Duh! Profit Taking Picu Saham Properti Drop Berjamaah

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
11 May 2021 09:49
Foto udara pembangunan perumahan di kasawan bojong sari, Depok, Jawa Barat. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten properti ramai-ramai tersungkur di zona merah pada pagi ini, Selasa (11/5/2021). Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan Senin (10/5) kemarin saham-saham tersebut cenderung ditutup menguat.

Berikut gerak saham properti, pukul 09.20 WIB.

  1. Summarecon Agung (SMRA), saham -2,08%, ke Rp 940, transaksi Rp 1 M


  2. Ciputra Development (CTRA), -1,72%, ke Rp 1.140, transaksi Rp 275 juta

  3. Sentul City (BKSL), -1,35%, ke Rp 73, transaksi Rp 953 juta

  4. Bumi Serpong Damai (BSDE), -1,25%, ke Rp 1.185, transaksi Rp 522 juta

  5. PP Properti (PPRO), -1,22%, ke Rp 81, transaksi Rp 679 juta

  6. Lippo Karawaci (LPKR), -0,98%, ke Rp 202, transaksi Rp 802 juta

  7. Pakuwon Jati (PWON), -0,96%, ke Rp 515, transaksi Rp 1 M

  8. Surya Semesta Internusa (SSIA), -0,87%, ke Rp 454, transaksi Rp 20 M

  9. Agung Podomoro Land (APLN), -0,64%, ke Rp 156, transaksi Rp 169 juta

  10. Alam Sutera Realty (ASRI), -0,52%, ke Rp 193, transaksi Rp 278 juta

  11. Intiland Development (DILD), 0,00%, ke Rp 185, transaksi Rp 105 juta

Berdasarkan data di atas, dari 11 saham emiten properti yang diamati, 10 saham melorot ke zona pelemahan, sementara 1 saham sisanya masih belum bergerak atau stagnan.

Adapun saham SMRA menjadi yang paling turun di antara yang lainnya, yakni sebesar 2,08% ke Rp 940/saham. Pada hari sebelumnya, SMRA berhasil melonjak 3,78% ke Rp 960/saham.

Praktis, dengan ini saham SMRA hanya menghijau sekali dalam sepekan, atau mengalami koreksi selama 4 hari beruntun. Alhasil, dalam 7 hari terakhir saham ini melorot 1,57%.

Kinerja keuangan SMRA sepanjang tahun lalu memang tertekan. SMRA mencatatkan penurunan laba bersih 65% pada tahun 2020 menjadi Rp 179,83 miliar. Pada tahun sebelumnya, perseroan mencatatkan perolehan laba bersih Rp 514,98 miliar.

Namun demikian, perseroan mencatatkan penurunan beban pokok penjualan dan beban langsung menjadi Rp 2,73 triliun dari sebelumnya Rp 3,09 triliun. Sehingga, laba kotor SMRA menjadi Rp 2,29 triliun dari sebelumnya Rp 2,84 triliun.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan SMRA, penurunan laba bersih ini imbas dari menurunnya penjualan bersih perseroan sebesar 15,34% menjadi Rp 5,02 triliun dari sebelumnya Rp 5,94 triliun.

Di posisi kedua, saham CTRA juga ambles 1,72% ke Rp 1.140/saham. Sama seperti SMRA, Senin (10/5/2021) kemarin saham CTRA melonjak 4,50% ke Rp 1.160/saham.

Sebelum Senin, saham CTRA juga terplenating selama 3 hari beruntun atau sejak Kamis (5/5). Ini membuat kinerja saham CTRA dalam sepekan turun 1,30%.

Adapun kinerja keuangan CTRA 2020 membukukan hasil yang positif, meskipun ada Pandemi Covid-19 sepanjang tahun lalu.

Menurut laporan keuangan 2020 perusahaan di website Bursa Efek Indonesia (BEI), laba bersih perusahaan naik 14,05% menjadi Rp 1,32 triliun per 31 Desember 2020, dari laba bersih Rp 1,16 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

Kenaikan laba bersih ini diiringi dengan tumbuhnya pendapatan perusahaan sebesar 6,07% dari Rp 7,61 triliun pada 2019 menjadi Rp 8,07 triliun pada tahun lalu.

Tidak hanya SMRA dan CTRA, saham pengelola kota swasta BSD City, BSDE, juga turun ke zona merah, yakni 1,25% ke Rp 1.185/saham. Sebelumnya, saham ini ditutup naik 2,13% ke Rp 1.185/saham.

Per kuartal I 2021, emiten Grup Sinarmas ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 588,29 miliar pada periode kuartal pertama tahun ini.

Perolehan tersebut naik 127% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 259,54 miliar. Kenaikan ini berimbas pada meningkatnya laba per saham dasar menjadi Rp 28,13 per saham dari sebelumnya Rp 13,67 per saham.

Kenaikan laba ini sejalan dengan kenaikan pendapatan usaha BSDE sebesar 12% dari sebelumnya Rp 1,49 triliun menjadi Rp 1,66 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading