Analisis

Cek! Getol Divestasi, Begini Kinerja 11 Saham Grup Lippo

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
27 April 2021 08:15
Doc.Multipolar/via Detik

Jakarta, CNBC Indonesia - Entitas induk Grup Lippo PT Multipolar Tbk (MLPL) baru-baru ini menuntaskan divestasi atau penjualan 11,9% saham kepemilikan di anak usahanya PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

Pengurangan porsi saham Multipolar ini diiringi oleh rumor pasar soal masuknya raksasa jasa ride-hailing Tanah Air, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias Gojek, ke saham pengelola gerai Hypermart tersebut.

Sumber pasar menyebutkan, di samping investor lainnya, Gojek juga menyerap sejumlah porsi dari 11,9% saham MLPL di MPPA. Namun, pihak MPPA dan MLPL akhirnya memberikan keterangan resmi terkait spekulasi pasar tersebut, kendati tidak menjelaskan apakah investor yang masuk itu afiliasi Gojek atau bukan. Pihak Gojek pun tidak memberikan komentar ketika dikonfirmasi.


Lantas, seiring dengan kabar divestasi saham tersebut, bagaimana kinerja saham-saham emiten Grup Lippo dalam sebulan dan secara year to date (Ytd)?

Di bawah ini Tim Riset CNBC Indonesia akan menyajikan tabel mengenai gerak sejumlah saham yang terafiliasi dengan Grup Lippo, mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin (26/4/2021).

Berdasarkan tabel di atas, dari 11 saham yang diamati, delapan saham mencatatkan kinerja yang moncer, sedangkan tiga sisanya mencatatkan pertumbuhan harga yang negatif dalam sebulan maupun Ytd.

Adapun saham pengelola gerai Hypermart dan Foodmart, MPPA, menjadi saham Grup Lippo dengan kenaikan tertinggi dibandingkan saham lainnya.

Saham MPPA melesat sejauh 267,52% dalam sebulan terakhir. Tidak hanya itu, sejak awal tahun saham ini sudah meroket 718,05%.

Dengan gerak saham yang 'liar' ini, terbaru BEI mengganjar saham MPPA dengan suspensi mulai sesi I perdagangan Jumat (23/4) pekan lalu.

Saham MPPA memang mengalami lonjakan harga yang signifikan akhir-akhir ini. Dalam sepekan terakhir saham ini melesat 21,99%. Sementara dalam sebulan terakhir MPPA melejit sebesar 273,91%.

Dengan ini, saham MPPA sudah dua kali disuspensi oleh pihak bursa.

BEI juga telah 'menggembok' saham emiten yang melantai di bursa sejak 1992 ini pada 12-13 April, seiring terjadinya kenaikan harga saham yang signifikan.

Sebelum disuspensi pada 12 April lalu, pada 6 April 2021 otoritas bursa juga telah memberikan peringatan terkait peningkatan harga di luar kebiasaan atau unusual market activity (UMA) saham MPPA.

Kemudian, menanggapi surat peringatan BEI atas UMA saham perusahaan, pada 8 April, manajemen menyebut perusahaan sudah menyampaikan informasi material pada 7 April terkait rencana rights issue perseroan.

Saat ini MPPA berencana untuk melakukan peningkatan modal ditempatkan perseroan melalui mekanisme penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue bagi seluruh pemegang saham perseroan.

Pelaksanaan HMETD tersebut direncanakan akan dilakukan selambatnya pada Agustus 2021. Adapun jumlah maksimum HMETD serta persyaratan sehubungan HMETD akan disampaikan kemudian sesuai dengan jadwal pelaksanaan HMETD.

Selain itu, menjawab pemberitaan di media massa soal kenaikan harga saham beberapa emiten ritel, termasuk MPPA, jelang Ramadan, manajemen menyampaikan bahwa saat ini sedang dalam tahapan yang intens untuk mempersiapkan bisnis ritel perusahaan, baik offline dan online, untuk menyambut bulan puasa tahun ini.

Sebenarnya, kenaikan harga saham MPPA yang luar biasa tersebut berbanding terbalik dengan kinerja keuangannya.

Menurut laporan keuangan perusahaan per kuartal III 2020, MPPA mencatatkan rugi bersih Rp 332,40 miliar, lebih jeblok dari raihan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 265,78 miliar.

Seiring dengan rugi bersih, pendapatan MPPA pun tergerus 22,91% dari Rp 6,64 triliun pada triwulan III 2019 menjadi Rp 5,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

NEXT: Nasib Saham Lainnya

Divestasi MPPA dan MFMI
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading