Hello Ritel! Bank BUKU IV Juga Pindah ke Digital Banking Loh

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
26 July 2021 14:23
Investasi Teknologi Pada Perbankan (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank-bank dalam negeri berlomba lomba untuk mengembangkan platform digitalnya untuk membuat transaksi nasabah bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus ke kantor cabang terlebih dahulu. Bahkan adanya platform digital ini telah mengalahkan transaksi yang dilakukan secara konvensional.

Fenomena ini kemudian memicu investor ritel berlomba-lomba memburu saham-saham bank kecil yang digadang-gadang akan menjadi bank digital. Efeknya, harga saham-saham bank kecil tersebut melambung tinggi. 

Sementara itu, saham bank-bank BUKU IV, dengan modal inti minimal Rp 30 triliun, cenderung stagnan bahkan ada yang terkoreksi. Investor ritel seolah-olah mengenyampingkan transformasi bank-bank besar ini ke arah digital.


Kecenderungan investor ritel berburu saham-saham bank kecil tersebut telah membuat kenaikan saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang  menyalip kapitalisasi pasar bank-bank BUKU IV. Saat ini ARTO tercatat memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 208 triliun.

Nilai kapitalisasi Bank Jago ini  lebih besar dibandingkan dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang memiliki kapitalisasi pasar Rp 92 triliun meskipun ekuitasnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ARTO di angka Rp 115 triliun

Selain itu ARTO juga unggul dari PT Bank Permata Tbk (BNLI) senilai Rp 64 triliun, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang memiliki kapitalisasi pasar Rp 25 triliun.

Lalu kapitalisasi PT Bank Danamon Tbk (BDMN) Rp 21,4 triliun dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) senilai Rp 18 triliun.  

Lalu bagaimana bank BUKU IV merespons arah industri perbankan ke digital?

Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan mengatakan investasi di platform digital telah dilakukan oleh CIMB Niaga sejak lama, bahkan sebelum pandemi berlangsung. Sehingga saat ini perusahaan telah memiliki super apps yang lengkap untuk dapat memberikan layanan kepada nasabah.

"Transaksi di OctoMobile yoy [year on year/tahunan] naik 80% dengan pertumbuhan volume sekitar 60%," kata Lani kepada CNBC Indonesia, Senin (26/7/2021).

Dia mengungkapkan bahwa transaksi nasabah ritel menggunakan aplikasi ini terus mengalami peningkatan, sekitar 98% transaksi nasabah ini bahkan telah dilakukan menggunakan aplikasi. Hal ini berdampak pada menurunya aktivitas transaksi nasabah di kantor-kantor cabang hingga transaksi menggunakan ATM.

Penurunan transaksi di kantor cabang dan ATM ini juga sejalan dengan adanya pemberlakukan pembatasan sosial yang sudah berlangsung selama beberapa waktu terakhir.

Sementara itu, PT Maybank Indonesia Tbk (BNII) juga telah melakukan pengembangan platform digital, baik untuk nasabah ritel dan korporasi. Terpisah, Maybank juga telah menyediakan platform khusus untuk penyaluran kredit untuk sektor ritel small-medium enterprise (SME/UKM) dan SME+.

"Digital platform justru memberikan peluang untuk mengoptimalkan operasional cabang dan mengefisienkan layanan nasabah," kata Taswin Zakaria, Presiden Direktur Maybank Indonesia kepada CNBC Indonesia, Senin ini.

Dari segi kantor cabang, CIMB Niaga mengungkapkan dalam lima tahun terakhir bank ini terus menurunkan jumlah kantor cabangnya, sejalan dengan terus meningkatnya transaksi nasabah secara digital.

"Jumlah cabang juga menurun dalam lima tahun terakhir sehubungan dengan penurunan transaksi di cabang," jelas Lani.

Namun lain hal dengan Maybank, saat ini bank ini masih tetap mempertahankan kantor cabang. Sebab transaksi nasabah melalui digital platform dan konvensional masih imbang.

"Ada [shifting pola transaksi nasabah ke digital], tapi secara umum nasabah masih bi-channel. Digital, tapi tetap juga ke cabang untuk transaksi tertentu," tandas Taswin.

Nasabah Sudah Tidak Mengandalkan ATM
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading