PMI Manufaktur Cetak Rekor & Inflasi Naik, Rupiah kok Keok?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 May 2021 13:02
An employee counts U.S. dollar banknotes at a currency exchange office in Jakarta, Indonesia October 23, 2018. Picture taken October 23, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/5/2021), padahal data dari dalam negeri cukup bagus. Meski demikian, ada peluang untuk menguat di sisa perdagangan hari ini.

Melansir data Refintiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan Rp 14.440/US$. Setelahnya, rupiah melemah hingga 0,21% ke Rp 14.470/US$. Rupiah berhasil memangkas pelemahan dan berada di Rp 14.460/US$ pada pukul 12.00 WIB.

Tanda-tanda rupiah berpeluang menguat melihat pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang lebih kuat dibandingkan dengan beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.


PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 11:54 WIB
1 PekanRp14.458,50Rp14.450,5
1 BulanRp14.466,00Rp14.484,0
2 BulanRp14.526,00Rp14.539,0
3 BulanRp14.582,00Rp14.599,0
6 BulanRp14.753,00Rp14.774,0
9 BulanRp14.909,00Rp14.942,0
1 TahunRp15.129,00Rp15.121,0
2 TahunRp15.769,00Rp15.832,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Pagi tadi, IHS Markit pagi ini melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia yang tercermin dari purchasing managers' index (PMI) bulan April melesat menjadi 54,6 yang merupakan rekor tertunggu sepanjang sejarah, melewati rekor sebelumnya 53,2 yang dicapai pada bulan Maret.

Itu artinya sektor manufaktur mencatat rekor dalam 2 bulan beruntun, menjadi kabar baik bagi perekonomian Indonesia.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi inflasi 0,13% pada April 2021 dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sementara dibandingkan April 2020 (year-on-year/yoy), inflasi ada di 1,42%. Meski demikian, inflasi inti dilaporkan 1,18% YoY lebih rendah dari sebelumnya 1,21% YoY. 

Realisasi ini tidak jauh dibandingkan perkiraan pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi secara bulanan sebesar 0,165% dan tahunan 1,45%.
Meski demikian sentimen pelaku pasar yang kurang bagus akibat kasus penyakit virus corona (Covid-19) di India yang membuat rupiah tertekan.

India kini menjadi hotspot baru penyebaran Covid-19, dan menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua di dunia. Mengutip Worldometers, India mencatat 402.110 kasus baru per Sabtu (1/5/2021). Ini merupakan rekor paling baru, dari rentetan rekor kasus lain di sepekan lebih ini.

Lonjakan kasus di India terjadi setelah dilakukan festival agama serta kampanye politik yang menimbulkan kerumunan. Indonesia kini mulai was-was, sebab di akhir pekan lalu terjadi kerumunan di pasar Tanah Abang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading