Singapura 'Lockdown' Lagi, Dolarnya kok Menguat Tajam?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 May 2021 11:20
Ilustrasi Penukaran Uang (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak bulan Oktober 2020 lalu kasus penyakit virus corona (Covid-19) di Singapura terbilang minim, tetapi kini lockdown malah kembali diterapkan.

Penyebabnya sudah pasti, kasus Covid-19 yang kembali menanjak. Meski demikian, dolar Singapura masih mampu menguat tajam melawan rupiah pada hari ini.

Pada pukul 10:33 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.686,19, dolar Singapura menguat 0,34% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Penguatan tersebut tidak lepas dari aksi bargain hunting, setelah pada pekan lalu merosot hingga ke level terendah dalam lebih dari 2 bulan terakhir. Mata Uang Negeri Merlion ini mulai melemah melawan rupiah sejak 29 April, hingga pekan lalu total pelemahannya lebih dari 2,6%.

Mulai Minggu kemarin, Singapura kembali mengetatkan pembatasan kegiatan publik dan akan berlangsung dalam satu bulan ke depan.

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan pembatasan dilakukan mulai dari aturan pertemuan tatap muka maksimal dua orang serta larangan makan di restoran.
Seluruh aktivitas perkantoran pun disetop dan warga Singapura akan kembali bekerja dari rumah (work from home).

Kebijakan tersebut dilakukan guna meredam penyebaran Covid-19 yang kembali meningkat. Hingga Minggu siang kemarin, Singapura melaporkan kasus Covid-19 di 38 komunitas. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April tahun lalu ketika virus corona dilaporkan menyerang 40 komunitas.

Dari 38 komunitas tersebut, sebanyak 7 orang dilaporkan virus corona mutasi B1617 yang pertama kali terdeteksi di India.

Total kasus aktif Covid-19 di Singapura saat ini sebanyak 450 orang. Meski kasusnya tidak banyak, tetapi tren penambahan kasus tersebut menjadi kemunduran bagi Singapura, sehingga lockdown kembali harus diterapkan.

Sementara itu dari Indonesia, pelaku pasar juga was-was akan kemungkinan melonjaknya kasus Covid-19 pasca libur Hari Raya Idul Fitri. Sebab, meski sudah dilarang, masih banyak warga yang mudik Lebaran, begitu juga tempat-tempat wisata yang penuh. Hal tersebut tentunya berisiko meningkatkan kasus Covid-19.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading