Holding Ultra Mikro, Ini Prediksi Harga Rights Issue BRI

Market - Putra, CNBC Indonesia
15 June 2021 13:05
Dok: BRI

Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akan melaksanakan rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Kemudian juga rencana penyetoran saham dalam bentuk selain uang (Inbreng) oleh Negara Republik Indonesia selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) perseroan.

Dengan dua aksi korporasi ini, maka BBRI akan menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, sebagai bagian dari pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro.

Selanjutnya, BBRI bersama-sama dengan Pegadaian dan PNM akan mengembangkan bisnis melalui pemberian jasa keuangan di segmen ultra mikro, sehingga akan berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan.


Berdasarkan Keterbukaan Informasi yang dipublikasikan Selasa (15/6/2021), manajemen BBRI menyatakan pemerintah bermaksud membentuk Holding Ultra Mikro dengan BBRI sebagai induk dari Pegadaian dan PNM.

Sehubungan dengan itu, BBRI merencanakan Penambahan Modal HMETD dengan keterlibatan Pemerintah di dalamnya melalui HMETD dalam bentuk non tunai.

Berkaitan proses tersebut, Pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya (Inbreng") kepada BBRI dalam Pegadaian dan PNM. Rencana PMHMETD atau rights issue BBRI dan rencana Inbreng, selanjutnya, secara bersama-sama disebut rencana transaksi.

Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp 50, atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dengan adanya aksi korporasi ini, aset BBRI berpotensi melejit kencang. Per Q1 2021 saat ini aset BBRI tercatat sebesar Rp 1.411 triliun nantinya pasca aksi korporasi aset BBRI tercatat akan melejit ke angka Rp 1.515 triliun atau kenaikan sebesar 7,37%.

Sedangkan dari sisi liabilitas, walaupun bertambah, secara nominal tentunya tidak sebesar penambahan aset. Per kuartal pertama 2021 tercatat BBRI memiliki liabilitas sebesar Rp 1.216 triliun sedangkan pasca rights issue nantinya liabilitas akan naik 6% menjadi menjadi 1.289 triliun.

Kenaikan aset dan liabilitas ini tentunya akan menyebabkan ekuitas BBRI bertambah pasca HMETD, di mana ekuitas per akhir Maret 2021 berada di angka Rp 191 triliun menjadi Rp 226 triliun atau kenaikan 18,32%.

Nantinya setelah aksi korporasi ini laba bersih perseroan akan meningkat pesat dari posisi Q1 2021 di angka Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun atau melesat 14%. Apabila disetahunkan nantinya BBRI akan mampu mencetak laba Rp 32 triliun per tahun. Melejit 72% dari posisi tahun lalu di angka Rp 18,65 triliun.

Bahkan nantinya, aset dan ekuitas BBRI pasca rights issue berpotensi kembali meningkat mengingat adanya potensi pemegang saham publik juga akan turut menyetorkan modal dalam bentuk dana segar.

Jumlah dana segar yang akan diterima ini memang belum pasti, karena harga tebus RI BBRI masih belum ditentukan dan tentunya akan tergantung pula dari minat pasar menyerap RI ini.

Meskipun demikian, tanpa bermaksud mendahului, Tim Riset CNBC Indonesia mencoba menghitung berapa perkiraan harga penebusan rights issue BBRI dan berapa rasio RI yang didapatkan oleh investor.

Menurut keterbukaan informasi yang diterbitkan, perseroan disebut siap menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 lembar saham baru. Saat ini jumlah saham beredar BBRI berada di angka 123.345,810,000 lembar saham maka rasio RI kali ini akan berada di kisaran 10:43. Maka setiap investor yang memegang 43 lembar saham lama akan mendapatkan 10 HMETD yang dapat digunakan untuk menebus 1 saham baru di harga yang sudah ditentukan.

Tentunya berapa harga tebus RI kali ini akan sangat bergantung terhadap valuasi Pegadaian dan PNM yang nantinya tentu saja akan dinilai dan divaluasi oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen.

Akan tetapi apabila berasumsi nantinya Pegadaian dan PNM akan divaluasi sebesar 1 kali nilai bukunya (book value) maka harga tebus RI akan berada di kisaran Rp 2.150/unit sedangkan apabila kedua perseroan divaluasi di angka 1,5 kali buku maka harga tebus akan berada di kisaran Rp 3.225/unit. Sedangkan untuk valuasi PNM & Pegadaian di angka 2 kali buku maka harga tebus RI akan berada di kisaran Rp 4.301/unit.

Selanjutnya apabila menilik harga rata-rata terakhir BBRI di pasar reguler selama 90 hari terakhir yang bisa juga dijadikan acuan PSP untuk menentukan harga penebusan RI maka harga rata-rata 90 hari terakhir BBRI berada di angka Rp 4.387/unit

Sedangkan dari kabar yang beredar di kalangan para pelaku pasar sendiri harga penebusan RI BBRI kali ini akan berada di kisaran satu hingga dua kali nilai buku BBRI saat ini atau di angka Rp 1.554/unit hingga Rp 3.108/unit.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading