Analisis

Prihatin! Giant Tutup Semua Gerai, Gimana Nasib Peritel RI?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
02 June 2021 13:10
@TikTok: shinta84.66

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi sektor ritel di Tanah Air semakin memprihatinkan. Dampak pembatasan pergerakan orang-orang akibat pandemi Covid-19 dan perubahan preferensi berbelanja konsumen ke platfom daring (online) tampaknya semakin mempercepat kejatuhan peritel modern.

Pada Selasa (25/5) pekan lalu, manajemen PT Hero Supermarket Tbk. (HERO) mengungkapkan semua gerai Giant akan ditutup pada Juli 2021. Selain itu, Hero akan mengubah hingga lima gerai Giant menjadi IKEA sebagai langkah strategis perusahaan.

"Perseroan juga sedang mempertimbangkan untuk mengubah sejumlah gerai Giant menjadi gerai Hero Supermarket," kata Direktur HERO Hardianus Wahyu Trikusumo, dalam keterbukaan informasi di BEI, Selasa lalu (25/5/2021).


Dia menjelaskan perusahaan strategi ini merupakan respons cepat dan tepat perusahaan yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar, terlebih terkait beralihnya konsumen Indonesia dari format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir, sebuah fenomena yang juga terjadi di pasar global.

Kabar kurang menggembirakan tersebut sontak semakin menambah awan gelap sektor ritel Tanah Air, setelah sebelumnya pengelola Centro Departement Store, PT Tozy Sentosa, dinyatakan pailit, serta 'babak belurnya' kinerja keuangan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF).

Hingga Maret 2021, gerai Giant hanya tersisa 75 gerai, untuk Giant Ekstra maupun Giant Ekspres. Sepanjang 2019 hingga Maret 2021 ada 25 gerai Giant yang ditutup.

Pada awal 2021 setidaknya ada tiga gerai Giant yang terkonfirmasi yang tutup yakni Giant Ekstra di Margo City Depok, Giant Mayasari Plaza Tasikmalaya dan Giant Kalibata.

Kemudian pada April 2021, penutupan gerai hypermarket Giant milik PT. Hero Supermarket Tbk bertambah satu lagi. Kali ini Giant Ekstra di Pamulang, Tangsel, Banten resmi tutup.

Kinerja Keuangan Tertekan

Memang, bila dilihat dari sisi fundamental, kinerja keuangan HERO pada tahun 2020 cukup tertekan.

Hal ini terlihat dari kerugian tahun berjalan 2020 yang lebih dalam sebesar Rp 1,21 triliun, bengkak 4.203% dibanding tahun sebelumnya rugi bersih Rp 28,21 miliar.

Anjloknya kerugian bersih ini tercermin dari pendapatan bersih HERO sepanjang tahun 2020 yang mengalami penurunan sebesar 26,98% menjadi Rp 8,89 triliun dari sebelumnya Rp 12,18 triliun.

Penurunan terbesar terjadi di segmen penjualan makanan sebesar 32,67% menjadi Rp 6,05 triliun. Sedangkan, penjualan di segmen non makanan juga turun hampir 11 persen menjadi Rp 2,84 triliun.

Kinerja keuangan perseroan juga masih cukup tertekan pada kuartal pertama di tahun ini meski dari segi nilai kerugian sudah berkurang.

Pada kuartal I tahun ini, HERO kembali membukukan rugi bersih sebesar Rp 1,65 miliar secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini mengecil tinimbang rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 43,56 miliar.

Meruginya HERO diiringi dengan anjloknya penjualan dan pendapatan usaha, sebesar 30,20% menjadi Rp 1,76 triliun. Apabila ditilik per kuartalan, HERO terakhir membukukan laba bersih pada akhir Juni 2019. Sementara, apabila ditilik secara tahunan emiten ini terakhir meraup laba bersih pada 2016 atau sekitar 5 tahun lalu.

NEXT: Ritel dan Nasib Karyawan Giant

Data Penjualan Ritel, Nasib Karyawan Giant & Peritel ke Depan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading