Saham Konstruksi WIKA-ADHI dkk Ambruk, Apa Pemicunya ya?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
21 June 2021 10:07
Foto aerial proyek pembangunan Jalan Tol Cengkareng -  Kunciran di kawasan Pinang, Tangerang, Banten, Jumat (5/3/2021). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyelesaikan tahap akhir pembangunan Jalan Tol Cengkareng - Batu Ceper - Kunciran sepanjang 14,19 Km. Saat selesai nanti, maka akan menghubungkan kawasan Serpong dan sekitar ke Bandara Soekarno-Hatta. Ruas tol ini merupakan salah satu dari 6 ruas Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR II) yang dibangun untuk melengkapi struktur jaringan jalan di kawasan Metropolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Progres konstruksi Jalan Tol Cengkareng - Batu Ceper - Kunciran saat ini telah mencapai 93,06 % dan ditargetkan selesai Maret 2021. Ruas tol ini dikelola oleh PT Jasamarga Kunciran Cengkareng (JKC) dengan nilai investasi sebesar Rp 1,96 triliun. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten konstruksi serempak tersungkur ke zona merah pada awal perdagangan pagi ini, Senin (21/6/2021). Saham-saham tersebut cenderung anjlok selama sepekan terakhir.

Berikut gerak saham konstruksi, pukul 09.37 WIB, mengacu data BEI:


  1. Acset Indonusa (ACST), saham -5,56%, ke Rp 204, transaksi Rp 2 M

  2. Waskita Beton Precast (WSBP), -4,22%, ke Rp 159, transaksi Rp 1 M

  3. Waskita Karya (WSKT), -3,57%, ke Rp 945, transaksi Rp 10 M

  4. Wijaya Karya (WIKA), -3,11%, ke Rp 1.090, transaksi Rp 6 M

  5. Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK), -2,74%, ke Rp 71, transaksi Rp 902 juta

  6. Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE), -2,67%, ke Rp 182, transaksi Rp 481 juta

  7. Total Bangun Persada (TOTL), -2,65%, ke Rp 294, transaksi Rp 137 juta

  8. Jasa Marga (JSMR), -2,56%, ke Rp 3.800, transaksi Rp 2 M

  9. Wijaya Karya Beton (WTON), -2,33%, ke Rp 850, transaksi Rp 3 M

  10. Adhi Karya (ADHI), -2,30%, ke Rp 850, transaksi Rp 3 M

  11. PP (PTPP), -1,03%, ke Rp 960, transaksi Rp 6 M.

Mengacu pada data di atas, saham emiten Grup Astra, ACST, menjadi yang paling ambles, dengan penurunan 5,56% ke Rp 204/saham. Ini adalah pelemahan saham ACST kali ketiga secara beruntun atau yang kelima kali dalam sepekan terakhir.

Alhasil, dalam sepekan saham ini anjlok 17,07%, sementara dalam sebulan ambrol 17,74%.

Di bawah saham ACST, ada saham WSBP yang melorot 4,22% ke Rp 159/saham dengan nilai transaksi Rp 1 miliar. Dengan ini, saham WSBP sudah ambles selama 6 hari perdagangan beruntun. Dalam sepekan saham ini merosot 10,11%, sementara dalam sebulan tergerus 9,60%.

Sama seperti sang anak usaha WSBP, saham WSKT juga terperosok 3,57% ke posisi Rp 945/saham. Ini membuat saham WSKT mencatatkan reli pelemahan selama 6 hari beruntun. Alhasil, dalam sepekan saham ini 'babak-belur' 10,85%.

Sebenarnya, ada sentimen positif terkait emiten konstruksi dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengenai divestasi jalan tol milik anak usaha perusahaan pelat merah di sektor konstruksi. Namun, para investor tampaknya tetap 'enggan masuk' ke saham-saham konstruksi akhir-akhir ini.

Diwartakan CNBC Indonesia sebelumnya, pada 3 Juni lalu, Erick Thohir menyampaikan kabar mengenai perkembangan divestasi jalan tol. Divestasi ini akan dilakukan melalui Indonesia Investment Authority (INA) yang sudah mendapatkan dana cukup besar dari tiga lembaga asing.

"Satu lagi dengan berdiri SWF mau tidak mau memang ada beberapa perusahaan BUMN akan diinvestasikan seperti jalan tol," kata Erick, saat rapat kerja dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (3/6).

Erick menjelaskan, SWF sudah mendapatkan pendanaan dari Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ), APG Asset Management (APG) dan anak usaha Abu Dhabi Investment Authority (ADIA). Nilai investasi tersebut mencapai Rp 54 triliun.

"Dana Rp 54 triliun itu bisa investasi di tol, terutama di Waskita (PT Waskita Karya Tbk/WSKT), Waskita dalam mode restrukturisasi," tambah Erick.

Sebelumnya INA telah membentuk konsorsium dengan Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ), APG Asset Management (APG) dan anak usaha Abu Dhabi Investment Authority (ADIA). Investasi keempat entitas ini akan difokuskan pada proyek infrastruktur jalan tol yang ada di Indonesia.

Juru Bicara Indonesia Investment Authority (INA), Masyita Crystallin mengungkapkan, selain ketiga entitas tersebut, ada banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi di jalan tol Indonesia. Apalagi saat ini infrastruktur jalan tol menjadi fokus utama investasi INA.

"Minat cukup banyak. Banyak investor yang nanya gak cuma yang tiga ini. Seperti kita ketahui ada banyak pembangunan tol di Jawa dan beberapa di luar Jawa seperti Sumatera sedang on going. Khusus saat ini yang dilihat investor global adalah ruas tol di Jawa," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (27/5/2021).

Menurutnya, banyaknya minat membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia semakin tumbuh. Apalagi saat ini Indonesia memang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur terutama di jalan tol.

"Ketertarikan ada karena memang investor global melihat traffic toll road di Jawa sangat baik. Mereka memang memperhatikan potensi infrastruktur di RI besar," kata dia.

Ia membocorkan, dalam waktu dekat akan ada tiga jalan tol yang segera dilakukan investasi oleh INA. Meski demikian, ia tidak memberitahukan dengan detail tol mana saja yang akan dimasuki oleh INA.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Besok Imlek! Ya Ampun....Saham ADHI dkk Merosot


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading