Babak Belur & Hampir Rugi Rp 200 M di 2020, Ini Kata Bos Adhi

Market - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
21 April 2021 14:25
gedung adhi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi merusak banyak lini bisnis, termasuk juga perusahaan BUMN Karya. Segala macam strategi dilakukan supaya keuangan perusahaan tidak terperosok lebih dalam.

Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Entus Asnawi, membeberkan strategi bertahan selama pada 2020 lalu. Adhi Karya memang mengalami penurunan kinerja tahun lalu setelah laba ambles.

Berdasarkan laporan keuangan, ADHI mencetak laba bersih sebesar Rp 23,98 miliar, anjlok hingga 96% jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang mana perusahaan memperoleh keuntungan Rp 663,8 miliar. Dengan demikian laba tergerus hingga Rp 639,82 miliar dalam setahun.


Nilai keuntungan per saham juga ikut nyungsep menjadi senilai Rp 7 dari tahun sebelumnya yang senilai Rp 186.

Anjloknya laba sejalan dengan turunnya pendapatan perusahaan dari penjualan pada tahun 2020 menjadi Rp 10,8 triliun atau menyusut 29,27% secara tahunan (Year-on-year/YoY). Pendapatan perusahaan selama tahun 2019 mencapai Rp 15,3 triliun.

"Laba kotor kami coba pertahankan menghasilkan laba dengan efisiensi juga pemanfaatan sistem, terutama IT. Dari meeting sekarang virtual itu penghematan. Laba bersih gimana bisa lolos situasi 2020 kami mengelola dengan skenario planning," kata Entus dalam webinar "Mengukur Infrastruktur", Rabu (21/4/2021).

"Kalau tiga bulan gimana impact-nya, enam bulan bagaimana. Saat itu bulan Maret, sembilan bulan bagaimana. Memang skenario kami menemukan akan merugi Rp 200 miliar jika tidak melakukan apa-apa, padahal beberapa projek akan turun, top line [pendapatan] hanya Rp 10 - 11 triliun, di bawahnya rugi kami harus lakukan upaya efisiensi," lanjutnya.

Entus menjelaskan dari efisiensi ini Adhi Karya akhirnya bisa menutup beberapa pos biaya, termasuk biaya penanganan pandemi Covid-19. Ini membuat penurunan lebih besar terhadap biaya tidak langsung, sehingga pada akhirnya Adhi Karya masih bisa mencetak laba mencapai Rp 24 miliar.

Sementara dari sisi ekuitas di Adhi Karya juga turun menjadi Rp 5,57 triliun, dari Rp 6,83 triliun di tahun sebelumnya. Entus menjelaskan di 2020 perusahaan menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) untuk ketersediaan properti yang belum serah terima di tahun sebelumnya, sehingga penilaian persediaan yang mengoreksi ekuitas.

Tahun ini Adhi Karya menargetkan kontrak baru mencapai Rp 24-25 triliun, dengan kenaikan pendapatan sebesar Rp 25%-30% dari tahun 2020 lalu. Pendapatan perusahaan dipatok menjadi Rp 14 triliun di tahun ini.

Sebelumnya, dalam laporan manajemen Adhi Karya menjelaskan pandemi masih menjadi momok perseroan. Mengakibatkan kenaikan nilai tukar mata uang asing hingga menurunnya kegiatan di sektor ekonomi.

Manajemen ADHI juga mengatakan bahwa dampak bagi operasional grup masih akan terasa untuk beberapa bulan mendatang, baik itu dampak langsung maupun tidak langsung, menyebabkan beberapa proyek/penjualan baru mengalami penundaan untuk sementara waktu.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading