Merananya India: Covid Meledak, Oksigen Tipis & RS Terbakar

Market - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
24 April 2021 15:05
A COVID-19 patient waits inside an ambulance to be attended to and admitted into a dedicated COVID-19 government hospital in Ahmedabad, India, Thursday, April 22, 2021. A fire killed 13 COVID-19 patients in a hospital in western India early Friday as an extreme surge in coronavirus infections leaves the nation short of medical care and oxygen. India reported another global record in daily infections for a second straight day Friday, adding 332,730 new cases. The surge already has driven its fragile health systems to the breaking point with understaffed hospitals overflowing with patients and critically short of supplies. (AP Photo/Ajit Solanki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penderitaan India yang terpukul parah akibat pandemi Covid-19 seakan tidak ada habisnya. Berbagai macam problematika mulai terjadi, mulai dari angka penambahan kasus harian yang memecahkan rekor global, pasokan oksigen yang mulai tipis, rumah sakit Covid yang terbakar, hingga tes PCR yang tidak akurat.

Infeksi harian mencapai 332.730 pada hari Jumat (23/4/2021), naik dari 314.835 hari sebelumnya ketika negara mencetak rekor baru penambahan kasus harian globa. Angka ini melampaui jumlah infeksi harian terbanyak sebelumnya yang pernah disandang Amerika Serikat dengan 297.430 kasus baru.

Sementara itu mengenai oksigen, dilaporkan bahwa beberapa fasilitas kesehatan mengalami pasokan oksigen yang menipis. Di ibukota New Delhi rumah sakit pemerintah melaporkan mereka hanya memiliki cukup oksigen untuk bertahan delapan hingga 24 jam lagi sementara beberapa rumah sakit swasta hanya memiliki cukup oksigen hanya untuk empat atau lima jam.


"Kami menghadapi masalah besar dalam pasokan oksigen, tetapi entah bagaimana kami bisa mengatasinya. Kemarin, sangat kritis. Kami hanya memiliki empat hingga lima jam oksigen di malam hari, "kata Ronit Kumar, kepala Teknik Biomedis di Fortis Escorts Heart Institute.

Di rumah sakit swasta lainnya, menipisnya oksigen ini juga dikeluhkan. Sebuah sumber di mengatakan staf mengalami "malam yang gila" karena mereka kekurangan oksigen tetapi dua truk tangki oksigen akhirnya tiba setelah tengah malam. Rumah sakit memiliki 12 hingga 14 jam oksigen tersisa untuk 200 pasien yang bergantung padanya, sumber itu menambahkan.

Permasalahan oksigen makin diperparah dengan sebuah insiden bocornya tangki oksigen di rumah sakit umum di negara bagian Maharashtra. Dalam insiden itu setidaknya 22 pasien meninggal dunia.

"Tangki oksigen bocor saat mengisi ulang, dan itu menyebabkan kematian 22 pasien," Suraj Mandhare, seorang pejabat di distrik Nashik di Maharashtra, mengatakan kepada Reuters, menambahkan bahwa rumah sakit itu merawat pasien Covid-19.

Di level apotek, para pedagang juga mengaku kewalahan dalam melayani jumlah pembeli obat yang sangat banyak dengan pasokan yang terus menipis.

"Saya merasa sangat tidak berdaya," kata Jasvinder Pal Singh, pemilik apotek di ibu kota New Delhi.

"Orang-orang menangis, mereka meminta saya untuk berobat, dan saya berkata 'tidak, tidak dan tidak'."

Selain itu, fasilitas kesehatan dipaksa harus terus beroperasi sehingga pengawasan seringkali dilupakan dan mengakibatkan kecelakaan yang fatal..

Pada Jumat (23/4/2021) sebuah rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 di Mumbai dilaporkan terbakar dan menewaskan 13 pasien.

"Dua belas orang tewas dalam kebakaran itu, menurut informasi yang kami miliki sekarang," kata seorang petugas pemadam kebakaran tentang kobaran api yang dimulai di unit perawatan kritis rumah sakit Vijay Vallabh di pinggiran kota Mumbai.

Sebuah lahan kosong diubah menjadi lokasi krematorium jenazah yang meninggal karena Covid-19 di New Delhi, India, AP/Foto: Sebuah lahan kosong diubah menjadi lokasi krematorium jenazah yang meninggal karena Covid-19 di New Delhi, India, AP/

Problematika Covid India tidak putus hingga disitu, belakangan dilaporkan juga beberapa hasil tes PCR yang dilakukan di negara itu tidak akurat.

Dalam laporan Hindustan Times, dilaporkan bahwa hasil yang tidak akurat itu terjadi karena mutasi ganda virus Covid-19 yang menyebar di Negeri Bollywood itu. Namun hal ini masih ditolak oleh para ahli yang mengaku bahwa fenomena ini masih diteliti dan belum dapat disimpulkan.

"Semua kemungkinan di dunia ini sedang diteliti secara berkala dan sejauh ini tidak ada mutasi yang bisa mengelabui tes genetik ganda," ujar Dr Anurag Agrawal, direktur Institut Genom dan Biomedikal Nasional.

Ia melanjutkan bahwa satu kemungkinan yang mungkin terjadi adalah pada saat virus sudah menyebar di seluruh tubuh dan sang pasien terlambat di tes, maka besar kemungkinan hasil negatif akan selalu muncul.

"Jika orang terlambat dites setelah 7 hingga 8 hari, ada kemungkinan untuk mendapatkan laporan tes negatif karena virus mungkin telah menyebar ke dalam tubuh," katanya.

Pemerintah India secara keseluruhan dianggap gagal dalam menangani pandemi Covid-19 yang menyerang negara itu. Bahkan beberapa pihak meminta agar Perdana Menteri (PM) Narendra Modi untuk mundur. Permintaan ini dilandasi oleh sikap Modi yang terlihat tidak peduli dengan penyebaran Covid-19.

Dalam sebuah momen, Modi terlihat tidak mengenakan masker pada rapat umum kampanye partainya BJP pada hari Sabtu (17/9/2021), dengan mengatakan "Saya belum pernah melihat kerumunan sebanyak itu" di sebuah acara di Benggala Barat.

Selain itu, Modi juga dianggap gagal dalam mengatasi mobilitas publik pada acara tradisi Kumbh Mela di sungai Gangga. Disaat pandemi yang masih meluas di negara itu, tradisi ini masih tetap saja terjadi dengan mengumpulkan kerumunan sebanyak 5 juta orang. Modi sendiri telah meminta acara itu dihentikan namun kerumunan yang membludak tanpa mengindahkan protokol kesehatan telah terjadi.

Saat ini kasus Covid-19 di India telah mencapai angka 16,3 juta kasus dengan 187 ribu kematian.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading