'Tsunami' Corona India, Mutan Baru Susah Dilacak dengan Tes?

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
23 April 2021 21:10
Kondisi Rumah Sakit di India (Tangkapan Layar Youtube CNBC Television)

Jakarta, CNBC Indonesia - Permasalahan yang dialami India berkaitan dengan pandemi Covid-19 seakan belum ada habisnya. Kali ini dilaporkan bahwa beberapa hasil tes PCR yang dilakukan di negara itu tidak akurat.

Dikutip Hindustan Times, dilaporkan bahwa hasil yang tidak akurat itu terjadi karena mutasi ganda virus Covid-19 yang menyebar di Negeri Bollywood itu. Namun hal ini masih ditolak oleh para ahli yang mengaku bahwa fenomena ini masih diteliti dan belum dapat disimpulkan.

"Semua kemungkinan di dunia ini sedang diteliti secara berkala dan sejauh ini tidak ada mutasi yang bisa mengelabui tes genetik ganda," ujar Dr Anurag Agrawal, direktur Institut Genom dan Biomedikal Nasional.


Ia melanjutkan bahwa satu kemungkinan yang mungkin terjadi adalah pada saat virus sudah menyebar di seluruh tubuh dan sang pasien terlambat dites, maka besar kemungkinan hasil negatif akan selalu muncul.

"Jika orang terlambat dites setelah 7 hingga 8 hari, ada kemungkinan untuk mendapatkan laporan tes negatif karena virus mungkin telah menyebar ke dalam tubuh, "katanya.

Infeksi harian mencapai 332.730 pada hari Jumat, naik dari 314.835 hari sebelumnya ketika negara mencetak rekor baru penambahan kasus harian global. Angka ini melampaui jumlah infeksi harian terbanyak sebelumnya yang pernah disandang Amerika Serikat dengan 297.430 kasus baru.

Keadaan ini diperparah dengan fasilitas kesehatan yang mulai padat. Lebih dari dua pertiga rumah sakit tidak memiliki tempat tidur kosong, menurut basis data online pemerintah Delhi dan dokter menyarankan pasien untuk tinggal di rumah.

"Kami menghadapi masalah besar dalam pasokan oksigen, tetapi entah bagaimana kami bisa mengatasinya. Kemarin, sangat kritis. Kami hanya memiliki empat hingga lima jam oksigen di malam hari, "kata Ronit Kumar, kepala Teknik Biomedis di Fortis Escorts Heart Institute sebagaimana dilaporkan Reuters.

Di level apotek, para pedagang juga mengaku kewalahan dalam melayani jumlah pembeli obat yang sangat banyak dengan pasokan yang terus menipis.

"Saya merasa sangat tidak berdaya," kata Jasvinder Pal Singh, pemilik apotek di ibu kota New Delhi.

"Orang-orang menangis, mereka meminta saya untuk berobat, dan saya berkata 'tidak, tidak dan tidak'."

Gelombang saat ini disalahkan pada varian baru dan peristiwa penyebar super termasuk Kumbh Mela, salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia, serta kampanye politik besar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Main-Main! Corona Masih Tinggi, 6.027 Kasus Hari Ini


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading