Internasional

Usai Tragedi Sriwijaya Air, 143 Pesawat Boeing Harus Inspeksi

Market - Tito Bosnia, CNBC Indonesia
16 May 2021 18:43
Kerabat penumpang menunggu laporan informasi keterangan Pesawat Sriwajaya Air di posko krisis Sriwijaya Air di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Indonesia, Sabtu, 9 Januari. , 2021.(AP Photo/Tatan Syuflana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas penerbangan sipil AS, Administrasi Penerbangan Federal (Federal Aviation Administration/FAA) memerintahkan Boeing, pabrikan pesawat yang sahamnya tercatat di Bursa New York Stock Exchange (NYSE), untuk menginspeksi jenis 737 generasi lama, usai kecelakaan Sriwijaya Air yang menewaskan 62 orang di Indonesia pada awal Januari 2021 silam.

Menurut sebuah dokumen regulator penerbangan AS tersebut, semua pesawat Boeing tipe 737-700, 737-400 dan 737 -500 harus diperiksa dengan jumlah total sebanyak 143 pesawat, dilansir dari AFP, pada Minggu (16/5/21).

Gagalnya "flap synchro wire" yang tak terdeteksi komputer throttle otomatis yang mengatur daya dorong pesawat, berpotensi mengakibatkan hilangnya kendali pesawat.


"Data awal penyelidikan yang masih berlangsung memperlihatkan bahwa sangat kecil kemungkinan kecelakaan itu disebabkan oleh kegagalan laten flap synchro wire," ujar FAA.

Dokumen itu menyebut pemeriksaan atau inspeksi tersebut diperlukan untuk mengatasi kondisi tidak aman yang diidentifikasi dapat ditemukan pada pesawat buatan tahun 1980-an dan 90-an.

Sementara model Boeing 737 yang lebih modern, termasuk 737 MAX yang dilarang terbang selama 20 bulan pascadua kecelakaan mematikan, tidak terdampak perintah inspeksi tersebut.

"Boeing berusaha untuk memastikan bahwa pesawat kami aman dan memenuhi semua persyaratan. Kami terus berkomunikasi dengan pelanggan kami dan FAA dan terlibat dalam upaya berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan dan kinerja di seluruh armada", ujar perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air Boeing 737-500 jatuh dari ketinggian 10.000 kaki (3.000 meter) ke perairan Kepulauan Seribu beberapa menit setelah lepas landas dari Jakarta, pada 9 Januari 2021. Seluruh penumpang termasuk pilot dan awak pesawat ikut tewas di dalamnya.

Adapun pada 29 Oktober 2018 pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang. Sebanyak 189 orang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, 1 penumpang anak, 2 bayi, 2 pilot, 5 kru dinyatakan meninggal dunia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading