Bukalapak-GoTo cs Mau IPO, Ini Pesan Lo Kheng Hong!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
09 July 2021 15:13
Lo Kheng Hong, Simas Invest

Jakarta, CNBC Indonesia - Publik pasar modal tengah menantikan rencana perusahaan e-commerce Indonesia, PT Bukalapak.com Tbk yang akan menawarkan saham perdana lewat mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Bukalapak akan melepas maksimal sebesar 25.765.504.851 saham biasa dalam IPO ini. Saham ini ditawarkan dengan nilai nominal Rp 50 setiap saham, yang mewakili sebanyak-banyaknya sebesar 25,0% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Berdasarkan prospektus yang disampaikan di media massa pada Jumat ini (9/7), saham ditawarkan kepada masyarakat dengan harga penawaran berkisar antara Rp 750 sampai dengan Rp 850 setiap saham, sehingga target dana Rp 21,90 triliun.


Masa penawaran awal (bookbuilding dalam penentuan harga) yakni 9-19 Juli, tanggal efektif dari OJK diharapkan pada 26 Juli dan masa penawaran umum pada 28-30 Juli. Adapun target tercatat di papan perdagangan atau listing di BEI pada 6 Agustus mendatang.

Tercatat pendapatan neto Bukalapak di 2020 mencapai Rp 1,35 triliun naik 25,55% dari 2019 sebesar Rp 1,08 triliun.

Namun perusahaan yang disokong Grup Emtek ini masih mencatat rugi tahun berjalan di 2020 Rp 1,35 triliun, membaik 51,74% dari rugi bersih di 2019 Rp 2,79 triliun.

Selain Bukalapak, GoTo, entitas gabungan dari Gojek dan Tokopedia juga tengah memproses IPO di BEI dan juga satu bursa lain di luar negeri.

Begitu pula dengan perusahaan startup perjalanan Tiket.com, milik Grup Djarum, yang juga mempertimbangkan untuk go public atau IPO melalui merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus alias SPAC (special purpose acquisition company).

Lantas bagaimana pandangan investor value investing seperti Lo Kheng Hong?

Sebagai informasi, Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di pasar modal Tanah Air. Dia memegang lima emiten dengan porsi di atas 5% yakni saham emiten pabrik ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), kontraktor batu bara PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten logistik dan pelayaran PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), emiten media PT Global Mediacom Tbk (BMTR), dan emiten multifinance PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN).

Menanggapi rencana IPO sejumlah perusahaan teknologi di BEI (termasuk Bukalapak, GoTo, Tiket), Lo Kheng Hong memang tidak menyebut spesifik saham tertentu dari ketiga startup tersebut.

Hanya saja dia menekankan perlunya investor melihat fundamental calon emiten apapun yang ingin melantai di BEI.

"Perlu bagi calon investor untuk mempertimbangkan dan melihat lagi fundamental satu emiten," kata LKH, panggilan akrabnya, kepada CNBC Indonesia, Jumat (9/7).

Sebelumnya, Mei lalu, LKH memang menyatakan menghindari untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan teknologi, terutama yang baru melakukan IPO.

Dia mengakui bahwa dirinya merupakan investor yang konvensional dan masih mementingkan kondisi fundamental perusahaan terlebih dahulu untuk membeli sahamnya.

Dalam sebuah video yang di-posting dalam akun Instagram @lukas_setiaatmaja, dia memaparkan alasannya tidak mau membeli saham perusahaan teknologi ini.

Pertama, dia tidak membeli saham IPO dalam 20 tahun terakhir. Dalam video tersebut, LKH mengakui sudah 20 tahun terakhir tidak pernah membeli saham-saham yang baru tercatat di bursa karena menilai valuasinya yang mahal. Sedangkan moto investasinya adalah saham dari perusahaan yang bagus dan membelinya di harga murah.

"Yang pertama saya sudah tidak membeli saham IPO 20 tahun lebih karena tidak mungkin pemilik perusahaan dan penjamin emisi mau menjual di harga undervalue, harga murah. Pasti mereka mau menjual harga IPO semahal-mahalnya," kata dia.

Kedua, saham teknologi dinilai menjadi incaran fund manager. Dia mengungkapkan bahwa perusahaan dengan valuasi yang besar itu malah justru membuat masa mencapai periode break even point (BEP) alias balik modal semakin lama. Contohnya saham Tesla di bursa Wall Street AS yang saat ini memiliki price to earning (PER) 1.000 kali, artinya baru akan mencapai BEP dalam 10 abad ke depan.

Selain itu saham teknologi itu juga menjadi portofolio dari fund manager yang mengelola dana investor.

"Saham teknologi itu buat fund manager karena mereka kelola uang orang lain, bukan uang orang sendiri, kalau rugi pun ga apa-apa, mereka tetap untung," imbuhnya.

Ketiga, Lo Kheng Hong tidak mengerti teknologi. Dia mengakui dirinya tidak terlalu paham dalam menggunakan teknologi. Bahkan untuk mengoperasikan komputer secara standar diakuinya masih membutuhkan bantuan dari anaknya.

"Saya ga mengerti teknologi, untuk zoom meeting ini aja kalau ga dibantu anak saya mungkin tidak akan terjadi zoom ini. Sampai saat ini saya ngetik di komputer aja ga bisa. Mungkin saudara kaget Lo Kheng Hong ngetik di komputer ga bisa, karena waktu saya kuliah dulu belum ada komputer, udah gitu saya ga mau belajar karena ga ada kebutuhan," papar dia.

Keempat, perusahaan teknologi valuasinya tinggi. Dia memaparkan bahwa biasanya valuasi saham perusahaan teknologi ini sangat mahal, tidak sebanding dengan kinerja keuangannya, bahkan tidak jarang perusahaan ini masih merugi.

Dia mencontohkan saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan price to book value (PBV) bisa mencapai 90 kali namun perusahaan masih merugi dan nilai aset yang mencapai Rp 1 triliun.

"Saya ga mungkin mau beli saham Tesla yang PE [price to earning ratio]-nya 1000x, ga mungkin seperti itu. PE 1000x itu artinya kalau labanya ga tumbuh, investasi kita itu belum akan break even sebelum 10 abad. Jadi ga mungkin saya beli saham teknologi yang valuasinya mahal," ungkapnya.

PBV adalah metode valuasi yang membandingkan nilai buku suatu emiten dengan harga pasarnya. Semakin rendah PBV biasanya perusahaan akan dinilai semakin murah. Secara Rule of Thumb, PBV akan dianggap murah apabila rasionya berada di bawah angka 1 kali.

Kelima, dia termasuk investor konservatif. LKH mengungkapkan bahwa dirinya terlebih dahulu mengecek kinerja perusahaan sebelum membeli saham tertentu. Kinerja keuangan yang baik menjadi salah satu indikator bahwa saham perusahaan tersebut dinilai layak untuk dikoleksi.

"Saya seorang investor yang konservatif, saya ga mau liat kinerjanya yang berlebihan di masa yang akan datang. Jadi saya mau liat labanya dulu, tunjukin ke saya. Kalau sudah labanya besar, harganya murah, baru saya beli," jelasnya.

Terkait dengan penilaian LKH ini, analis PT Indo Premier Sekuritas, Mino menilai jika investor menjadikan profil Lo Kheng Hong sebagai acuan dan ingin mengoleksi saham-saham milik LKH itu, maka modalnya harus paham juga strategi atau cara LKH bertransaksi.

LKH yang terkenal dengan value investing ini memang dikenal memegang saham dengan time frame yang cukup lama alias jangka panjang.

"Investor harus sabar kalau mau mengikuti cara Lo Kheng Hong, itu modal awalnya," jelas Mino.

Mino menjelaskan Lo Kheng Hong melihat prospek. Ada dua cara dilihat dari historical keuangan perusahaan itu apakah konsisten membuahkan pendapatan dan laba yang bertumbuh, aset lancar dan tidak lancar, serta laporan arus kas.

Selain itu juga harus memiliki pandangan industrinya apakah sedang bergairah atau tidak.

Mino menjelaskan Lo Kheng Hong melihat prospek. Ada dua cara dilihat dari historical keuangan perusahaan itu apakah konsisten membuahkan pendapatan dan laba yang bertumbuh, aset lancar dan tidak lancar, serta laporan arus kas.

Selain itu juga harus memiliki pandangan industrinya apakah sedang bergairah atau tidak.

Tapi bukan hal mudah juga melihat saham yang 'salah harga' ini, karena banyak saham yang memiliki harga murah tapi tidak memiliki fundamental perusahaan yang prospektif.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading