Suku Bunga di Jepang Minus 0,1%, BoJ Bakal Pangkas Lagi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 May 2021 13:36
Bendera Jepang Terlihat di Atas Bank of Japan di Tokyo, Jepang pada 21 September 2016 (REUTERS/Toru Hanai)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) hari ini, Kamis (6/5) menunjukkan para anggota dewan sepakat mempertahankan suku bunga di level terendah, sementara perekonomian masih tertekan akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Rilis notula tersebut bisa dikatakan kurang update, sebab merupakan detail dari rapat kebijakan moneter bulan Maret lalu, sementara BoJ sudah melakukan rapat kebijakan moneter lagi di bulan April.

Meski demikian, rilis notula tersebut tetap menunjukkan hal yang menarik. Satu anggota dewan BoJ mengatakan saat ini risiko terjadinya deflasi lebihg besar ketimbang inflasi, sebab ekspektasi kenaikan upah yang masih lemah.


"Beberapa anggota dewan mengatakan program vaksinasi memberikan tanda-tanda positif, tetapi perkembangan pandemi tetap membutuhkan perhatian," tulis notula BoJ, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (6/5/2021).

BoJ saat itu tetap mempertahankan suku bunga acuan -0,1%, dan kebijakan yield curve control yang mempertahankan yield obligasi tenor 10 tahun di dekat 0%.

BoJ pertama kali menerapkan suku bunga negatif pada Januari 2016, artinya sudah lebih dari 5 tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mencapai target inflasi 2%.

Sayangnya, BoJ masih belum mencapai target tersebut, bahkan inflasi di Jepang malah diprediksi akan lebih rendah lagi akibat pandemi Covid-19.

Dalam outlook terbaru yang diberikan April lalu, BoJ memproyeksikan inflasi inti di tahun fiskal 2021 yang dimulai bulan ini sebesar 0,1%, turun jauh ketimbang proyeksi yang diberikan bulan Januari lalu sebesar 0,5%. Penurunan proyeksi inflasi tersebut terjadi akibat pandemi Covid-19 yang melanda Jepang, bahkan memburuk lagi belakangan ini.

Inflasi inti di tahun fiscal 2022 diperkirakan sebesar 0,8% dan tahun selanjutnya 1%. Artinya suku bunga negatif di Jepang masih akan bertahan untuk waktu yang lama, bahkan ada peluang diturunkan lebih dalam lagi.

"Perekonomian Jepang akan pulih, meski tingkat aktivitasnya akan lebih rendah dari sebelum pandemi Covid-19," tulis BoJ dalam keterangan usai pengumuman kebijakan moneter, sebagaimana dikutip Reuters.

"Kami akan melonggarkan kebijakan moneter lebih jauh tanpa ragu jika diperlukan, jika dampak dari pandemi semakin memburuk."

Artinya ada kemungkinan suku bunga -0,1% diturunkan lebih dalam lagi. Apalagi dengan kondisi saat ini, dimana kasus Covid-19 kembali meningkat.

Per 5 Mei 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di Negeri Sakura adalah 612.360 orang. Bertambah 4.734 orang dari hari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir, rata-rata tambahan pasien positif adalah 5.062 orang per hari. Melonjak dibandingkan rerata 14 hari sebelumnya yaitu 3.709 orang per hari.

Perkembangan ini membuat pemerintah tengah mempertimbangkan untuk memperpanjang status darurat di Ibu Kota Tokyo dan sejumlah daerah lain seperti Osaka, Kyoto, dan Hyogo.

Hal tersebut tentunya memperlambat pemulihan ekonomi, bahkan berisiko semakin tertekan, sehingga kekhawatiran akan terjadinya deflasi akan semakin meningkat. Jika itu terjadi, BoJ kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga negatif menjadi lebih dalam lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading