Elon Musk 'Buang' Bitcoin, Waktunya Borong Emas Lagi nih?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 May 2021 18:10
Elon Musk, co-founder and chief executive officer of Tesla Inc., arrives in a modified Tesla Model X electric vehicle during an unveiling event for the Boring Co. Hawthorne test tunnel in Hawthorne, California, U.S., December 18, 2018.  Robyn Beck/Pool via REUTERS

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bitcoin kembali merosot pada perdagangan Minggu kemarin dan sempat berlanjut pada hari ini, Senin (17/5/2021). Sebaliknya, harga emas malah sedang menanjak, bahkan ada yang memprediksi akan kembali lagi ke US$ 2.000/troy ons di tahun ini.

Melansir data Refinitiv, harga Bitcoin pada hari Minggu anjlok hingga 8,65% ke US$ 44.055,38/BTC. Sementara pada hari ini Bitcoin sempat jeblok 4,37% ke US$ 42.130,28/troy ons. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 8 Februari lalu.

Jebloknya Bitcoin merespon kicauan Elon Musk yang hanya berisi satu kata saja "indeed" atau "tentunya".


Kicauan tersebut merupakan balasan dari pernyataan Mr. Whale melalui akun Twitter @CryptoWhale.

"Para pecinta Bitcoin akan menampar dirinya sendiri pada kuartal selanjutnya ketika mereka tahu Tesla menjual sisa Bitcoin yang dimiliki. Dengan banyaknya kebencian yang didapat @elonmusk, saya tidak akan menyalahkannya," kicau Mr. Whale



Kicauan tersebut dibalas Elon Musk hanya dengan kata "tentunya", harga Bitcoin pun rontok.

Sebagian pelaku pasar tentunya mengintepretasikan kicauan tersebut jika Elon Musk akan "membuang" Bitcoin yang dimiliki melalui Tesla Inc.

Tetapi kicauan selanjutnya membuat Bitcoin perlahan bangkit. Elon Musk membalas kicauan @BTC_Archive yang mengatakan bitcoin sudah anjlok 20% sejak pekan lalu gara-gara kicauan Elon Musk, dan orang-orang menjadi marah.

Elon Musk membalas dengan mengatakan "Untuk menghilangkan spekulasi, Tesla tidak menjual Bitcoinnya".

Alhasil, harga bitcoin berhasil rebound, pada pukul 16:53 WIB diperdagangkan di kisaran US$ 45.353,06/BTC, menguat nyaris 2%.

Di sisi lain, emas yang selama ini digerogoti oleh Bitcoin perlahan mulai menanjak. Emas pada hari ini sempat menguat 0,71% ke US$ 1.855,2/troy ons. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2 Februari lalu.

Steven Dunn analis dari Aberdeen Standard Investments memprediksi harga emas akan mencapai US$ 2.000 lagi di semester II tahun ini sebab inflasi di AS yang tinggi serta potensi volatilitas di pasar finansial.

Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi serta aset aman (safe haven) sehingga inflasi yang tinggi serta volatilitas di pasar finansial akan menguntungkan bagi emas.

"Emas belum menunjukkan kinerja yang bagus di tahun 2021. Saya selalu memperkirakan semester II tahun ini akan lebih menarik bagi emas dan kita akan mulai melihatnya beberapa bulan lebih awal," kata Dunn sebagaimana dilansir Kitco Kamis (13/5/2021).

Departemen Tenaga Kerja AS Rabu lalu melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April melesat atau mengalami inflasi 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Rilis tersebut jauh lebih tinggi ketimbang hasil survei Dow Jones sebesar 3,6%.

Sementara dari bulan Maret atau secara month-to-month (mtm) tumbuh 0,8%, juga jauh lebih tinggi dari survei 0,2%.

Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 3% yoy dan 0,9% mtm, lebih dari dari ekspektasi 2,3% yoy dan 0,3% mtm.

Kenaikan inflasi secara tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008, sementara secara bulanan terbesar dalam 40 tahun terakhir.

Jika dalam beberapa bulan ke depan inflasi terus tinggi, maka spekulasi bank sentral AS (The Fed) akan mengetatkan kebijakan moneternya lebih cepat dari perkiraan akan semakin menguat.

Jika itu terjadi, pasar finansial global akan mengalami volatilitas tinggi sehingga akan menguntungkan bagi emas yang menyandang status safe haven.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cuitan Elon Musk Bikin Bitcoin Lemas


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading