Rating Nyaris Default! Duh Sritex Mulai Sulit Akses Dana Bank

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 May 2021 14:42
Dok.Instagram Sritex

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen emiten tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) menjelaskan latar belakangan soal penurunan rating Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) menjadi RD (Restricted Default) dari sebelumnya C yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat global Fitch Ratings.

Rating Restricted Default ini adalah peringkat utang yang satu tingkat di atas D, alias default.

Allan Moran Severino, Direktur Keuangan SRIL, dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan perseroan telah mengirim surat kepada facility agent terkait dengan kesediaan perseroan untuk membayar biaya bunga tersebut dengan permintaan persyaratan di mana perseroan menunggu konfirmasi sebelum perseroan membayar.


Hanya saja, sampai saat ini perseroan belum mendapatkan konfirmasi tersebut dari facility agent.

"Fitch Ratings sudah menurunkan rating kami menjadi RD," katanya dalam surat keterbukaan informasi BEI, Kamis (6/5/2021).

BEI pun bertanya soal strategi SRIL untuk memenuhi kewajiban yang dimaksud yakni membayar bunga sehingga Fitch tidak menurunkan hasil pemeringkatan. Alan menjawab pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Fitch Ratings dan masih menunggu konfirmasi dari facility agent.

Hanya saja, dampak dari penurunan hasil pemeringkatan RD terhadap keuangan adalah perseroan kesulitan dalam mendapatkan fasilitas perbankan dan pasar keuangan.

Dampak operasional yakni mempengaruhi kegiatan operasional karena terbatasnya pendanaan. "Sementara dampak hukum adalah dapat terjadi tuntutan percepatan pembayaran dan dampak kelangsungan usaha yakni tergantung pada dampak-dampak di atas," kata Alan.

Sebelumnya Fitch Ratings menurunkan Peringkat Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) Sritex menjadi RD dari sebelumnya C.

Pada saat yang sama, Fitch Ratings Indonesia menurunkan Peringkat Nasional Jangka Panjang Sritex menjadi RD (idn) dari sebelumnya C (idn).

Fitch juga menegaskan kembali peringkat utang dolar AS Sritex yang belum jatuh tempo di posisi 'C' dengan Recovery Rating 'RR4'.

Sritex tidak memenuhi pembayaran bunga jatuh tempo sekitar US$ 850.000 atau setara dengan Rp 11,9 miliar (kurs US$ 1 = Rp 14.000) atas pinjaman sindikasi senilai US$350 juta atau Rp 4,9 triliun, yang jatuh tempo 23 April 2021. Sementara itu, bank tidak melakukan rollover (memperpanjang jatuh tempo) pinjaman revolver yang jatuh tempo pada hari yang sama.

Informasi saja, pinjaman revolver/revolving secara sederhana merupakan fasilitas pinjaman jangka pendek yang dapat diperpanjang.

Penurunan rating ini terjadi setelah berakhirnya cure period 5 hari kerja sejak 23 April 2021, setelah Sritex tidak melakukan pembayaran bunga atas pinjaman sindikasi perusahaan.

Dilansir dari ensiklopedia ekonomi, cure period merupakan jangka waktu yang diberikan kepada pihak yang gagal memenuhi kewajiban tertentu dan mencoba memperbaikinya. Contohnya, ketika suatu perusahaan membayar bunga suatu pinjaman.

Peringkat Nasional 'RD' mencerminkan penerbit mengalami gagal bayar obligasi tanpa jaminan, pinjaman atau kewajiban keuangan material lainnya tetapi belum mengajukan kebangkrutan, administrasi, penerimaan, likuidasi atau prosedur penutupan formal lainnya, dan yang tidak berhenti beroperasi.

Dalam kamus Fitch, rating RD berada tepat di atas rating D atau default (wanprestasi) alias gagal bayar.

Fitch menggarisbawahi sejumlah faktor-faktor penggerak peringkat Sritex.

Pertama, kegagalan Sritex dalam membayar bunga pinjaman sindikasi dalam cure period yang berakhir pada 30 April lalu. Fitch mencatat, hal tersebut merupakan peristiwa gagal bayar berdasarkan perjanjian pinjaman.

"Oleh karena itu, bank dapat memutuskan untuk mempercepat pembayaran pinjaman, kendati hal ini memerlukan persetujuan dari mayoritas pemberi pinjaman, yang terdiri dari setidaknya 66,67% dari jumlah outstanding," jelas Fitch dalam keterangan tertulis.

Adapun, utang dengan jumlah pokok sebesar US$ 10 juta (Rp 145 miliar) atau lebih yang dinyatakan telah jatuh tempo dan terutang juga merupakan peristiwa gagal bayar berdasarkan dokumen obligasi milik Sritex.

Kedua, terkait proses negosiasi restrukturisasi utang. Sritex sedang melanjutkan diskusi dengan pemberi pinjaman, mengingat perusahaan bergantung pada akses pendanaan untuk melanjutkan bisnis yang membutuhkan persyaratan modal kerja yang tinggi.

Sritex menunjuk Helios Capital dan Assegaf Hamzah & Partners sebagai penasihat keuangan dan hukum perusahaan untuk melakukan negosiasi restrukturisasi utang. Pada saat yang sama, perusahaan sedang melakukan negosiasi dengan para pemegang obligasi.

Ketiga, mengenai proses hukum dan moratorium utang. Sritex dan anak perusahaannya sedang dalam proses berbagai proses hukum.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading