Net Buy-Sell

No Happy Weekend IHSG, tapi Asing Borong 4 Saham Big Cap!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
04 June 2021 16:55
Telkom Landmark Tower building, the headquarters of Indonesia's largest telcommunications services company PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), is seen in Jakarta, April 30, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat reli selama 6 hari beruntun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat (4/6/21) akhir pekan ini. Indeks bursa saham acuan RI tersebut ditutup melemah 0,43% ke level 6.065,17.

IHSG pun sempat menembus level psikologis 6.100 pada perdagangan pagi hari ini, namun pada akhirnya ditutup kembali di bawah level psikologi 6.100. Reli selama enam hari beruntun membuat IHSG rawan terkena aksi ambil untung (profit taking) oleh investor.

Data BEI mencatat, nilai transaksi hari ini mencapai Rp 11,1 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 251 miliar di pasar reguler. Terpantau 205 saham menguat, 299 melemah, dan sisanya 142 mendatar.


Walaupun IHSG melemah, namun asing tercatat membeli empat saham big cap, di mana tiga diantaranya merupakan saham perbankan big cap. Adapuntiga saham perbankan big cap tersebut yakni saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Selain membeli tiga saham perbankan big cap, asing juga membeli satu saham big cap sektor telekomunikasi, yakni saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)

Berikut saham-saham yang dikoleksi oleh investor asing pada perdagangan akhir pekan Jumat (4/6/2021).

Walaupun begitu, asing juga tercatat melepas beberapa saham, di mana saham milik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, yakni saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menjadi incaran aksi jual investor asing pada hari ini. Adapun saham-saham yang dilepas oleh asing hari ini adalah:

Isu tapering (pengurangan stimulus bank sentral AS) kembali muncul setelah Presiden bank sentral Amerika Serikat (AS) wilayah Philadelphia, Patrick Harker mengatakan saat ini waktu yang tepat untuk memikirkan mengenai pengurangan QE (quantitative easing).

Isu tersebut semakin menguat setelah rilis data tenaga kerja AS kemarin. Automatic Data Processing Inc. (ADP) kemarin melaporkan sepanjang bulan Mei sektor swasta AS menyerap 978.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian. Penambahan tersebut jauh lebih banyak ketimbang bulan sebelumnya 654.000 tenaga kerja.

Data ini biasanya dijadikan acuan rilis data tenaga kerja versi pemerintah AS yang dikenal dengan istilah non-farm payrolls (NFP). Hasil survei dari Dow Jones memperkirakan NFP sepanjang bulan Mei sebanyak 671.000 pekerja, naik dari bulan sebelumnya 266.000 tenaga kerja.

Data tenaga kerja AS merupakan salah satu acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter, selain data inflasi.

Pada Jumat pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (28/5/2021) lalu melaporkan data inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE). Data tersebut merupakan inflasi acuan bagi The Fed.

Inflasi PCE inti dilaporkan tumbuh 3,1% year-on-year (yoy) di bulan April, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 1,8% yoy. Rilis tersebut juga lebih tinggi ketimbang hasil survei Reuters terhadap para ekonomi yang memprediksi kenaikan 2,9%. Selain itu, rilis tersebut juga merupakan yang tertinggi sejak Juli 1992, nyaris 30 tahun terakhir.

Inflasi yang tinggi, serta pasar tenaga kerja yang menguat maka ekspektasi tapering pun semakin kencang. Kecemasan akan taper tantrum kembali muncul.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading