Alibaba Bikin Investor Rugi Rp 1.900 T Lebih, Kok Bisa?

Market - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
13 February 2022 09:40
Visitors and staff members walk past an electronic display at a booth for Chinese technology firm Alibaba at the China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) in Beijing, Friday, Sept. 3, 2021. E-commerce giant Alibaba Group said Friday it will spend $15.5 billion to support President Xi Jinping's campaign to spread China's prosperity more evenly, adding to pledges by tech companies that are under pressure to pay for the ruling Communist Party's political initiatives. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dingin antara pemerintah China dan pendiri Alibaba Jack Ma membuat investor merana. Ini karena saham perusahaan tersebut terus anjlok hingga setara dengan Rp 1.900 triliun.

Sebagai informasi, saham Alibaba yang diperdagangkan di bursa New York merosot 27,8% sepanjang tahun ini. Pada 9 Februari 2022, kapitalisasi pasar perusahaan tergerus dari US$479 miliar menjadi US$344 miliar atau sebanyak US$135 miliar.

Maka diperkirakan kerugian para investor akibat saham Alibaba yang terus menurun mencapai Rp 1.939 triliun (kurs rupiah Rp 14.350).


Nama besar yang ada di jajaran pemegang saham Alibaba adalah Softbank Group Corp milik Masayoshi Son. Perusahaan itu mempunyai 673,76 juta saham atau hampir 25% total saham outstanding.

Nasib buruk Alibaba itu dimulai saat Jack Ma menjual kepemilikan sahamnya senilai US$ 8,2 miliar pada Juli 2020.

Hal itu berlanjut saat Jack Ma mengkritik pemerintahan China beberapa waktu lalu. Dia menyampaikan regulasi keuangan negara itu sudah kuno.

Selain itu, Jack Ma juga mengatakan regulasi perbankan China harus diubah. Sebab selama ini mempunyai mentalitas pegadaian, yakni cara bank beroperasi.

Saat bank menyalurkan kredit maka akan meminta jaminan atau kolateral. Jadi saat terjadi default, jaminan tidak bisa disita oleh bank.

Tak sampai di sana, Jack Ma juga menyebut kebijakan tersebut kolot dan orang yang berada di balik industri perbankan sebagai orang tua.

Jack Ma mengkritik aturan yang dibuat pemerintah China, yang disebut olehnya menghambat inovasi penting untuk pertumbuhan bisnis. Dia menambahkan China kekurangan orang yang bisa membuat kebijakan selaras dengan semangat pembangunan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kabar Alibaba & Merger XL, Bos Smartfren Buka-bukaan Faktanya


(npb/npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading