Analisis

Bos Indofood Anthoni Salim 'Borong' 3 Saham Ini, Cuan Berapa?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
04 June 2021 09:16
Anthoni Salim

Jakarta, CNBC Indonesia - Diam-diam bos besar Grup Indofood Anthoni Salim menambah kepemilikan atas saham emiten data center milik pengusaha teknologi Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dari semula 3,03% kini menjadi 11,12%.

Menurut daftar pemegang saham di atas 5% yang dipublikasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 2 Juni 2021, transaksi pembelian ini dilakukan pada 31 Mei 2021 dengan harga Rp 5.277/saham.

Total jumlah saham baru yang dibeli oleh Anthony Salim adalah sejumlah 192,74 juta, sehingga nilai transaksi ini mencapai Rp 1,01 triliun.


Sebelumnya, Anthoni Salim telah menguasai 72,29 juta saham DCII atau 3,03% dari total saham, dan setelah pembelian baru ini kepemilikan saham Bos Indofood ini mencapai 265 juta saham.

Praktis, sang generasi kedua Grup Salim ini tercatat masuk ketiga saham dengan kepemilikan di atas 5%.

Catatan saja, ini belum termasuk investasi Grup Salim melalui emiten 'kendaraan investasi'-nya, PT Indoritel Makmur InternasionalTbk(DNET), dan lewat Indolife.

Selain DCII, sebelumnya Anthoni Salim juga sudah menggenggam 9,08% atau setara dengan 5,12 miliar saham emiten konglomerasi sektor teknologi, media dan kesehatan, yang dikuasai taipan Eddy K. Sariaatmadja, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) alias Emtek.

Berdasarkan laporan registrasi kepemilikan saham di atas 5% Emtek pada 31 Januari 2021, Anthoni tercatat masuk ke saham EMTK dengan tanggal transaksi akhir per 18 Januari 2021.

Menurut catatan CNBC Indonesia sebelumnya, transaksi pembelian yang dilakukan Anthoni tersebut dilakukan enam kali secara bertahap. Hanya saja belum disebutkan nilai pembelian dalam enam tahap tersebut.

Sebelum masuk ke saham DCII dan EMTK, Anthoni juga sudah memiliki 25,30% atau 3.588.278.023 saham DNET. DNET sendiri merupakan perusahaan asosiasi pengelola gerai Indomaret PT Indomarco Prismatama.

Lantas, pertanyaannya, bagaimana kinerja ketiga saham emiten yang dimiliki Anthoni Salim tersebut secara year to date (ytd) hingga Kamis kemarin (3/6)?

Menurut tabel di atas, saham DCII menunjukkan kinerja 'gila-gilaan' dibandingkan dengan dua emiten sisanya.

Asal tahu saja, khusus untuk DCII, perhitungan ytd menggunakan tanggal pertama emiten ini melantai di bursa, yakni 6 Januari.

Sejak awal melakukan initial public offering (IPO), saham DCII sudah meroket to the moon 4.614,28%. Sementara, saham ini secara berturut-turut menyentuh batas auto rejection atas (ARA) 20% dalam 3 hari perdagangan terakhir, tersengat sentimen masuknya Anthoni ke saham perusahaan.

Memang, apabila menilik secara sektor, saham DCII bisa dikatakan sebagai penggerak utama indeks IDX sector Technology (IDX Techno), indeks yang berisi saham-saham teknologi yang resmi dibikin per 25 Januari tahun ini.

Lihat saja, berdasarkan data statistik harian BEI per Kamis (3/6), secara ytd IDX Techno sudah ngacir 322,45%, jauh di atas kinerja indeks sektor lainnya, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 1,88%, atau LQ45 yang malah minus 1,69%.

Jika menilik fundamental perusahaan, sepanjang tahun lalu DCII membukukan kinerja yang positif. Perusahaan mencetak laba bersih senilai Rp 183,14 miliar, melesat 71,74% dari laba bersih tahun sebelumnya.

Kenaikan laba bersih tersebut seiring kenaikan pendapatan usaha, dari Rp 489,86 miliar pada 2019, melonjak 55,02% menjadi Rp 759,37 miliar.

Mengenai strategi bisnis perusahaan, seiring dengankebutuhan pasar data center di Indonesia terus berkembang, DCII berencana akan membangun gedung data center baru di dalam area data center seluas 8,5 hektar dengan total kapasitas listrik sebesar 200 MW.

Saham EMTK juga punya kinerja yang moncer sejak awal tahun, dengan lonjakan sebesar 65% di posisi Rp 2.310/saham.

Salah satu sentimen utama yang mengungkit saham induk saluran televisi SCTV dan Indosiar ini ialah masuknya raksasa penyedia jasa ride-hailing Grab Holdings Inc. (Grab) dengan membeli 4,6% saham Emtek lewat H Holding Inc.

Berbeda nasib dengan saham DCII dan EMTK, saham DNET malah ambles 6,29% ke harga Rp 3.280/saham sejak awal tahun. Sentimen negatif terbaru yang mempengaruhi gerak saham DNET ialah soal rencana aksi kampanye boikot produk Indomaret oleh kalangan buruh pada pekan lalu.

Aksi boikot ini bermula saat salah satu perkerja Indomaret menjadi tersangka karena karena menuntut Tunjangan Hari Raya (THR) 2020. Namun, sebagaimana diwartakan CNBC Indonesia pada Rabu (3/6), kalangan serikat buruh dan manajemen Indomaret akhirnya memilih jalan damai, sehingga memastikan rencana aksi boikot tak akan dilakukan.

Dengan masuknya Anthoni Salim ke DCII, sang taipan kaya raya ini praktis semakin memperluas portofolionya, mulai dari bisnis 'warisan' barang konsumer di Indofood, ke emiten kendaraan investasi Emtek, sampai ke emiten teknologi penyimpanan data.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading