Tunggu The Fed Dini Hari Nanti, Investor Emas Harus Gimana?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
28 July 2021 17:30
FILE - In this Nov. 25, 2019, file photo Federal Reserve Board Chair Jerome Powell addresses a round table discussion during a visit to Silver Lane Elementary School, in East Hartford, Conn. On Wednesday, Dec. 11, the Federal Reserve issues a statement and economic projections, followed by a news conference with Powell. (AP Photo/Steven Senne)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia masih berada di kisaran US$ 1.800/troy ons dan tidak banyak bergerak pada perdagangan Rabu (28/7/2021).

Maklum saja, Kamis dini hari waktu Indonesia ada bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) yang akan mengumumkan kebijakan moneter.

Pengumuman The Fed tersebut bisa memicu pergerakan besar di emas dunia baik itu melesat atau pun merosot. Tetapi tidak menutup kemungkinan emas masih belum ke mana-mana, jika The Fed status quo, atau belum ada perubahan panduan kebijakan moneter, termasuk pernyataan-pernyataannya sama dengan rapat kebijakan moneter bulan Juni lalu.


Lantas, apa yang harus dilakukan investor emas?

Bagi trader emas ada baiknya wait and see, sebab mengambil posisi trading sebelum pengumuman The Fed tentunya berisiko sangat besar.

Sementara bagi pelaku pasar yang berinvestasi di emas fisik seperti emas Antam, ada baiknya meninjau kembali proyeksi kemana arah emas dalam jangka panjang pasca pengumuman The Fed.

idrFoto: Datawrapper

Tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) menjadi perhatian utama. Ketika The Fed melakukan tapering, artinya periode normalisasi kebijakan moneter sudah dimulai, yang nantinya berujung pada kenaikan suku bunga.

Selain itu, tapering bisa diartikan The Fed optimistis perekonomian AS sudah cukup kuat menahan pengetatan moneter.

Artinya, tapering adalah musuh utama emas, jika The Fed memberikan sinyal akan dilakukan dalam waktu dekat, atau lebih spesifik di tahun ini, maka harga emas berisiko ambrol.

Berkaca dari sejarah, tapering pernah dilakukan pada tahun 2013 dan harga emas berada dalam tren menurun hingga awal 2015 ketika menyentuh level terendah US$ 1.045/troy ons.

Selama periode tersebut harga emas dunia merosot sekitar 25%. Bahkan jika dilihat dari rekor tertinggi kala itu 1.920/troy ons pada 6 September 2011, harganya ambrol lebih dari 45%.

Itu adalah risiko yang dihadapi emas jika tapering dilakukan dalam waktu dekat. Tetapi jika The Fed mengindikasikan waktu tapering masih lama, maka emas berpotensi melesat lagi.

Ketika tapering tidak dilakukan dalam waktu dekat, artinya The Fed belum optimistis akan perekonomian AS, apalagi dengan adanya risiko pelambatan akibat penyebaran terbaru virus corona varian delta.

Tanpa tapering dalam waktu dekat, yield (obligasi) Treasury AS akan semakin menurun, dan menjadi tenaga tambahan bagi emas untuk menguat.

Sementara itu, jika The Fed tanpa kejutan atau memberikan pernyataan yang sama dengan bulan Juni lalu, maka harga emas tidak akan kemana-mana.

Imre Speizer, dari Westpac Bank menjadi salah satu analis yang mengatakan kemungkinan besar tidak ada kejutan dari The Fed.

"Mereka sebelumnya mengatakan sudah membicarakan tapering dan hal itu akan dikatakan lagi, begitu juga dengan inflasi yang tinggi dikatakan sementara," kata Speizer, sebagaimana dilansir CNBC International, Rabu (28/7/2021).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading