Bos Garuda: Semua Sewa Pesawat Kemahalan!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
21 June 2021 19:17
FILE PHOTO: Garuda Indonesia planes are seen on the tarmac of Terminal 3, Soekarno-Hatta International Airport near Jakarta, Indonesia April 28, 2017. REUTERS/Darren Whiteside

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyebutkan seluruh biaya sewa pesawat perseroan kemahalan, di atas harga yang ditawarkan di pasaran. Akibat mahalnya biaya sewa ini, saat ini perusahaan memiliki kewajiban kepada lessor mencapai US$ 700 juta atau sekitar Rp 10,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.500/US) yang masih belum dibayarkan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan dalam upaya penurunan biaya sewa pesawat ini, perusahaan terus melakukan negosiasi dengan pihak yang memberikan sewa untuk menurunkan biaya tersebut.

"Semua kemahalan Pak, semua kemahalan, semua kemahalan. Itulah yang kita negosiasi kemarin, tahun lalu, sudah turun 30%," kata Irfan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (21/6/2021).


Dia menjelaskan, saat ini terdapat dua hal yang dinegosiasikan ulang oleh perusahaan dengan lessor, yakni kewajiban di masa lalu yang masih belum dibayar dan kemudahan kewajiban di masa depan lantaran pesawat tersebut banyak tak dioperasionalkan karena tingkat permintaan penerbangan saat ini masih sangat rendah.

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Dony Oskaria menjelaskan saat ini perusahaan masih menanggung pembayaran 142 pesawat dengan total biaya mencapai US$ 80 juta per bulan. Padahal hanya 41 pesawat saja yang dioperasikan lantaran tingkat permintaan yang rendah.

Biaya ini berasal dari biaya sewa, biaya maintenance dan reparasi serta biaya maintenance lainnya.

"Leasing cost kita hanya US$ 56 juta per [per bulan] dari sebelumnya US$ 75 juta per bulan. Jadi ada kurang lebih US$ 80 juta per bulan yang wajib kita bayar secara buku," kata dia di kesempatan yang sama.

"Selisih dari dua ini [101 pesawat tak operasional] kurang lebih US$ 40 juta sendiri. Jadi kerugian kita itu sebenarnya murni karena tadi pesawat yang underutilized asset, yang asetnya tetap kita bayar secara fix cost kita tetapi pesawat tidak menghasilkan revenue," jelasnya.

Sehingga jika perusahaan tidak melakukan renegosiasi dengan lessor, meski mendapatkan bantuan pendanaan berupa penyertaan modal negara (PMN) dari pemerintah, perusahaan akan tetap merugi tiap tahunnya.

Hingga saat ini, kata dia, perusahaan telah mengembalikan sebanyak 20 pesawat kepada lessor. Saat ini proses nego dengan lessor lainnya masih terus berjalan atas tujuh pesawat yang disewa dan diharap bisa dikembalikan.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading