dan mesin ATM dinilai menjadi cerminan dari dampak transformasi layanan bank digital di Indonesia. Jika bank konvensional tak beradaptasi, akan berefek pada prospek di tengah ketatnya persaingan.

"Kemajuan teknologi, consumer behaviour, persaingan yang ketat antar bank dan muncul ancaman baru dari 'bank-bank baru'," kata pengamat pasar modal, Rovandi kepada CNBC Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading