Cuek Dijegal Negara-negara G7, Harga Batu Bara Tetap Tinggi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 June 2021 10:53
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Usai tembus rekor tertinggi sepanjang tahun ini dan bahkan satu dekade terakhir, harga kontrak batu bara termal acuan ICE Newcastle mengalami koreksi. 

Pada perdagangan perdana minggu ini Senin (14/6/2021), harga kontrak yang aktif diperdagangkan tersebut melemah 2,42% ke US$ 121/ton. Kendati turun, harga batu bara masih tetap tinggi. 


Penurunan harga usai reli mencerminkan adanya aksi ambil untung oleh para trader. Di sisi lain batu bara juga sedang mendapat sentimen negatif dari negara-negara kaya yang tergabung dalam kelompok G7. 

Kelompok tersebut sepakat untuk menghentikan dukungannya terhadap bahan bakar fosil ini pada tahun 2021. Kesepakatan itu diteken dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diadakan di Cornwall, Inggris, pada 11-13 Juni 2021.

Mengutip Reuters, negara kaya tersebut menilai batu bara kurang ramah lingkungan. Mereka akan segera memindahkan dukungan ini kepada bentuk-bentuk riset dan perkembangan teknologi serta kebijakan yang lebih ramah lingkungan.

"Kami menekankan bahwa investasi internasional dalam batu bara harus dihentikan sekarang dan kami sekarang berkomitmen untuk mengakhiri dukungan langsung untuk pembangkit listrik batu bara termal (PLTU) internasional," kata tujuh negara anggota G7, Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Jepang, dikutip Senin (14/6/2021).

Mereka juga mengatakan bahwa batu bara saat ini menyumbang emisi yang sangat besar. Pembangkit listrik batu bara, kata kelompok itu, adalah penyebab tunggal terbesar dari emisi gas rumah kaca.

Mereka menambahkan kegiatan sustainable tak optimal mengurangi kenaikan suhu bumi karena masih bergantung pada bahan tambang yang satu ini. Perjanjian Paris menetapkan tujuan untuk tetap menjaga suhu udara global yang meningkat tak lebih dari 2 derajat Celcius dan juga berusaha agar tak melewati 1,5 derajat Celsius

"Investasi global yang berkelanjutan dalam pembangkit listrik tenaga batu bara yang belum berkurang masih sangat tidak sesuai dengan menjaga kenaikan 1,5 derajat Celsius," ujar kelompok tersebut.

Presiden AS Joe Biden yang berbicara setelah KTT juga menekankan komitmennya dalam investasi sebesar US$ 2 miliar (Rp 28 triliun) untuk mendukung negara-negara berkembang agar beralih dari PLTU. Ini juga realisasi kampanye politik Biden saat Pemilu 2020.

Sementara itu negara G7 lainnya berjanji untuk fokus pada teknologi lain untuk membantu mempercepat transisi dari batu bara.

"Kami akan fokus pada percepatan kemajuan pada elektrifikasi dan baterai, hidrogen, penangkapan karbon, penggunaan dan penyimpanan, penerbangan dan pengiriman nol emisi, dan bagi negara-negara yang memilih untuk menggunakannya, tenaga nuklir," ucap beberapa negara dalam rilis resminya.

Bagaimanapun juga peralihan dari batu bara ke energi yang lebih ramah lingkungan bukan persoalan mudah. Bagi negara-negara barat seperti AS dan Eropa memang konsumsinya terus menurun. 

Namun bagi negara-negara di kawasan Asia terutama negara berkembangnya batu bara masih menjadi salah satu bahan bakar yang lebih terjangkau. Beralih dari batu bara ke energi alternatif yang lebih sustainable butuh waktu dan investasi yang besar. 

Dalam kondisi krisis seperti sekarang ini banyak negara yang memanfaatkan momentum untuk mereformasi kebijakan energinya. Namun tetap saja pasar batu bara di kawasan Asia Pasifik tetap kuat didukung dengan kenaikan permintaan negara-negara konsumen seperti China, Jepang dan Korea Selatan. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading