Newsletter

Banyak Agenda Sepekan, IHSG Bakal Ngegas Gak Nih?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
07 June 2021 06:02
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang pekan lalu, pasar keuangan Tanah Air terlihat semringah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali ke level psikologis 6.000 dan sempat mencatatkan reli penguatan selama 5 hari beruntun.

Bursa saham nasional sepekan lalu juga melesat nyaris 4%. Ini menyusul kembalinya selera "mengambil risiko (risk appetite)" para investor di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi kuartal RI II-2021 dan perbaikan ekonomi AS.


Secara rinci, IHSG sepanjang pekan lalu terhitung melesat hingga 216,55 poin atau setara dengan 3,7% menjadi 6.065,166. Ini menguat setelah pada akhir pekan sebelumnya bertengger di level 5.848,616.

IHSG menguat tiga hari beruntun sejak perdagangan pertama pekan ini setelah pemerintah menyatakan optimisme terkait pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi bakal mencapai 8%.

Di sisi lain, perkembangan positif datang dari luar negeri setelah Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat pekan lalu melaporkan inflasi berbasis personal consumption expenditure (PCE) tumbuh lebih baik dari ekspektasi pasar. Data tersebut merupakan inflasi acuan bagi The Fed.

Inflasi inti PCE dilaporkan tumbuh 3,1% secara tahunan pada April, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 1,8%. Angka tertinggi sejak Juli 1992 ini juga melibas hasil survei Reuters terhadap ekonomi yang memprediksi angka 2,9%.

Hal ini mengindikasikan ekonomi AS yang 60% lebih ditopang konsumsi masih menguat. Terutama berkat suntikan stimulus.

Namun demikian laju reli cenderung melambat, hingga berakhir koreksi pada Jumat. Hal itu setelah data ketenagakerjaan AS lebih baik dari ekspektasi pasar, sehingga memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal segera mengerem kebijakan moneter.

Kebijakan itu dikhawatirkan memicu taper tantrum. Di mana investor global menarik dananya di pasar saham negara berkembang karena The Fed mengurangi aksi gelontoran likuiditasnya.

Di sisi lain, obligasi pemerintah AS kembali menawarkan imbal hasil tinggi seiring kenaikan inflasi. Sehingga menjadi lebih menarik bagi pada investor global.

Sementara, setelah sepekan sebelumnya menguat, rupiah sepanjang pekan lalu berbalik melemah dolar Amerika Serikat (AS), menyusul membaiknya data tenaga kerja dan kenaikan inflasi di Negara Adidaya tersebut.

Mata Uang Garuda bertengger di level Rp 14.290 per dolar AS, atau melemah 0,07% sepekan ini, setelah pada akhir pekan lalu menguat 0,49% di angka Rp 14.280/dolar AS. Rupiah hanya mampu menguat tipis pada Senin dan bahkan stagnan pada Selasa dan Rabu.

Sepanjang pekan lalu, indeks dolar AS tercatat menguat 0,09% menjadi 90,13. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap mitra dagang utamanya itu bahkan sempat menguat hingga 90,49 pada Kamis, yang merupakan level tertinggi sejak 13 Mei.

Indeks dolar AS terus menguat setelah Presiden bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) wilayah Philadelphia, Patrick Harker mengatakan saat ini waktu yang tepat untuk memikirkan mengenai pengurangan QE (quantitative easing).

Jika kebijakan itu dijalankan maka aksi borong surat berharga The Fed senilai US$ 120 miliar per bulan di pasar akan berkurang, yang artinya pasokan likuiditas ke pasar akan menurun. Dus, pasokan uang beredar akan menurun sehingga secara teoritis dolar AS pun menguat di pasar.

Kemudian, seiring dengan adanya isu tapering off dari Negeri Paman Sam, secara mayoritas SBN kembali ramai dikoleksi oleh investor. Ini ditandai dengan turunnya yield di sebagian besar obligasi pemerintah. Hanya di SBN bertenor 1 tahun yang cenderung dilepas oleh investor dan yield-nya mengalami kenaikan tajam.

Yield SBN bertenor 1 tahun dengan kode FR0061 naik signifikan sebesar 14,1 basis poin (bp) ke level 3,645%, dari sebelumnya di level 3,504% pada penutupan perdagangan Kamis (3/6) pekan lalu.Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara turun sebesar 1,4 bp ke posisi 6,44% pada Jumat.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Wall Street Gembira, Seiring Rilis Data Tenaga Kerja
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading