Jeblok 1% Lebih, Kurs Dolar Australia Dekati Rp 11.000/AU$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 May 2021 15:13
Ilustrasi dolar Australia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia jeblok lebih dari 1% melawan rupiah pada perdagangan Kamis (6/5/2021) mendekati lagi level psikologis Rp 11.000/AU$. Hubungan Australia dengan China yang memanas membuat dolar Australia jeblok.

Melansir data Refinitiv, dolar Australia jeblok 1,05% ke Rp 11.061,77/AU$ yang merupakan level terendah sejak 12 April lalu. Posisi dolar Australia sedikit membaik, berada di Rp 11.096,99/AU$ pada pukul 14:33 WIB, melemah 0,73%.

Hubungan Australia-China tengah memanas sejak tahun lalu akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Australia mendukung investigasi terkait asal-usul virus corona, yang sebelumnya diisukan berasal dari laboratorium di China.


Kini China dilaporkan menghentikan perundingan ekonomi dengan Australia. Hal tersebut dikatakan berdampak buruk bagi dolar Australia. Maklum saja, China merupakan mitra dagang utama Australia dan pengimpor komoditas terbesar.

"Saat pemerintah China mengumumkan sesuatu yang berdampak pada memburuknya hubungan dengan Australia akan berdampak negatif bagi outlook ekspor, dan tentunya dolar Australia," kata Sean Callow, ahli strategi di Wespac Banking Corp di Sydney, sebagaimana dilansir Bloomberg, Kamis (6/5/2021).

"Anjloknya dolar Australia sedikit mengejutkan, tetapi menjadi hal yang bagus untuk mengukur sentimen pasar" tambahnya.

Analis lain mengatakan China saat ini sedang berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap komoditas asal Australia.

"China sedang berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap supplier utama seperti Australia, kabar terbaru menjadi salah satu contohnya," kata Kyle Rodda, analis di IG Markets Ltd, sebagaimana dilansir Bloomberg.

Selain itu dolar Australia sedang terluka setelah kemarin bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) memberikan proyeksi optimistis terhadap pemulihan ekonomi, tetapi menegaskan belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Gubernur RBA, Philip Lowe, mengatakan perekonomian Australia bangkit dengan kuat setelah mengalami kemerosotan akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).
Lowe mengatakan RBA melihat produk domestik bruto (PDB) akan tumbuh 4,75% di tahun ini, dan 3,5% di tahun 2022.

"Pemulihan ekonomi di Australia lebih kuat dari perkiraan dan kami perkirakan akan terus berlanjut," kata Lowe, sebagaimana dilansir news.com.au, Selasa (4/5/2021).
Meski demikian, Lowe sekali lagi menegaskan suku bunga tidak akan dinaikkan sampai inflasi mencapai target 2% hingga 3%.

"RBA tidak akan menaikkan suku bunga sampai inflasi secara substansial mencapai target 2% hingga 3%. Agar hal tersebut tercapai, pasar tenaga kerja perlu lebih ketat dan menghasilkan pertumbuhan upah yang lebih tinggi dari saat ini,"

"Hal itu tidak akan terjadi hingga tahun 2024" tegasnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading