Mau Delisting, Kinerja Tiphone Moblie Babak Belur

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
22 June 2021 18:10
Samsung Galaxy S9 dan S9 Plus

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten bergerak dalam bidang perdagangan telepon genggam, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) baru merilis laporan keuangan. Tapi bukan kuartal I-2021 dan Desember 2020, melainkan laporan keuangan kuartal I-2020.

Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,90 triliun pada kuartal pertama tahun 2020, turun 59,06% dari periode yang sama tahun sebelumnya sejumlah Rp 6,61 triliun.

Penurunan laba tersebut menyebabkan perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 186,67 miliar dari tahun sebelumnya di mana perusahaan masih memperoleh laba bersih senilai Rp 52,52 miliar.


Selain itu kondisi aset dan kewajiban utang perusahaan juga semakin memburuk.

Aset perusahaan tercatat turun 5,52% menjadi Rp 2,79 triliun dari semula Rp 2,95 triliun, dengan aset lancar tercatat sebesar 1,74 triliun dan kas perusahaan sebesar Rp 337,76 miliar.

Di sisi lain liabilitas perusahaan mengalami peningkatan dari semula Rp 4,60 triliun naik menjadi Rp 4,82 triliun dengan lebih dari 85% nya merupakan kewajiban jangka pendek.

Liabilitas perusahaan yang jauh lebih besar dari pada nilai aset yang dimiliki menjadikan perusahaan mengalami defisiensi modal, dengan ekuitas tercatat berada di angka negatif Rp 2,02 triliun meningkat 23% dari posisi sebelumnya sebesar negatif Rp 1,64 triliun.

Potensi delisting

Buruknya kondisi keuangan yang berpengaruh negatif pada perusahaan menyebabkan perdagangan sahamnya di bursa telah dihentikan untuk beberapa waktu. Tercatat saham ini satu tahun 'tidur' di papan bursa.

Hal ini berdasarkan Pengumuman Bursa Nomor: Peng-SPT-00009/BEI.PP2/06-2020 tanggal 10 Juni 2020 perihal Penghentian Sementara Perdagangan Efek PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE), serta Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa.

Berdasarkan peraturan tersebut di atas, bursa dapat menghapus saham perusahaan tercatat apabila:

  1. Ketentuan III.3.1.1, Mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Perusahaan Tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status Perusahaan Tercatat sebagai Perusahaan Terbuka, dan Perusahaan Tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.
  2. Ketentuan III.3.1.2, Saham Perusahaan Tercatat yang akibat suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, hanya diperdagangkan di Pasar Negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 (dua puluh empat) bulan terakhir.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, bursa melalui pengumuman No.: Peng-00009/BEI.PP2/06-2021 menyampaikan bahwa saham dan obligasi Tiphone Mobile Indonesia telah disuspensi di Seluruh Pasar selama 12 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 10 Juni 2022

PKPU dan Saham Telkom yang nyangkut

Berdasarkan dokumen Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 147/Pdt.Sus-PKPU/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst, kreditor TELE memberikan persetujuan terhadap rencana Perdamaian Para Debitor PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang).

Jumlah tagihan utang TELE kepada kreditor separatis mencapai Rp 2,78 triliun, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan kreditor terbesar sejumlah Rp 636,19 miliar selanjutnya ada PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) di posisi dua yang memiliki piutang sebesar Rp 564,94 miliar.

Adapun daftar pemegang saham TELE berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 30 November 2020 yang disampaikan pada tanggal 8 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

PT PINS Indonesia 1.754.641.247 (24,00%)

PT Upaya Cipta Sejahtera 2.728.700.000 (37,32%)

PT Esa Utama Inti Persada 481.894.100 (6,59%)

Haiyanto 580.542.900 (7,94%)

Masyarakat 1.765.151.142 (24,14%).

Salah satu pemegang saham tersebut adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Pemilikan ini dilakukan melalui anak usahanya PT PINS Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading