Duh! Tutup Sementara, Begini Nasib Emiten Bioskop selama PPKM

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
13 July 2021 11:30
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di bangku bioskop yang akan dibuka hari ini di CGV Grand Indonesia Mall, Rabu (21/10/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat keputusan untuk operasi bioskop-bioskop di Jakarta. Beberapa bioskop akan mulai memutar film hari ini.
Pantauan CNBC Indonesia pada jam 12.00 belum ada penonton yang datang, kemudian pihak pengelola mengatur ulang jadwal agar jam 15.00 sudah bisa memulai pemutaran film. 
Terlihat hanya beberapa warga saja yang mulai memesan tiket di tiket box. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten industri perfilman pengelola bioskop serta penyediaan makanan dan minuman, PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ), mengumumkan pada Senin lalu (12/7), bahwa perseroan telah melakukan penghentian sementara kegiatan operasional bioskop CGV di seluruh lokasi.

Keputusan ini diambil berdasarkan Surat Instruksi Menteri Dalam Negeri No 15 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali yang merupakan bagian dari upaya penanggulangan dan pengendalian wabah virus corona di Indonesia.

"Oleh karena itu perseroan harus melakukan penutupan sementara seluruh lokasi bioskop CGV tersebut sampai pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah," tulis Direktur Graha Layar Prima, Yeo Deoksu, dikutip dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (13/7).


Sebelumnya bisnis bioskop sempat mengalami sedikit pemulihan setelah penutupan panjang tahun 2020 lalu.

Pemulihan ini terlihat terutama pada momen Ramadhan dan Idul Fitri, banyak masyarakat yang mulai kembali percaya diri menonton film di bioskop.

Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPSBI) Djonny mengatakan terjadi sedikit kenaikan tapi masih belum mencapai level pra-pandemi.

"Kenaikannya lumayan tapi belum signifikan kayak dulu. Bioskop Independen, bukan jaringan semalam rata-rata dapat Rp 25 juta - Rp 30 juta. Sekarang pertama buka Oktober itu Rp 2 juta sehari saja susah. Sekarang sudah di atas Rp 5 juta, malam minggu Rp 10 juta, tapi belum pulih kayak dulu," kata Djonny kepada CNBC Indonesia awal bulan lalu (9/6).

Penutupan bioskop CGV berpotensi berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan yang telah rontok dari tahun lalu.

Sepanjang tahun 2020, emiten pengelola bioskop CGV ini melaporkan kerugian fantastis sebesar Rp 445,83 miliar dari posisi tahun 2019 sebelum pandemi melanda yang mana BLTZ masih mampu mencetak laba bersih Rp83,34 miliar.

Penutupan bioskop yang dilakukan tahun 2020 lalu membuat pendapatan BLTZ merosot menjadi Rp 255,83 miliar, turun 81,91% dari tahun 2019 yang mana pendapatan perusahaan mencapai Rp 1,41 triliun.

Penurunan terjadi di berbagai lini bisnis perusahaan mulai dari bisnis bioskop hingga pendapatan dari iklan.

Beban pokok pendapatan perusahaan pun membengkak melebihi pendapatan usaha yang diperoleh atau mencapai Rp 323,19 miliar. Selain itu liabilitas naik signifikan hingga 143% dari yang semula Rp 673,49 miliar membengkak menjadi Rp 1,63 triliun.

Kuartal pertama tahun 2021 juga tidak jauh beda, perusahaan masih mengalami penurunan pendapatan secara tahunan, turun menjadi Rp 27,33 miliar dibandingkan triwulan pertama tahun 2020 sebelum virus Covid-19 mulai menyebar, sebesar Rp 232,17 miliar.

Beban pokok pendapatan juga masih melebihi pendapatan asli perusahaan sehingga BLTZ mencatat kerugian bersih hingga Rp 83,33 miliar, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya dengan rugi bersih senilai Rp 54,30 miliar.

Dikutip dari laporan konsolidasi kuartal I 2020, manajemen BLTZ mengatakan saat ini menerapkan beberapa upaya dalam menangani dampak COVID-19 dari mulai meningkatkan efisiensi biaya operasional perusahaan hingga melakukan negosiasi dengan tuan tanah untuk pengurangan biaya sewa.

Pihak manajemen juga tidak dapat memprediksi terkait intensitas yang ditimbulkan serta seberapa lama kondisi ini akan bertahan.

"Durasi dan intensitas dari dampak pandemi COVID-19 bergantung pada perkembangan di masa depan yang belum dapat diestimasi secara andal pada saat ini. Manajemen akan memonitor dengan intensif perkembangan dari pandemi COVID-19 ini, dan secara berkelanjutan akan mengevaluasi dampaknya terhadap bisnis, posisi keuangan dan hasil operasi dari Grup." tulis pihak manajemen, dikutip keterbukaan informasi.

Pada perdagangan Selasa (13/7) pukul 10.23 WIB, harga saham BLTZ turun 0,72% ke level Rp 2.740/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 2,39 triliun. Dalam sebulan saham ini telah melemah 28,65% dan sejak awal tahun terkoreksi 8,36%.

Berdasarkan data indeks, selain BLTZ, saat ini ada satu emiten di bidang bioskop dan film PT MD Pictures Tbk. (FILM), produsen film sekuel Habibie & Ainun hingga Danur.

Mengacu laporan keuangan 2020, pendapatan FILM turun 51% menjadi Rp 122,37 miliar dari tahun 2019 sebesar Rp 250,25 miliar. Perusahaan mencatat rugi bersih Rp 56,96 miliar dari laba bersih 2019 sebesar Rp 60,96 miliar.

"Wabah Covid-19 telah mengakibatkan penurunan ekonomi global dan domestik yang kemudian mempengaruhi operasi Grup. Manajemen akan memantau perkembangan pandemi dan terus mengevaluasi dampak terhadap penjualan di mana depan, hasil operasi dan kinerja keuangan secara keseluruhan," tulis manajemen FILM.

Emiten milik produser film Manoj Punjabi ini pun akhirnya mampu mencatatkan pemulihan kinerja di Q1. Di Q1-2021, penjualan naik menjadi Rp 60,96 miliar dari periode yang sama 2020, yakni Rp 29,36 miliar. Laba bersih mencapai Rp 18,14 miliar, dari rugi bersih Q1-2020 yakni Rp 8,99 miliar.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading