Review

Rekor Corona RI Bikin Saham RS 'Hype', Aman Gak Masuk?

Market - Riset, CNBC Indonesia
08 July 2021 11:10
Warga menjalani test antigen untuk mendeteksi Covid-19 di Kelurahan Kayu Putih, Jakarta, Selasa (8/6). Satu RT di Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur, yakni RT 11, menerapkan lockdown atau penguncian wilayah sementara usai 22 warga dinyatakan positif covid-19.kasus aktif Covid-19 di wilayah RT 11/09 tersebut berasal dari klaster keluarga, namun ada kemungkinan besar juga berasal dari klaster kerumunan mengingat di wilayah tersebut terdapat taman yang digunakan oleh para warga secara bebas dalam beraktivitas. Dalam menangani kasus aktif Covid-19 di wilayah tersebut, pihaknya tak hanya menerapkan mikro-lockdown. Namun juga turut mendistribusikan bantuan-bantuan terhadap warga yang terdampak agar dapat melewati masa pandemi Covid-19. Puluhan warga yang positif itu kini menjalani isolasi di berbagai tempat. Bagi yang bergejala, dibawa ke rumah sakit, sisanya menjalani isolasi di Wisma Atlet dan rumah masing-masing.a (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama sepekan terakhir tercatat saham-saham dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp 10 triliun berhasil melesat kencang dan memimpin daftar saham-saham dengan kenaikan tertinggi di bursa lokal.

Pada periode yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya mampu naik tipis 0,98%, bahkan indeks yang berisi konstituen 45 saham berkapitalisasi pasar besar, dengan transaksi likuid, dan prospek pertumbuhan yang cerah yakni Indeks LQ45 malah hanya mampu naik 0,34% pada periode yang sama.

Hal ini menyebabkan lirikan mata para investor untuk bertransaksi harian (trading) di saham blue chip menjadi kurang menarik dan mulai bergeser ke saham-saham kecil (small cap) yang sedang hype.


Apakah strategi tersebut tergolong riskan atau tergolong aman?

Saham-saham apa sajakah yang sudah melesat kencang sepekan terakhir? Simak tabel berikut, mengacu data BEI dalam 7 hari perdagangan terakhir, hingga Rabu kemarin (7/7).

Tercatat dalam sepekan terakhir saham-saham yang mengisi jajaran top gainers tergolong saham mini, bahkan satu diantaranya yakni PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) yang sudah melesat 70% hanya memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 131 miliar.

Menariknya tiga di antara saham-saham top gainers sepekan terakhir merupakan saham-saham yang masuk ke dalam indeks kesehatan.

Saham-saham kesehatan dalam beberapa pekan terakhir memang diuntungkan dari kenaikan kasus corona di RI yang terus memecahkan rekor dalam beberapa hari terakhir bahkan menembus angka 30.000 kasus per hari.

Trio saham kesehatan yang melesat kencang adalah PT Sejahteraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang melesat 113%, PT Royal Prima Tbk (PRIM) yang melejit 106%, dan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) yang melonjak 72%.

Tak ada salahnya memang trading di saham berkapitalisasi pasar kecil yang sedang hype di market.

Akan tetapi para pelaku pasar harus mengingat bahwa saham-saham yang sudah melesat kencang sangat rentan terkoreksi dan karena adanya aturan pembatasan koreksi harian (ARB, Auto Reject Bawah) sebesar 7%.

Maka, ketika terjadi koreksi maka saham tersebut berpotensi terkena ARB beruntun sehingga investor berisiko 'nyangkut' alias tidak bisa melakukan penjualan.

Investor tentunya masih ingat dengan kejadian saham-saham farmasi pada awal tahun yang terkena ARB berjilid-jilid karena sempat hot sebelum Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin Covid-19.

Setelahnya ada pula kasus bank-bank mini alias bank BUKU II (bank dengan modal inti di bawah Rp 5 triliun) yang melesat akibat spekulasi POJK konsolidasi perbankan dimana bank gurem terpaksa menambah modal atau mempersilahkan investor strategis untuk masuk.

Pascaklarifikasi sejumlah emiten bahwa belum ada investor unicorn yang akan menyuntikkan dana, bank-bank mini tersebut longsor terkena ARB berjilid-jilid.

Menarik memang bertransaksi di saham yang pergerakannya sedang mengalami tren kenaikan kuat, akan tetapi investor memang tetap harus berhati-hati dan segera angkat kaki apabila tanda-tanda perbalikan arah harga saham sudah mulai terlihat.

Karena teori investasi yang utama tetaplah berlaku yakni semakin besar potensi keuntungan, semakin besar pula potensi kerugianya.

Jadi keputusan investasi kembali ke Anda para investor.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading