Gokil! Harga Batu Bara ke Langit, Saham Produsennya Liar

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
15 July 2021 10:32
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham emiten tambang batu bara raksasa melaju di zona hijau pada perdagangan pagi ini, Kamis (15/7/2021). Kenaikan saham-saham tersebut terjadi di tengah harga batu bara yang kembali naik dan mencatat rekor tertinggi baru.

Berikut pergerakan sejumlah saham batu bara, pukul 10.03 WIB:

  1. United Tractors (UNTR), saham +2,96%, ke Rp 19.150, transaksi Rp 23 M


  2. Bumi Resources (BUMI), +1,75%, ke Rp 58, transaksi Rp 2 M

  3. Delta Dunia Makmur (DOID), +1,34%, ke Rp 302, transaksi Rp 1 M

  4. Bukit Asam (PTBA), +0,97%, ke Rp 2.090, transaksi Rp 4 M

  5. Golden Eagle Energy (SMMT), +0,88%, ke Rp 114, transaksi Rp 44 juta

  6. Adaro Energy (ADRO), +0,82%, ke Rp 1.230, transaksi Rp 14 M

  7. Indika Energy (INDY), +0,78%, ke Rp 1.285, transaksi Rp 1 M

  8. Mitrabara Adiperdana (MBAP), +0,35%, ke Rp 2.840, transaksi Rp 21 juta

  9. Indo Tambangraya Megah (ITMG), +0,34%, ke Rp 14.950, transaksi Rp 3 M

  10. Bayan Resources (BYAN), +0,19%, ke Rp 13.525, transaksi Rp 21 juta

  11. Harum Energy (HRUM), 0,00%, ke Rp 5.325, transaksi Rp 4 M

  12. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), 0,00%, ke Rp 71, transaksi Rp 2 M

  13. Alfa Energi Investama (FIRE), -0,85%, ke Rp 468, transaksi Rp 189 juta

  14. Atlas Resources (ARII), -1,34%, ke Rp 294, transaksi Rp 163 juta

  15. Perdana Karya Perkasa (PKPK), -3,03%, ke Rp 64, transaksi Rp 292 juta

Menurut data di atas, dari 15 saham yang diamati, 10 saham menguat, 2 saham stagnan, dan 3 saham melemah.

Saham emiten tambang Grup Astra, UNTR, menjadi yang paling menguat, yakni sebesar 2,96% ke Rp 19.150/saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 23 miliar. Dengan ini, saham UNTR berhasil menghentikan tren pelemahan sejak 6 hari lalu.

Penguatan ini juga belum bisa mengerek saham UNTR yang masih minus 4,61% dalam sepekan.

Di posisi kedua, saham Grup Bakrie, BUMI, menguat 1,75% ke posisi Rp 58/saham, setelah 3 hari sebelumnya terbenam di zona merah. Dalam sepekan saham BUMI masih turun 1,69%.

Di bawah saham BUMI, saham Grup Northstar, DOID, juga terkerek 1,34% ke Rp 302/saham, menghentikan tren penurunan selama 3 hari lalu. Kendati menguat, dalam sepekan saham DOID masih melorot 3,21%.

Sementara, tidak seperti yang lainnya, saham seperti ARII dan PKPK malah terjungkal, masing-masing 1,34% dan 3,03%.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 144,3/ton. Naik 1,62% dibandingkan hari sebelumnya dan menyentuh titik tertinggi setidaknya sejak akhir 2008.

Prospek peningkatan permintaan masih menjadi pendorong harga si batu hitam. Kinerja ekonomi di sejumlah negara konsumen batu bara utama terus membaik.

Di Jepang, Reuters Tankan Index pada Juli 2021 berada di 25, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 22. Ini adalah yang tertinggi sejak November 2018. Tankan Index menggambarkan sentimen dunia usaha di Jepang.

Pada Juli, adalah perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor yang membukukan optimisme tinggi. Misalnya otomotif, farmasi, dan industri besi-baja. Ini seiring dengan persepsi peningkatan permintaan global akibat pemulihan dari pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Sementara di Korea Selatan, pemulihan ekonomi dibarengi oleh peningkatan penciptaan lapangan kerja. Pada Juni 2021, tingkat pengangguran di Negeri Ginseng adalah 3,7%, turun dari bulan sebelumnya yaitu 3,8%.

Lalu di China, Biro Statistik Nasional mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 sebesar 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai rekor 18,3% yoy.

Namun perlambatan ini bisa dimengerti karena kuartal I-2021 punya basis rendah. Pada kuartal I-2020, ekonomi China mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 6,8% sementara kuartal II-2020 sudah tumbuh positif 3,2%.

Berbagai data ini menggambarkan bahwa ekonomi sedang bergeliat di tiga negara tersebut. Geliat ekonomi akan membutuhkan energi, terutama listrik dan batu bara adalah salah satu sumber energi primer utama pembangkitan listrik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading