Ambles 3,25%, Harga Batu Bara Masih Nyaman di atas US$ 100

Market - Tirta, CNBC Indonesia
17 May 2021 10:45
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Untuk pertama kalinya sejak akhir Januari 2019, harga batu bara termal ICE Newcastle tembus US$ 100/ton. Minggu lalu harga kontrak batu bara sempat mencapai US$ 104,65/ton. Namun setelahnya harga batu bara langsung balik arah. 

Pada perdagangan terakhir pekan lalu harga si batu legam anjlok 3,25%. Ada indikasi bahwa para trader yang tadinya ambil posisi beli (long) pada kontrak futures kini beralih ke posisi jual (short). 

Tembusnya harga batu bara ke level psikologis US$ 100/ton dimanfaatkan untuk merealisasikan keuntungan. Meskipun turun tajam harga batu bara masih di US$ 101,25/ton. Peluang penurunan lebih lanjut masih sangat terbuka.


Si batu legam kini tercatat sudah membukukan penguatan selama tiga minggu beruntun dimana dua pekan sebelumnya batu bara naik masing-masing 7% dan 4,75%.

"Data terbaru menunjukkan batu bara thermal 5.500 kcal naik 15% dalam 2 pekan terakhir menjadi 900 yuan per ton di pelabuhan China," kata Colin Hamilton dari BMO Capital Markets, sebagaimana dilansir Investors Chronicle, Kamis (13/5/2021).

Menurut Hamilton beberapa indikator menunjukkan permintaan batu bara dari China masih akan tinggi, sehingga harganya masih akan terjaga.

Kenaikan harga hingga 15% tersebut terjadi bahkan sebelum puncak permintaan di musim panas. Selain permintaan, hubungan China-Australia yang memburuk juga membuat harga batu bara melesat.

Hamilton mengatakan China justru meningkatkan impor batu bara dari Indonesia dan Rusia. Peningkatan permintaan dari Negeri Tiongkok juga diakui pemerintah Indonesia.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan permintaan konsumsi batu bara Tiongkok sepanjang kuartal I-2021 mengalami lonjakan pesat guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.

"Permintaan batu bara banyak datang guna memenuhi kebutuhan pembangkit Tiongkok," kata Agung, seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa (4/5/2021).

Namun menurut Agung, kenaikan tersebut tidak sebanding dengan produksi di dalam negeri. Harga Batu Bara Acuan (HBA) Indonesia juga terus naik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan HBA bulan Mei sebesar US$ 89,74 per ton. Besaran ini meningkat US$ 3,06 per ton dari HBA April, yakni US$ 86,68 per ton.

Apabila tren batu bara di harga US$ 100/ton menjadi pola pergerakan baru tak menutup kemungkinan HBA Juni bakal tembus US$ 90/ton. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading