Ekspor-Impor RI Meroket, Rupiah Malah Melempem!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 June 2021 12:33
Ilustrasi Dollar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor dan impor Indonesia meroket di bulan Mei, sesuai dengan prediksi pasar, yang menjadi indikasi bangkitnya perekonomian di kuartal II-2021. Bagusnya data tersebut belum mampu membuat rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Selasa (15/6/2021).

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan stagnan di Rp 14.200/US$, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Pada pukul 12:00 WIB, rupiah berada di Rp 14.245/US$, melemah 0,32% di pasar spot.

Melihat pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang sedikit lebih kuat siang ini ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah berpeluang memangkas pelemahan. Meski demikian, untuk berbalik menguat cukup sulit.


PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 14:54 WIB
1 PekanRp14.242,50Rp14.236,8
1 BulanRp14.267,00Rp14.275,5
2 BulanRp14.310,00Rp14.315,6
3 BulanRp14.356,00Rp14.363,0
6 BulanRp14.508,00Rp14.515,0
9 BulanRp14.658,00Rp14.677,3
1 TahunRp14.830,00Rp14.834,8
2 TahunRp15.454,00Rp15.499,8

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 16,6 miliar. Turun 10,25% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM), tetapi melonjak 58,76% dari Mei 2020 (year-on-year/YoY).

Sementara nilai nilai impor Indonesia pada Mei 2021 adalah US$ 14,23 miliar. Turun 12,16% dibandingkan bulan sebelumnya MtM tetapi melejit 66,68% dibandingkan Mei 2020 YoY.

Dengan nilai ekspor impor tersebut, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 2,37 miliar.

Lonjakan impor bukan berarti hal yang buruk. Memang impor merupakan pengurang dari produk domestik bruto (PDB), tetapi impor Indonesia didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal, yang digunakan untuk kepentingan industri dalam negeri. Artinya, saat impor naik maka industri di dalam negeri kembali menggeliat.
Di sisi lain, kenaikan ekspor menjadi indikasi perekonomian global yang mulai pulih.

Meski demikian, bank sentral AS (The Fed) yang akan mengumumkan kebijakan moneter di pekan ini membuat pelaku pasar berhati-hati, yang membuat rupiah sulit menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading