Duh Gagal Bayar Bunga! Rating Fitch Sritex Nyaris Default

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
05 May 2021 16:28
Ilustrasi Logo Sritex. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings menurunkan Peringkat Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) emiten tekstil dan garmen PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex menjadi RD (Restricted Default) dari sebelumnya C.

Rating Restricted Default ini adalah peringkat utang yang satu tingkat di atas default.

Mengutip siaran resmi Fitch, Selasa (4/5/2021), pada saat yang sama, Fitch Ratings Indonesia menurunkan Peringkat Nasional Jangka Panjang Sritex menjadi RD (idn) dari sebelumnya C (idn).

Fitch juga menegaskan kembali peringkat utang dolar AS Sritex yang belum jatuh tempo di posisi 'C' dengan Recovery Rating 'RR4'.


Sritex tidak memenuhi pembayaran bunga jatuh tempo sekitar US$ 850.000 atau setara dengan Rp 11,9 miliar (kurs US$ 1 = Rp 14.000) atas pinjaman sindikasi senilai US$350 juta atau Rp 4,9 triliun, yang jatuh tempo 23 April 2021. Sementara itu, bank tidak melakukan rollover (memperpanjang jatuh tempo) pinjaman revolver yang jatuh tempo pada hari yang sama.

Informasi saja, pinjaman revolver/revolving secara sederhana merupakan fasilitas pinjaman jangka pendek yang dapat diperpanjang.

Penurunan rating ini terjadi setelah berakhirnya cure period 5 hari kerja sejak 23 April 2021, setelah Sritex tidak melakukan pembayaran bunga atas pinjaman sindikasi perusahaan.

Dilansir dari ensiklopedia ekonomi, cure period merupakan jangka waktu yang diberikan kepada pihak yang gagal memenuhi kewajiban tertentu dan mencoba memperbaikinya. Contohnya, ketika suatu perusahaan membayar bunga suatu pinjaman.

Peringkat Nasional 'RD' mencerminkan penerbit mengalami gagal bayar obligasi tanpa jaminan, pinjaman atau kewajiban keuangan material lainnya tetapi belum mengajukan kebangkrutan, administrasi, penerimaan, likuidasi atau prosedur penutupan formal lainnya, dan yang tidak berhenti beroperasi.

Dalam kamus Fitch, rating RD berada tepat di atas rating D atau default (wanprestasi) alias gagal bayar.

Faktor pemicu

Fitch menggarisbawahi sejumlah faktor-faktor penggerak peringkat Sritex.

Pertama, kegagalan Sritex dalam membayar bunga pinjaman sindikasi dalam cure period yang berakhir pada 30 April lalu.

Fitch mencatat, hal tersebut merupakan peristiwa gagal bayar berdasarkan perjanjian pinjaman.

"Oleh karena itu, bank dapat memutuskan untuk mempercepat pembayaran pinjaman, kendati hal ini memerlukan persetujuan dari mayoritas pemberi pinjaman, yang terdiri dari setidaknya 66,67% dari jumlah outstanding," jelas Fitch dalam keterangan tertulis, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (5/5/2021).

Adapun, utang dengan jumlah pokok sebesar US$ 10 juta (Rp 145 miliar) atau lebih yang dinyatakan telah jatuh tempo dan terutang juga merupakan peristiwa gagal bayar berdasarkan dokumen obligasi milik Sritex.

Kedua, terkait proses negosiasi restrukturisasi utang. Sritex sedang melanjutkan diskusi dengan pemberi pinjaman, mengingat perusahaan bergantung pada akses pendanaan untuk melanjutkan bisnis yang membutuhkan persyaratan modal kerja yang tinggi.

Sritex menunjuk Helios Capital dan Assegaf Hamzah & Partners sebagai penasihat keuangan dan hukum perusahaan untuk melakukan negosiasi restrukturisasi utang. Pada saat yang sama, perusahaan sedang melakukan negosiasi dengan para pemegang obligasi.

Ketiga, mengenai proses hukum dan moratorium utang. Sritex dan anak perusahaannya sedang dalam proses berbagai proses hukum.

Sebut saja, suatu perusahaan konstruksi mengajukan gugatan terhadap Sritex dan anak perusahaan terkait moratorium utang yang diawasi pengadilan, atau yang dikenal sebagai PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang), yang dijadwalkan untuk keputusan di Pengadilan Niaga pada Kamis (6/5/201).

Selain itu, anak usaha Sritex, Golden Legacy Pte Ltd, juga mengajukan permohonan moratorium pembayaran berdasarkan Pasal 64 (1) Insolvency, Restructuring and Dissolution Act atau undang-udang mengenai Tindakan Kepailitan, Restrukturisasi dan Pembubaran di Singapura.

Permohonan moratorium ini terkait dengan obligasi senilai US$ 150 juta atau Rp 2,18 triliun. Informasi saja, Golden Legacy Pte Ltd adalah penerbit obligasi perusahaan yang jatuh tempo pada tahun 2024.

Keempat, soal indikator enviromental, social, and governance (ESG) atau lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Sritex memiliki Skor Relevansi ESG 4 untuk Strategi Manajemen dan Struktur Tata Kelola. Ini seiring adanya penundaan dalam memenuhi perpanjangan fasilitas utang Sritex, yang memberi tekanan pada profil kredit perseroan mengingat meningkatnya risiko pembiayaan kembali (refinancing risks).

"Hal tersebut berdampak negatif pada profil kredit, dan juga berkaitan dengan peringkat perusahaan sehubungan dengan faktor-faktor lain," jelas Fitch.

Mengenai sensitivitas rating, Fitch akan menilai kembali struktur permodalan Sritex setelah restrukturisasi utangnya selesai.

Selain itu, Fitch selanjutnya akan menurunkan peringkat ke 'D' (default) jika Sritex terlibat dalam proses kebangkrutan, administrasi, penerimaan, likuidasi, atau prosedur penutupan resmi lainnya atau jika ia menghentikan operasinya.

Sebelumnya, pada 26 April 2021, Fitch menurunkan peringkat Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) Sritex menjadi C dari sebelumnya CCC-.

Penurunan peringkat tersebut seiring perseroan tidak memenuhi pembayaran bunga jatuh tempo 23 April 2021 atas pinjaman sindikasi perusahaan.

Menurut penjelasan para analis Fitch di dalam laporannya tersebut, peringkat Nasional C menunjukkan proses default atau menuju default telah dimulai.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading