PHP! 2 Hari Meroket, Saham Farmasi Ambruk Lagi Gaes

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
21 April 2021 10:33
Jokowi Tinjau Vaksinasi Seniman dan Budayawan, Galeri Nasional Indonesia (Biro Pers Presiden RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat bergeliat selama 2 hari terakhir, saham emiten farmasi kembali berjatuhan pada perdagangan sesi I Rabu (21/4/2021), seakan memberi sinyal pemberi harapan palsu (PHP).

Pada perdagangan sesi I pukul 09:42 WIB, data BEI mencatat, hampir semua saham farmasi bergerak di zona merah. Hanya satu saham farmasi yang cenderung stagnan pada pagi hari ini.

Simak pergerakan harga saham emiten farmasi pada perdagangan sesi I pukul 09:42 WIB hari ini.


Tercatat pelemahan saham farmasi di posisi pertama ada saham emiten jarum suntik, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) yang ambruk 3% ke level Rp 1.940/unit pada perdagangan sesi I hari ini.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi saham IRRA pagi ini mencapai Rp 16 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 8 juta lembar saham. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 1,1 miliar.

Berikutnya di posisi kedua terdapat saham farmasi BUMN, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang ambles 2% ke posisi Rp 2.940/unit pada pukul 09:42 WIB.

Tercatat nilai transaksi saham KAEF sudah mencapai Rp 11 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 4 juta lembar saham. Investor asing juga melepas saham KAEF sebanyak Rp 1,2 miliar di pasar reguler.

Sedangkan di posisi ketiga diduduki oleh saham anak usaha Kimia Farma, PT Phapros Tbk (PEHA) yang merosot 1,92% ke Rp 1.275/unit pada pagi hari ini.

Nilai transaksi saham PEHA telah mencapai Rp 192 juta dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 359 ribu lembar saham. Hingga pukul 09:42, hanya investor lokal yang melakukan investasinya di saham PEHA.

Sementara, pelemahan paling minor pada saham farmasi pagi hari ini dibukukan oleh saham PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) yang melemah 0,32% ke Rp 1.535/unit.

Nilai transaksi saham TSPC sudah mencapai Rp 402 juta dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 263 ribu lembar saham. Asing juga tercatat menjual saham TSPC sebesar Rp 72,6 juta di pasar reguler.

Adapun saham farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KAEF) cenderung stagnan di level Rp 1.495/unit pada pagi hari ini, setelah sempat menguat 0,33% ke level Rp 1.500/unit pada pukul 09:21 WIB atau 21 menit yang lalu.

Nilai transaksi saham KLBF sudah mencapai Rp 2 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 1 juta lembar saham. Tak seperti saham farmasi lainnya, asing tercatat mengoleksi saham KLBF sebesar Rp 383 juta di pasar reguler.

Investor akhirnya merealisasikan keuntungannya di saham farmasi, setelah selama dua hari beruntun mengalami penguatan. Di lain sisi, sepertinya investor tak mau berlama-lama memegang saham farmasi, mengingat kasus lampau yang terjadi di saham farmasi, yakni kasus 'ARB' bersamaan.

Padahal, sentimen vaksinasi masih cukup positif pada hari ini, di mana kabar mengenai perkembangan vaksin di Tanah Air, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito menegaskan pihaknya terus mendukung percepatan proses penelitian hingga proses produksi vaksin Merah Putih.

Dia juga memastikan, proses penelitian yang dilakukan Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman sudah sesuai dengan tools pengembangan vaksin yang disyaratkan BPOM. Hal ini disampaikan Penny saat meninjau perkembangan vaksin Merah Putih di PT Bio Farma (Persero), Bandung (16/4/2021).

Menurut Penny, penelitian pengembangan vaksin itu harus memenuhi standar high-tech dan advance sehingga semua tahapan harus diikuti dengan hati-hati.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Subandrio menyebut, penelitian yang dilakukan pihaknya telah memasuki tahap akhir dan sesuai dengan target yang ditentukan untuk pengembangan bibit vaksin selama 12 bulan.

Eijkman saat ini dalam tahap optimasi agar produksi vaksin nanti bisa sebaik mungkin. Selain itu juga sedang dilakukan proses pengalihan vaksin dari skala R&D di laboratorium ke skala industri untuk dilakukan uji klinis.

Penny menambahkan, BPOM memperkirakan vaksin Merah Putih yang diproduksi Bio Farma sudah bisa menyelesaikan uji klinis pada semester I-2022 dan proses produksi sudah bisa dilakukan pada semester I-2022. A

Adapun vaksin Merah Putih yang dikembangkan Universitas Airlangga Bersama Biotis saat ini sudah masuk tahap preklinik dan diharapkan sudah masuk uji klinis pada kuartal IV-2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading