Polling CNBC Indonesia

Atas Nama Rupiah, BI 'Diramal' Tahan Bunga Acuan di 3,5%

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
21 July 2021 13:55
A woman shows U.S. dollar bills at her home in Buenos Aires, Argentina August 28, 2018. REUTERS/Marcos Brindicci Ilustrasi Dolar AS (REUTERS/Marcos Brindicci)

Sementara di sisi eksternal, ancaman terhadap rupiah hadir dari isu pengetatan kebijakan (tapering off) oleh bank sentral AS. Seiring perekonomian AS yang semakin membaik setelah terpukul hebat oleh pandemi, kebutuhan untuk mulai mencabut stimulus moneter semakin terlihat.

Jika kebijakan moneter The Federal Reserve/The Fed terus longgar, maka berisiko akan menimbulkan tekanan inflasi. Laju inflasi di AS sedang terus terakselerasi, di mana pada Juni 2021 mencapai 5,4% year-on-year (yoy), tertinggi sejak Agustus 2008.


inflasi

Richard Shelby, Anggota Senat asal Alabama dari Partai Republik, menegaskan bahwa tekanan inflasi adalah ancaman yang sangat nyata. "Pada 1970-an, inflasi tinggi memukul daya beli rakyat karena kenaikan harga barang dan jasa yang terus-menerus. Jika kita gagal melihat hal ini dengan serius, maka negara ini akan menghadapi masalah yang sama," kata Shelby, seperti dikutip dari Reuters.

Untuk mengerem inflasi, pertama The Fed bisa mengurangi pembelian surat berharga (quantitative easing) yang sekarang bernilai US$ 120 miliar per bulan. Dengan begitu, pasokan likuiditas akan berkurang sehingga nilai uang tidak turun. Ingat, inflasi pada dasarnya adalah penurunan nilai uang untuk membeli barang dan jasa pada masa mendatang.

Berdasarkan survei Reuters terhadap lebih dari 100 ekonom pada 12-15 Juli, 62% responden memperkirakan The Fed akan mengakhiri quantitative easing pada kuartal IV-2022. Sebelum berakhir, tentu 'dosis' quantitative easing akan dikurangi terlebih dahulu dan ini bisa terjadi pada awal tahun depan.

fedSumber: Reuters

"Kami meragukan narasi The Fed bahwa inflasi hanya sementara, ini adalah risiko yang akan semakin tinggi dalam bulan-bulan ke depan. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk terus melanjutkan quantitative easing," sebut James Knightley, Kepala Ekonom ING yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters.

Tidak hanya soal quantitative easing, ING juga memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun depan. Ini akan membuat dolar AS semakin perkasa, karena kenaikan suku bunga akan ikut mengatrol imbalan investasi instrumen berbasis greenback (terutama aset berpendapatan tetap seperti obligasi).

Halaman Selanjutnya --> Menahan Bunga Adalah Plihan Terbaik

Menahan Bunga Adalah Plihan Terbaik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading