Amsyong! Perusahaan Jack Ma Rugi Rp 12,02 T

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 May 2021 11:30
Jack Ma, executive chairman of the Alibaba Group, looks up during a panel discussion held as part of the China Development Forum at the Diaoyutai State Guesthouse in Beijing, Saturday, March 19, 2016. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan milik Jack Ma, Alibaba membukukan kerugian pertama kali sejak menjadi perusahaan publik pada kuartal keempat, di akhir Maret 2021. Kerugian ini terjadi setelah perusahaan membayarkan denda antimonopoli senilai US$ 2,8 miliar (Rp 40,60 triliun, asumsi kurs Rp 14.500/US$) pada bulan lalu.

Dilansir dari CNBC, Alibaba mencatatkan kerugian 5,47 miliar yuan atau Rp 12,02 triliun (asumsi kurs Rp 2.199/yuan). Jauh dari prediksi analis yang membukukan keuntungan 6,95 miliar yuan.

Meruginya perusahaan disebabkan karena kerugian operasional mencapai 7,66 miliar yuan (RP 111,07 triliun) akibat harus membayarkan denda.


CEO Daniel Zhang mengatakan ini adalah pertama kalinya Alibaba melaporkan kerugian operasional sebagai perusahaan publik.

Namun pendapatan dari operasional bisa menjadi 10,56 miliar yuan, naik 48% YoY.

Pada periode tersebut, pendapatan Alibaba tumbuh 64% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 187,39 miliar yuan (Rp 412,07 triliun). Angka ini melebihi ekspektasi yang sebesar 180,41 miliar.

Namun nilai pendapatan per saham (earnings per share/EPS) hanya mencapai 10,32 yu, di bawah perkiraan yang senilai 11,12 yuan. Meski angka tersebut naik 12% YoY.

Ekspektasi kinerja perusahaan ini dinilai mulai mengalami masalah setelah diundurnya penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Ant Financial menjadi November tahun ini. Perusahaan ini ditargetkan akan memiliki nilai IPO senilai US$ 34,5 miliar

Sementara itu, untuk tahun fiskal 2022 perusahaan menargetkan pendapatan sebesar 930 miliar yuan (Rp 13.485 triliun) atau naik 29,65% YoY.

Dari segi kontribusi pendapatan, bisnis e-commerce menjadi kontributor utama pendatan. Mengalami pertumbuhan 72% menjadi 161,39 miliar yuan (Rp 354,89 triliun), didorong karena peralihan pembelian masyarakat menjadi online.

Pertumbuhan Bisnis Logistik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading