Seminggu Drop 7,3% Harga Batu Bara Masih di Atas US$ 100/ton

Market - Tirta, CNBC Indonesia
07 June 2021 10:45
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal ICE Newcastle jatuh minggu lalu. Namun harga kontrak batu hitam yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka tersebut masih terjaga di level US$ 110/ton. 

Pada perdagangan terakhir pekan lalu Jumat (4/6/2021), harga kontrak batu bara termal Newcastle turun 2,09% ke US$ 110,25. Jika dihitung secara mingguan harga batu bara turun 7,3%. 

Ada indikasi harga memang sudah mencapai level jenuh beli (overbought) setelah tembus rekor tertinggi tahun ini di US$ 118,9/ton sehingga memicu para trader untuk merealisasikan keuntungannya (profit taking) yang memicu harga turun. 


Namun kenaikan harga batu bara masih ditopang oleh perbaikan fundamentalnya terutama di kawasan Asia. Kasus infeksi Covid-19 di India yang terus melandai membawa harapan permintaan bakal berangsur membaik. 

Peningkatan permintaan batu bara China yang tak diimbangi dengan pasokan mencukupi serta ancaman turunnya output serta disrupsi rantai pasok akibat memasuki periode musim hujan menjadi upside risk untuk harga batu bara. 

Selain China, fundamental pasar batu bara di Korea Selatan dan Jepang juga semakin kuat. Melansir Argus Media, kenaikan harga batu bara Korea Selatan didukung oleh prospek permintaan batu bara yang lebih kuat menyusul pemadaman yang tidak direncanakan pada reaktor nuklir Shin Kori 4 1.4GW.

Downtime diperkirakan akan berlangsung selama sekitar satu bulan, kata sumber di operator Korea Hydro and Nuclear Power. Pemadaman selama sebulan akan memotong ketersediaan nuklir Korea Selatan sebesar 3,2GW dibandingkan dengan pembangkitan aktual 19,5GW pada Juni tahun lalu.

Argus memperkirakan ini akan menambah dampak pemulihan permintaan listrik secara keseluruhan, dan kemungkinan akan meningkatkan pembangkitan dari batu bara dan gas bulan ini dibandingkan dengan Juni 2020.

Pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara Jepang juga secara bertahap dilonggarkan, yang dapat mendukung penggunaan batu bara yang lebih besar dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Hal ini jelas menjadi katalis positif untuk harga batu bara. 

Gangguan rel di Kolombia dan Rusia dan pemeliharaan rel mendatang di Afrika Selatan telah memperketat prospek fundamental batu bara berkalori tinggi, sementara pemuatan di Newcastle tetap kurang dari kecepatan tahun lalu pada tahap yang sama.

Naiknya harga LNG terkait minyak di Asia timur laut mungkin juga mendukung permintaan batu bara lintas laut, karena bahan bakar ini akan semakin kompetitif untuk pembangkit listrik seiring berjalannya tahun.


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading