Naik Daun & Efek Grab Masih Terasa, Saham EMTK Lompat Tipis

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
16 April 2021 10:08
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten teknologi media milik Eddy K. Sariaatmadja, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) kembali melesat pada perdagangan sesi I Jumat (16/4/2021) hari ini.

Walaupun masih melesat, namun penguatan saham media big cap tersebut tak sekuat pada perdagangan Kamis (15/4/2021) kemarin. Penguatan saham EMTK terjadi setelah adanya kabar soal pembelian saham EMTK oleh perusahaan ride-hailing raksasa Grab.

Saham EMTK melesat 1,18% ke level Rp 2.580/unit pada perdagangan sesi I pukul 09:32 WIB hari ini. Pada perdagangan sesi I kemarin, saham EMTK bahkan melesat hingga 11% lebih.


Selama sepekan terakhir, saham EMTK telah melesat hingga 7,05%, sedangkan selama sebulan terakhir saham EMTK telah meroket hingga 19,44%. Sementara selama tahun berjalan (year-to-date/YTD), saham EMTK sudah terbang hingga 84,29%.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi saham EMTK pagi ini mencapai Rp 68 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 26 juta lembar saham. Namun, investor asing pagi ini tercatat melepas saham EMTK sebesar Rp 9,6 miliar di pasar reguler.

Melejitnya saham emiten induk saluran SCTV ini pada perdagangan kemarin, dilanjutkan melesat 1% pada hari ini terjadi seiring adanya kabar soal pembelian saham EMTK oleh perusahaan ride-hailing raksasa Grab.

Sebagai informasi, perusahaan ride-hailing yang berbasis di Singapura, Grab, diketahui sudah membeli saham EMTK.

Masuknya Grab menjadi sinyal bahwa perusahaan pembayaran digital kedua perusahaan yakni OVO dan DANA berpotensi merger guna menghadapi persaingan dengan Gopay dari Gojek dan LinkAja dari perusahaan BUMN.

"Grab yang didukung Softbank membeli saham sekitar 4% saham Emtek senilai lebih dari Rp 4 triliun (setara S$ 366 juta), dalam penjualan via private placement yang digelar Emtek baru-baru ini," kata seseorang sumber yang membantu transaksi tersebut kepada The Straits Times, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (15/4/2021).

Pada 5 April 2021, Emtek mengumumkan telah menyelesaikan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD/private placement) senilai Rp 9,3 triliun.

Adapun NAVER Corporation, mesin pencari web terbesar di Korea Selatan, dan perusahaan investasi bernama H Holdings Inc menjadi pembeli saham yang mewakili sekitar 8,4% dari modal perusahaan.

"Grab membelinya melalui H Holdings," kata orang yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Hasil dari private placement akan digunakan untuk mengembangkan bisnis serta membantu mendanai operasional sehari-hari," kata manajemen Emtek dalam pengajuan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Induk usaha televisi nasional SCTV dan Indosiar ini memang mendapatkan investor baru, yakni NAVER Corporation dan H Holdings Inc.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, tak hanya dari asing namun sejumlah investor institusi lokal juga masuk sebagai pemegang saham baru perusahaan.

Investor tersebut antara lain PT Asuransi Allianz Life Indonesia, PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR), PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, PT Elbara Perkasa dan PT Syailendra Capital.

Aksi korporasi ini dilakukan dengan menerbitkan sebanyak 4,75 miliar saham dengan harga nominal Rp 20/saham dan harga pelaksanaan Rp 1.954/saham. Sehingga dari aksi ini perusahaan mendapatkan suntikan modal baru senilai Rp 9,29 triliun.

"Dana yang diterima Perseroan setelah dikurangi biaya-biaya terkait PMTHMETD akan digunakan untuk investasi dan modal kerja untuk Perseroan dan entitas anak," tulis manajemen perusahaan, dikutip Selasa (6/4/2021).

Masuknya investor baru ini juga berdampak pada kepemilikan pemegang saham sebelumnya yang mengalami penurunan alias terdilusi, termasuk Anthoni Salim, bos grup Indofood. Kepemilikannya dari sebelumnya mencapai 9,08% terpaksa harus terdilusi menjadi 8,38%.

Lalu kepemilikan Eddy K. Sariaatmadja, sang pemilik utama Emtek, juga turun dari sebelumnya 24,90% menjadi 22,96%. Saham milik PT Adikarsa Sarana terdilusi menjadi 10,03% dari sebelumnya 11,53%.

Lalu Susanto Suwarto juga turun kepemilikannya menjadi 11,63% dari 12,61% dan Piet Yaury berkurang menjadi 8,15% dari sebelumnya 8,84%.

Kepemilikan dari The Northern Trust Company S/A Archipelago turun menjadi 7,43% dari 8,06% dan pemilikan dari PT Prima Visualindo berkuran menjadi 6,90% dari 8,14%.

Hingga saat ini, pihak Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata belum memberikan tanggapan langsung atas informasi ini dan potensi merger OVO-DANA.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading