Saham Grup Salim 'Ngamuk' di Sesi I, Rupanya Ini Pemicunya

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
29 June 2021 12:12
anthoni salim (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham Grup Salim melonjak ke zona hijau pada sesi I perdagangan hari ini, Selasa (29/6/2021). Sentimen terbaru yang menjadi pendorong kenaikan saham-saham tersebut ialah terkait PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) mengumumkan telah membeli saham PT Nissan Financial Services Indonesia (NFSI) senilai Rp 380 miliar.

Berikut gerak saham-saham Grup Salim pada sesi I:

  1. Indomobil Multi Jasa(IMJS), +17,93%, ke Rp 342, transaksi Rp 35 M
  2. Indomobil Sukses Internasional(IMAS), saham +17,86%, ke Rp 990, transaksi Rp 22 M
  3. Indofood Sukses Makmur (INDF), +3,33%, ke Rp 6.200, transaksi Rp 32 M
  4. Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) +3,13%, ke Rp 8.225, transaksi Rp 31 M
  5. Indopoly Swakarsa Industry (IPOL), +2,50%, ke Rp 164, transaksi Rp 128 juta
  6. Nusantara Infrastructure (META), +1,59%, ke Rp 128, transaksi Rp 427 juta
  7. Salim Ivomas Pratama (SIMP), +0,47%, ke Rp 432, transaksi Rp 1 M
  8. PP London Sumatra Indonesia (LSIP), -0,51%, ke Rp 985, transaksi Rp 5 M
  9. Indoritel Makmur Internasional (DNET), -0,62%, ke Rp 3.190, transaksi Rp 46 juta
  10. Bank Ina Perdana (BINA), -3,38%, ke Rp 5.000 transaksi Rp 6 M

Menurut data di atas, dari 10 saham, 7 saham melonjak, sementara 3 sisanya terjerembap di zona merah. Saham emiten jasa finansial IMAS menjadi yang paling melonjak dengan kenaikan 17,93% ke Rp 342/saham, dengan nilai transaksi Rp 35 miliar. Saham ini berhasil rebound dari turun 0,68% pada perdagangan Senin (28/6) kemarin.


Dalam sepekan saham ini terkerek 12,50%, sementara dalam sebulan naik 3,01%.

DI posisi kedua ada saham induk usaha IMJS, IMAS, yang melejit 17,86% ke Rp 990/saham. Saham seperti saham IMJS, saham ini berhasil memantul lagi ke atas setelah pada Senin anjlok 5,08%.

Dalam sepekan saham ini melejit 9,39%, sementara dalam sebulan naik 0,51%.

Menurut keterbukaan informasi di website Bursa Efek Indonesia (BEI), Indomobil Multi Jasa telah membeli saham NFSI yang dimiliki oleh Nissan Motor Co., Ltd. (NML) senilai Rp 380 miliar atau setara dengan 562.500 lembar saham NFSI pada 24 Juni 2021.

Sebelum transaksi tersebut, kepemilikan Nissan Motor di NFSI sebanyak 75% atau setara dengan 562.500 lembar saham dan Indomobil Multi Jasa menguasai 15% atau 112.500 lembar saham. Sisanya, dimiliki oleh PT Tritunggal Inti Permata sebesar 10% atau 75.000 lembar saham.

Setelah transaksi, komposisi kepemilikan saham di NFSI menjadi berubah, dengan Indomobil Multi jasa memiliki 675.000 lembar saham atau 90% dari total saham perusahaan. Kemudian PT Tritunggal Inti Permata meraup 10% atau 75.000 lembar saham.

Dengan ini, Indomobil Multi Jasa resmi menjadi pemegang saham mayoritas dan pemegang saham pengendali dari Nissan Financial Services Indonesia.

"Dengan dilakukannya pengalihan hak atas saham dari NML ke IMJS, maka IMJ menjadi pemegang saham mayoritas sekaligus pemegang saham pengendali dari NFSI. Keputusan bisnis dan operasional dari NFSI akan disinergikan dengan IMJ sebagai pemegang saham pengendali," jelas Wakil Presiden Direktur IMJS Gunawan, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (29/6/2021).

Sementara saham produsen mie instan ICBP melejit 3,13% ke Rp 8.225/saham. Saham sang induk ICBP, INDF, juga terapresiasi 3,13% ke Rp 6.200/saham.

Kabar terbaru, ICBP telah mencatatkan penerbitan obligasi global dalam denominasi dolar senilai US$ 1,75 miliar atau setara dengan Rp 25 triliun (kurs Rp 14.300/US$) di Bursa Efek Singapura (SGX).

Berdasarkan keterbukann informasi di laman SGX, Indofood CBP telah mencatatkan obligasi tersebut pada 9 Juni 2021.

Emisi penerbitan terbagi menjadi dua tahap, pertama, senilai US$ 1,15 miliar atau Rp 16,45 triliun dengan tenor selama 10 tahun dan tingkat bunga 3,39%. Sedangkan, pada tahap kedua, emisi yang ditawarkan sebesar US$ 600 juta atau Rp 8,6 triliun dengan tenor 30 tahun dan tingkat bunga 4,47%.

Manajemen ICBP menyebutkan, kurs yang diacu dalam penerbitan tersebut sebesar Rp 14.105 per US$ per 31 Desember 2020.

Jika dibandingkan dengan nilai ekuitasanak usaha PT IndofoodSukses Makmur Tbk(INDF) per tanggal 31 Desember 2020, yaitu sebesar Rp 50,32 triliun, maka, nilai transaksi tersebut merupakan sekitar 49,1% dari nilai ekuitas perseroan.

Adapun saham perbankan BINA, misalnya, anjlok 3,38% ke Rp 5.000/saham. Ini adalah kali ketiga secara berturut-turut saham ini merosot di zona merah, setelah sebelumnya 10 hari melesat di zona hijau secara beruntun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading