Dow Futures Menguat, Memperlebar Peluang Cetak Rekor Baru

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
10 May 2021 18:48
Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S., November 12, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin (10/5/2021), membuka peluang terbentuknya aksi cetak rekor tertinggi baru.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average naik 109 poin dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq kompak menguat, masing-masing sebesar 0,1% dan 0,3%.

Harga kontrak berjangka minyak mentah dunia menguat setelah serangan siber melumpuhkan fasilitas pemipaan di AS. Colonial Pipeline, yang mengoperasikan sistem pipa sepanjang 5.500 mil terpaksa menunda pengiriman BBM dari Pesisir Teluk Meksiko ke New York.


Saham energi pun melesat di sesi pra pembukaan, seperti misalnya Marathon Oil, Occidental Petroleum dan Devon Energy. Saham Chevron melesat 1% , diikuti saham Exxon. Saham perusahaan penyedia jasa pengamanan siber pun menguat, seperti FireEye yang melesat 6%.

Namun, saham teknologi secara umum tertekan. Tesla drop 1%. Oracle kehilangan 1% setelah Barclays menurunkan proyeksinya atas saham perseroan. Facebook dan Alphabet (induk usaha Google) juga melemah setelah rating saham-nya dipangkas oleh Citigroup.

Pekan lalu, Dow Jones melesat 2,7% sementara S&P 500 melambung 1,2% menyentuh rekor tertinggi masing-masing. Sementara itu, Nasdaq tertekan 1,5%.

Pemicunya adalah data tenaga kerja April yang jauh lebih lemah dari ekspektasi, dengan hanya 266.000 gaji baru atau jauh dari ekspektasi dalam polling Dow Jones yang memperkirakan 1 juta slip gaji baru. Pasar pun bertaruh bahwa kebijakan moneter ekstra longgar bakal dipertahankan.

Mike Wilson, Kepala Perencana Saham Morgan Stanley, menilai pelaku pasar sudah memfaktorkan pembukaan ekonomi di tengah penurunan kasus Covid-19 dalam reli kemarin. Kabar apapun yang membalikkan ekspektasi itu akan memukul pasar saham.

"Kita melihat pertarungan antara ekspektasi dan realitas di mana pasar sekarang memfaktorkan pembukaan ekonomi. Berdasarkan basis kumulatif, penjualan ritel sudah melampaui angka sebelum adanya Covid," tulis Wilson seperti dikutip CNBC International.

Pelaku pasar akan memantau rilis data inflasi. Investor khawatir bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal dipaksa untuk mengubah kebijakan uang longgarnya menjadi lebih ketat, demi mengendalikan inflasi yang bisa membahayakan pemulihan ekonomi nanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading